
"Dewi...!" Kusuma terlihat terkejut mendapati sang mantan istri di rumahnya Bimo. Ia tahu, wanita itu pasti sedang berusaha agar Alva bebas dari jeratan hukum. Pak Kusuma jelas tak mau Alva ditahan. Ia juga mengusahakan agar Alva keluar dari penjara.
"Iya, Aku. Kamu terkejut? heran saja lihat kamu terkejut melihatku disini. Walaupun Alva bukan anak kandungmu. Tapi, tak usah kamu tunjukkan sikap tak pedulimu. Ingat, kamu bisa sukses seperti sekarang, berkat siapa? berkat orang tuaku? dasar tak tahu balas budi. Dan sekarang kamu malah sibuk minta balikan dengan mantanmu yang ganjen itu " Ketus Ibu Dewi, menatap Pak Kusuma dengan penuh amarah.
Deg
Rara melirik Bimo dengan mata membola. Ia terkejut mendengar ucapan ibunya Alva. Tadinya ia berfikir Alva saudaranya, ternyata tidak.
"Bisa gak, kamu sekali saja bicara gak usah merendahkan dan mengungkit ungkit yang lalu. Bisanya menyalahkan orang saja. Kamu itu wanita yang tak tahu diri. Aku sukses seperti sekarang karena kerja kerasku, bukan karena ayahmu. Paham...!"
Kusuma menatap tajam ibu Dewi, ia geram sekali dengan mantan istrinya itu. Bicara selalu pedas dan menganggap orang rendah. Siapa juga yang tahan punya istri seperti itu. Pak Kusuma akhirnya bersih keras bercerai dua tahun yang lalu. Walau sudah bercerai, ia tetap peduli pada Alva. padahal Alva bukanlah darah dagingnya.
"Kamu memang manusia rendah, kamu kan dari keluarga miskin." Ibu Dewi masih menantang pak Kusuma.
Ciihh..
Pak Kusuma membalas tatapan sinisnya ibu Dewi.
"Kamu memang gak berguna, membebaskan Alva saja dari penjara kamu gak bisa." Menunjuk nunjuk Pak Kusuma yang meradang karena direndahkan di hadapan anak dan menantunya.
"Suruh saja, ayah kandungnya yang bebaskan!" tegas Pak Kusuma, menyeret kakinya cepat dari rumahnya Bimo.
Habis sudah kesabarannya. Walau Alva bukanlah darah dagingnya. Ia sudah menganggap Alva anak sendiri. Dia bukannya gak mengusahakan. Sejak tahu Alva ditahan. Ia sudah turun tangan untuk membantu. Tapi, memang yang memenjarakan Alva, orang berpengaruh.
Dan hari ini sebenarnya Pak Kusuma akan membujuk Rara, agar bicara pada Ezra. Untuk membebaskan Alva. Tapi, lihatlah mulut embernya ibu Dewi. Ia sendiri yang membocorkan aibnya pada orang lain.
PRaakk..
Ibu Kusuma menggeprak pintu utamanya rumah Bimo. Yang membuat Rara terkejut, hingga ia memundurkan langkahnya, hampir saja ia terjatuh, karena tersandung kakinya sendiri.
"Habis sudah kesabaranku berhadapan dengan keluarga sombong seperti kalian. Kesalahan anakku tidaklah fatal. Tapi, kalian bersikukuh untuk memenjarakannya." Bicara dengan penuh emosi. Wajah putih Ibu Dewi memerah sudah karena kesal, usahanya untuk membebaskan sang anak tak kunjung berhasil. Ia ingin menyekolahkan anaknya keluar negeri, kalau berlarut larut seperti ini. Pendaftaran untuk masuk kuliah sudah selesai.
Sikap Ibu Dewi yang tak ada sopan kali ini, tentu membuat Bimo kesal. Seorang tamu datang marah marah.
__ADS_1
"Sebaiknya ibu keluar dari rumah ini. Dari dulu, sudah kami katakan. Ikuti alurnya. Buktikan saja di pengadilan kalau anak ibu tak bersalah. Tak perlu ibu berkoar koar di rumah ini. Silakan keluar..!" Bimo menunjuk pintu rumah nya yang kini terbuka lebar.
Merasa tak dihargai, Ibu Dewi semakin geram.
"Diam, diam...!" menunjuk Bimo dengan penuh emosi. Tatapan matanya sangat tajam, seperti singa siap menerkam. Rara sampai dibuat takut, melihat Singa ngamuk di hadapannya.
" Ini, ini anak haram itu." Tangannya terjulur untuk menjambak Rara. Tapi, Bimo langsung menghadangnya, sehingga kini Rara sembunyi dibalik tubuh besar sang suami.
"Ibu mau saya masukkan juga ke kantor polisi? ada CCTV di ruangan ini." Bicara tegas, menantang tatapan mata tajamnya Ibu Dewi. "Keluar.... Keluar...!" menunjuk pintu Dengan suara meninggi.
Bimo sedang banyak pikiran, jangan dipancing pancing.
Ibu Dewi masih bergeming, yang membuat Bimo semakin emosi. "Ibu mau keluar dengan cara baik baik dari rumah ini, atau dipaksa." Bicara dengan nada marah dengan tatapan mata tajam.
Ibu Dewi yang emosi, melap air mata yang membasahi pipinya. Terlihat ia sedang menghela napas panjang.
"Lihat, lihat saja pembalasanku." Wanita itupun keluar dari rumah itu dengan kesalnya.
"Koq jadi seperti ini sayang?" ujar Rara terisak dalam dekapan sang suami.
Bimo tak tahu harus jawab apa? ia terus saja mengusap punggung sang istri, agar bisa tenang.
"Tadinya setelah tahu ayahku siapa? maka kebahagiaan lah yang akan ku rasakan. Tapi, nyatanya kota dibawa bawa dalam masalah pribadi mereka." Keluh Rara masih dalam dekapan sang suami.
"Itu gak usah kamu pikirkan. Itu masalah mereka. Kita tak perlu ikut campur." Jelas Bimo lembut.
"Siapa yang mau ikut campur? aku saja tadi syok dengarnya, kalau Alva bukan anak ayah." Ujarnya sedih.
"Iya, itu karma buat pak Kusuma. Mempertanggungjawabkan perbuatan orang lain." Ujar Bimo, menuntun Rara untuk duduk di sofa.
"Tunggu sebentar, aku ambilkan minum dulu." Baru juga berbalik badan, Bi Sakinah menghampiri mereka dengan membawa dua buah gelas juice jeruk segar.
"Makasih Bi." Ujar Bimo dengan senyum tipisnya.
__ADS_1
"Ia tuan." Bi Sakinah menyeret kakinya ke dapur.
"Sayang, kita harus telpon ayah. Minta tolong, agar kasusnya Alva dicabut saja." Ujar Rara terlihat panik. Ia tak mau diteror lagi.
"Kamu gak dengar apaa kata bos pagi tadi, laporan itu tak akan dicabut. Biarkan saja diproses hukum. Kalau memang mereka bisa membuktikan Alva tak bersalah, ya sudah Alva tak ditahan." Jelas Bimo, tak mau punya sipat plin plan.
"Kasihan Alva sayang, ini murni bukan kesalahan dia."
Bimo melirik sang istri heran, kedua bola mata terlihat bergerak ke sana kemari. "Kamu membelanya? dia salah, dia itu mengganggumu. Dia itu suka padamu." Jelas Bimo mulai cemburu.
"Dia kan gak tahu, kalau aku ini istri orang. Ya wajar dia mendekatiku." Jawab Rara cepat
Hhhhmmmm..
Suara Auman Bimo seperti singa yang mengintai mangsa.
"Iijh.... Koq mukanya kek gitu sih? jangan salah paham dulu. Aku bicara fakta. Makanya punya istri jangan dijutek in." Ujar Rara menahan senyum, air muka Bimo masam bercampur kesal, terlihat lucu karena cemburu.
"Makanya kamu harus cepat hamil, biar orang tahu, kamu itu sudah jadi istri seseorang." Bimo langsung mendarat bibirnya di bibirnya Rara.
Pendaratan yang cepat, membuat Rara terkejut.
"Iihh... Apaan sih, ini ruang tamu. Dan ini sudah dekat magrib." Rara menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Agar ciuman bringas sang suami lepas.
"Baiklah, kita lanjut di kamar." Bimo membopong Rara ala bridal style. Membawa lari sang istri dalam gendongannya. Rara seperti kapas saja dibuatnya. Sama sekali ia tak merasa berat mengangkat tubuh sang suami.
"BI.... Tutup pintu, kalau ada tamu nyariin. Bilang kami sedang bulan madu." Teriak Bimo saat ingin menaiki anak tangga.
Pukk
Rara memukul kuat dada sang suami. Ia kesal pada Bimo, yang tak ada sopan itu.
TBC
__ADS_1