
Pasangan itu benar benar ketagihan. Setelah dua kali uji coba. Keduanya sudah saling mengerti dan tahu bagaimana cara membuat permainan semakin nikmat. Malam itu mereka melakukannya sebanyak 5 kali dengan jeda istirahat setengah jam dan lanjut lagi. Hingga mereka pun ketiduran menjelang pukul tiga dini hari.
Tok
Tok
Tok
"Tuan..... Non Rara...!"
Bi Sakinah terlihat mengetuk pintu kamarnya tuannya itu dengan tak tenang. Dia sangat penasaran serta was was. Kenapa majikannya belum bangun padahal sudah pukul 08.30 Wib. Biasanya juga tuannya itu dapat waktu shubuh sudah terbangun.
"Tuan... Non...!" Tok tok tok Lagi lagi Bi Sakinah mengetuk pintu itu, dan sekarang lebih keras.
"Apa mereka berkelahi dan saling membunuh atau satu mati, terus satunya lagi bunuh diri. Ya Allah.... Semoga tidak..!" Bi Sakinah bicara sendiri. Ia tahu, hubungan Bimo dan Rara di awal sudah tak baik, mana ada masalah tuannya di penjara. Terus, istrinya digoda pria lain.
"Apa keributan tadi malam adalah perkelahian. Bukan acara mencetak anak? kenapa aku malah minggat tadi malam. Harusnya aku di sini saja tidur." Pikiran Bi Sakinah semakin jauh menduga duga.
"TUAN..... TUAN BIMO .... NON RARA.....!" DOOOR. DOR... DOR... " BI Sakinah yang tak tenang itu tak hanya mengetuk pintu lagi, tapi menggedor gedor pintu itu.
Tak ada juga sahutan dari dalam. Ia sangat enggan menekan handle pintu kamar. Takut menemukan hal yang mengerikan.
Bi Sakinah semakin panik, ia perlu bantuan. Gak mungkin majikannya gak mendengar teriakkannya.
Ia menuruni anak tangga, berlari cepat menuju luar rumah. Ia akan minta bantuan pada penjaga kebun dan supirnya Bimo. Tentunya ia harus ke pos satpam.
Saat hendak keluar dari rumah. Setelah membuka pintu utama. Ia malah menabrak seseorang. Dan orang itu adalah Jenifer.
"Oouuww.. !" aduh Jenifer, bahunya yang di tabrak Bi Sakinah terasa sakit.
Jenifer sejak pukul 07.30 wib menunggu Bimo di kantor. Karena Bimo janji akan ke kantor pukul 7 pagi. Tapi, sudah satu setengah jam menunggu, Bimo tak kunjung datang ke kantor. Makanya ia mencari ke rumahnya Bimo.
"Maaf, maaf dek." Ucap Bi Sakinah tak tenang. "Ayo, ayo kita ke atas, ada yang tak beres di kamarnya tuan." Lapornya pada Jenifer
Kening Jenifer mengkerut mendengar laporan itu. Ia penasaran sekaligus bingung.
Ia pun mengikuti langkahnya Bi Sakinah yang menarik lengannya.
__ADS_1
"Emang ada apa Bi?"
"Gak tahu, sudah hampir jam 9 pagi. Penghuni kamar ini gak ada tanda tanda kehidupan." Ucapnya panik. Kini mereka berdua sudah ada di depan pintu kamarnya Bimo.
"Koq gitu?" tanya Jennifer bingung.
"Gak ngerti Dek, tadi malam. Aku memang dengar suara gaduh gitu. Seperti tercampak ke lantai, terus ada goncangan dari lantai dua. Aku mikirnya mereka pasti lagi buat anak. Tapi, koq jam segini belum bangun. Terus aku jadi mikir, apa berantem? dan ada insiden pembantaian seperti di berita berita itu. Kan itu mau, karena terbawa api cemburu, jadinya cekcok, emosi, dihasut setan dan blaaasshh. MATI..!" BI Sakinah membuat pergerakan tangan memotong lehernya.
Jenifer dibuat bergidik ngeri mendengar ucapan Bi Sakinah.
"Mana mungkin seperti itu Bi. Mungkin mereka masih tidur. Tahulah lagi berbunga bunga. Lupa daratan, semalam saja, mereka berdua tak tahu malu begituan di kantor." Ujar Jenifer Kesal.
"Gak mungkin begituan, si Non Rara lagi datang bulan." Jelas Bi Sakinah.
"Kalau orang lupa daratan, mau berlumur darah juga ia tak peduli. Daripada mikir macem macem, ya sudah kita dobrak aja pintunya, kalau gak bisa dibuka." Cicit Jenifer kesal. Kenapa pula ia jadi berdebat panjang dengan pembantu. "Sudah Bibi coba tadi membuka pintu ini?"
BI Sakinah menggeleng. "Aku hanya ketuk dan panggil kan nama mereka."
"Ya sudah, sekarang ketuk lagi. Terus panggil, kalau gak ada sahutan baru kita dobrak." Jelas Jenifer malas. Ia yakin, Rara dan Bimo pasti masih tidur. Gak mungkin juga ada insiden pembunuhan. Bimo itu orangnya sabar.
Tok
Tok
Tok
"Once again !" titah Jenifer, menyandarkan tubuhnya di daun pintu.
"Apa, disegel..?" tanya Bi Sakinah, bingung dengan apa yang dikatakan Jenifer.
Hadeuhh..
Jenifer mulai muak pagi ini.
"Ulangi lagi Bu..!' titah Jenifer geram.
"Gak usah diulang ulang lagi. Langsung dibuka aja pintunya." ujar Bi Sakinah, langsung menekan handle pintu.
__ADS_1
Bruuggkk...
"!"Aauuuwww..!" aduh Jenifer kesakitan, seperti nya pinggangnya keseleo.
Jenifer terjatuh saat pintu kamar itu dibuka cepat Bi Sakinah. Tadi kan Jenifer sedang menyandar di daun pintu. Dan Bi Sakinah tak tahu, kalau pintu itu sebenarnya tak di kunci, hanya ditutup.
Sontak pasangan suami istri yang lagi kelonan saat tidur terbangun.
Rara sangat terkejut bercampur malu, melihat Bi Sakinah dan Jenifer di kamar itu. Ia menyembunyikan dirinya dibalik selimut. Sedangkan Bimo juga menarik selimut untuk menutupi dadanya. Ya selimut itu tak menutup semua tubuh Bimo.
"Ada apa ini?" ekspresi nya Bimo terlihat tak bersahabat. Ia kesal, kamar adalah hal privasi buatnya.
"Itu, itu, kami mau membangunkan tuan. Ini dek Jenifer datang mencari."
Jenifer menatap tajam Bi Sakinah, sambil bangkit dari terpuruknya. Dari cara bi sakinah bicara seolah Jenifer yang memaksa untuk membangunkan Rara dan Bimo.
"KELUAR...!" teriak Bimo, ia merasa paginya jadi buruk. Ia malu juga sebenarnya.
BI Sakinah ngacir dengan cepat. Sedangkan Jenifer yang pinggangnya keseleo, tak bisa berjalan cepat. Ia meringis kesakitan keluar dari kamar itu.
Ia kesal, sangat kesal. Hatinya terasa terbakar, melihat Bimo dan Rara seperti nya semalam berhubungan in-tim. Membayangkan itu membuatnya setres
"Aaaarrrggghh...."
Teriaknya setelah sampai di lantai satu.
Mendengar teriakan mengerikan itu Bi Sakinah ketakutan. Ia lari ke belakang rumah. Bersembunyi dari Jeniffer. Ia tahu, Jenifer pasti memarahinya.
"Bibi....!" teriak Jenifer di dapur. Semakin kesal, karena tak menemukan Bi Sakinah di ruang itu.
Sementara Rara dan Bimo yang masih berpelukan dibuat ngeri mendengar suara Jenifer yang melengking.
"Ada apa ya cinta?" tanya Rara mengurai pelukan Bimo.
"Gak tahu sayang. Kita kan lagi tidur " Jawab Bimo menatap lekat Rara. Raut wajah istrinya itu nampak kelelahan. Tapi, tetap terlihat cantik.
"Kenapa ada Bidadari nyasar di kamar ini?" meraih dagunya Rara dan mengecup bibir sang istri lembut, penuh penghayatan.
__ADS_1
Dikatakan bidadari membuat Rara tersanjung. Rasanya ia ingin terbang. Dari tadi malam, hingga pagi ini, Bimo terus saja memujinya. Mengatakan hebat dalam bercintalah, cantiklah, sangat menggairahkan dan banyak lagi pujian lebay yang keluar dari mulut manisnya Bimo.
TBC