
Kening Bimo mengerut melihat penampilan sang istri, yang kini sedang menghampirinya. Baju kokoh miliknya yang dikenakan Rara terlihat kedodoran. Lengan pendek, berubah jadi lengan 7/8 di tangannya istri itu. Apalagi Rara mengenakan sarung, membuat penampilan istri nya itu jadi sangat lucu.
Bimo yang tadinya kesal, dengan raut wajah tegang. Kini berangsur berubah, sudut bibir pria itu tertarik ke samping. Ia jadi ingin tertawa. Tapi, ditahan. Jadilah Bimo terlihat senyam senyum, menundukkan sedikit kepalanya dengan ekor mata mengawasi Rara yang memilih duduk di kursi meja makan di hadapannya.
"Jangan menertawakanku, aku juga gak mau seperti ini." Ujar Rara dengan wajah masam.
Ia tahu Bimo sedang menertawakannya. Dilihat dari ekspresi wajahnya Bimo.
"Siapa juga yang ingin menertawakanmu. Kamu kan memang sudah aneh sejak dulu." Bimo pandai sekali mencari kelemahan orang lain.
"Mau bicara apa?" Rara sedang malas berdebat. Ia merasa tubuhnya mulai tak enak. Punggung terasa ngilu, begitu juga kepala sudah mulai terasa sakit.
"Aku tahu kamu tidak menginginkan pernikahan ini. Begitu juga dengan diriku."
"Siapa bilang aku gak menginginkannya." Rara memotong cepat ucapan sang suami. Yang membuat Bimo dibuat tercengang mendengarnya.
__ADS_1
Pria yang terkejut itu kini mengangkat sedikit wajah nya menatap Rara dengan herannya.
"Bukannya kamu kemarin minta kawin dengan Ferdy? kamu kan inginnya nikah dengannya."
Rara menekuk bibirnya dengan wajah masamnya. "Itu dulu, sekarang sudah beda. Aku gak syor lagi mau nikah dengannya." Ucapnya dengan enteng. Seolah rengekan nya waktu meminta menikah dengan Ferdy, hanyalah angin lalu.
"Kau ini, kamu pikir menikah itu main-main. Kemarin merengek minta kawin dengan Ferdy dan sekarang bilang gak syor. Dan tadi main kabur."
"Emangnya paman mau mempertahankan pernikahan ini? bukannya tadi paman gak melarangku pergi?" menatap kesal Bimo yang masih menatapnya lekat. Keduanya sekarang beradu pandang.
Kedua bola mata Rara membulat mendengar ucapan suaminya itu. Ia tak percaya jikalau pamannya itu, serius menjadikannya istri.
"Kalau begitu, kenapa paman jahat padaku? kenapa paman tak pernah bersikap baik padaku? kenapa selalu marah-marah dan menatapku remeh. Apa karena aku bukan anak nya Ayah Ezra?
"Iya, itu satu poin pentingnya."
__ADS_1
"Apa...? pas dugaanku. Berarti Paman kecewa karena aku bukan keturunan orang kaya. Makanya paman sepele?"
Rara sudah mulai emosional. Dadanya terasa sesak, ngilu dan perih. Kedua matanya kini berkaca-kaca sudah.
Bimo terhenyak melihat ekspresi sedihnya Rara. Ia tak mempermasalahkan Rara yang bukan keturunan orang kaya. Ia hanya gamang saja, jikalau Rara menuruni sifat ibunya Rani.
"Bukan seperti itu, mengenai itu aku tak mempermasalahkannya." Bimo berusaha meyakinkan Rara. Ia juga merasa bersalah karena salah bicara. Tak mungkin juga ia mengatakan kalau ia takut, Rara nantinya punya kelakuan seperti ibunya.
"Jadi karena apa? karena Ferdy? Kan sudah kukatakan tadi aku gak mau sama dia lagi."
"Eemm.... Itu salah satunya. Tapi, yang buat aku gak yakin adalah kesiapanmu. Kamu masih muda. SMA saja belum lulus. Benar, kamu siap berperan sebagai istri? jadi istri itu tak mudah." Bimo terlihat serius, ia menatap dalam kedua matanya Rara. "Lihatlah kelakuanmu tadi, entah di mana salahnya. Kamu sudah ingin pergi. Kalau setiap hari kabur, balik, kabur, balik lagi. Kan capek. Aku tak ingin ada kejadian seperti itu."
TBC
Banyak like, coment vote hadiah. kita grazy up 😊🤭🙏
__ADS_1