GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
POV BIMO


__ADS_3

Seharian ini aku habiskan waktuku bekerja di kebun, setelah kepergian Bos Ezra. Karena hanya itu yang bisa ku lakukan, agar tak memikirkan masalahku terkait pernikahanku dengan Rara. Tapi, sekuat apapun aku untuk tak memikirkannya. Ia tetap muncul di pikiranku.


Sepertinya melarikan diri, bukan keputusan yang tepat dan aku malah terlihat Cemen. Seharusnya aku langsung mentalak Rara, setelah sampai di rumah. Bukannya melarikan diri seperti ini.


Besok aku akan serahkan surat pengunduran diri ini. Dan aku akan menemui Rara. Esok juga aku akan menceraikannya. Ia tak cocok jadi istriku. Ia juga terlihat tak ingin menikah denganku. Aku tak mau mengekang hidupnya. Aku hanya ingin punya istri yang dewasa. Yang setelah 9 bulan pernikahan anak kami sudah lahir dari rahimnya.


Kalau Rara tetap jadi istriku. 10 tahun menikah dengannya pun, aku tak akan bisa punya anak. Mana mau dia punya anak. Ia kan seperti ibunya Rani. Pak Ezra aja minta tambah anak, gak disetujui ibunya Rara.


Bekerja seharian ternyata melelahkan juga. Baguslah aku bisa tidur dengan nyenyak malam ini.


Hufftt..


Baru juga pukul 20.00 Wib. Aku sudah kantuk sekali.


Ku membaringkan tubuh lelahku di atas ranjang empuk. Aku pun mulai menekan tombol on hapeku. Dari tadi pagi aku menonaktifkannya.

__ADS_1


Ternyata sudah banyak panggilan tak terjawab. Ada dari pak Ezra, Zahra Dika dan beberapa karyawan dibawah pimpinanku.


Pesan yang masuk ke WA juga banyak. Tentu saja, aku penasaran dengan pesan yang dikirim Pak Ezra. Karena ada kiriman video. Aku sangat penasaran dengan video yang dikirimkan pak Ezra.


Saat aku melihat video rekaman CCTV. Di mana menampilkan kelakuan arogannya Mama Rani. Membuatku jadi cemas dan bingung. Tiba-tiba saja, aku kepikiran Rara dan sangat mengkhawatirkannya.


Aku semakin dibuat tak tenang dengan video itu. Gimana kalau Rara kembali hidup bersama dengan Ibunya Rani. Tentu anak itu akan kembali ke lembah hitam itu.


Tapi, kalau aku benar akan memperistrinya, apa aku sanggup mendidiknya?


Kenapa jadi serumit ini. Aku kenapa jadi gamang begini. Bibirnya ini mengatakan tak ingin menjadikannya istri. Tapi, aku koq berat untuk melepaskannya. Apa karena aku khawatir akan masa depannya, jikalau bersama Mama Rani. Tapi, kenapa aku jadi peduli.


"Sial.... Ini tak boleh dibiarkan."


Aku mengambil jaket kulitku dari gantungan. Turun cepat ke lantai satu. Aku mengambil kunci mobil dari gantungan yang ada di ruang makan. Mempercepat langkahku ke mobil yang terparkir di garasi.

__ADS_1


Aku tak memikirkan yang lainnya lagi. Aku akan tanyakan kebersediaannya jadi istriku. Kalau ia mau. Ia harus siap dengan konsekuensi jadi istri harus Soleha.


Perjalanan dari Kota Berastagi ke kota Medan, memakan waktu kurang lebih dua jam. Apalagi hari ini hari weekend. Jalanan pada macet. Aku yang tak sabar ingin cepat sampai, malah jadi bete dan kesal dalam perjalanan.


Kekesalanku pun bertambah berlipat-lipat. Saat sampai di rumah. Ia malah pergi jalan-jalan dengan Ezra. Sungguh keterlaluan, ku pikir ia introspeksi diri, karena ku tinggalkan. Ternyata ia malah happy- happy. Si Alan.....!


Ternyata hanya aku saja yang pusing memikirkan pernikahan ini. Ia malah senang-senang.


Baiklah Rara Putri Assegaf, permainan akan kita mulai. Aku tak akan pernah menganggap serius lagi pernikahan ini.


TBC


Sabar ya say, ini novel baru. Kalau aku langsung loncat cerita diperkebunan. Pembaca baru, nanti pada bingung. Tetap baca ya🤭😀 tinggalkan like, komentar positif vote hadiah.


Give away menanti diakhir bulan. Kita cari pemenang bulanan atau ranking umum🙂🙏

__ADS_1


__ADS_2