
Rani merasa kepalanya mau pecah memikirkan semuanya. Rasanya ia ingin mengakhiri hidup saja. Kenapa pria yang tak bisa dilupakannya itu, kembali hadir dan ingin menoreh luka. Mengajaknya menikah, padahal sudah jelas. Ia melihat dengan mata kepala sendiri. Pria itu masih punya istri.
Wanita itu kini sedang diperjalanan menuju apartemennya. Tiba tiba saja ia teringat Rara. Ia perlu mengabari putrinya itu, memberi tahu, kalau ia sudah pulang ke rumahnya.
.
Hufftt
Rani menghela napas dalam, dan menghembuskan pelan. Ia melakukan itu berulang kali sampai ia merasa dirinya rileks.
Rani merogoh tas nya, ia akan mengambil ponselnya. Akan mengirimkan pesan pada sang putri. Memberi kabar, kalau ia sudah pulang ke rumahnya.
Saat membuka ponselnya. Ia dibuat terkejut dengan banyaknya pesan dan panggilan dari nomor baru. Ya dari tadi ia men silent ponselnya.
Ini nomorku, Kusuma. Angkat telepon ku sebentar saja.
Itu kah salah satu pesan yang dikirim kan Pak Kusuma padanya.
Maaf, izinkan aku membahagiakanmu. Kita perlu bicara, angkat teleponku.
Pesan kedua yang dibukanya. Ingin mengabaikan semua pesan yang dikirim Pak Kusuma. Tapi, ia penasaran apa lagi yang dikirim pria itu. Akhirnya ia pun membuka semua pesan yang dikirim pak Kusuma, ada 10 pesan. Dan pesan terakhir yang dibukanya membuatnya terhenyak.
Aku masih mencintaimu, sampai kapanpun. Mari kita bersama disisa hidup kita. Disaat bahagia, hanya kamu yang kuingat, dan disaat sedihpun hanya kamu yang kuingat. Dalam hati ini tercatat namamu yg tak bisa aku padamkan. Ada keharumanmu di tiap tiap tarikan nafasku.
"Dasar gila..!"
__ADS_1
Umpat Rani geram.
"Apa.. Ibu mengatai aku gila?" sahut sulit taxi yang membawanya. Meliriknya masam, dari spion.
"Tidak, tidak pak. Aku tak ada niat mengatai bapak." Rani melambai lambaikan tangannya. Sebagai tanda tidak mengatai sang supir taxi dengan ekspresi wajah takutnya. Karena sang supir taxi menatapnya kesal.
Rani yang geram dengan pak Kusuma, akhirnya mengirimkan pesan pada pria itu.
AKU TAK MAU HIDUP BERSAMA DENGAN PRIA BERISTRI.
Ia mengetik pesan itu dengan gigi yang dirapatkan penuh, karena emosinya.
Ngung ...
"Ya ampun, baru juga dikirim pesan. Sudah menelpon." Ujarnya lagi dengan penuh kekesalan. Merijek panggilan itu cepat dan menonaktifkan ponselnya.
***
Di tempat yang berbeda, tepatnya di rumah Bimo. Pak Kusuma dibuat tak tenang, harap harap cemas, karena membaca pesan dari Rani. Dari isi pesan Rani, bisa disimpulkan, kalau ia masih single. Itu artinya Rani pasti mau menikah dengannya.
Pria itu mengira Rani pulang ke rumahnya Bimo. Makanya pria itu menyusul Rani ke rumah Bimo.
"Putriku, temani ayah jumpai ibumu." Pintanya dengan wajah penuh harap. Hanya Rara lah harapan satu satunya yang bisa diandalkan untuk membuatnya bisa diterima Rani kembali.
Pak Kusuma datang ke rumah Bimo, selain mencari Rani, juga ingin memberi tahu bahwa Rara adalah putri kandungnya. Kabar itu sudah diketahui dari sang ibu, jadi Rara tak terkejut lagi disaat mendengar penjelasan pak Kusuma.
__ADS_1
Rara melirik Bimo yang duduk di sebelahnya. Seolah minta persetujuan. Tak kunjung mendapat kode persetujuan dari Bimo, Rara kini melirik sang ayah masih dengan ekspresi sedihnya.
"Pak, kami bukan tak mau membantu. Untuk kali ini, bapak harus usaha sendiri. Kami tak mau ikut campur untuk hal yang satu itu." Ujar Bimo tegas, menanggapi permintaan Pak Kusuma pada istrinya.
Saat ini masalah yang dihadapi Bimo sangat banyak. Ia masih setres memikirkan usahanya yang bangkrut. Ia sedang tak semangat ikut campur urusan ABG Tua, seperti kasus Pak Kusuma. Ia juga tak mau menambah masalah baru lagi, jikalau ibu mertuanya marah, karena mereka ikut campur gimana?
Mendengar cerita Pak Kusuma, terkait status nya yang sudah duda saja, sudah buatnya bingung. Sudah duda, tapi masih terlihat harmonis dengan sang mantan istri, masih kompak. Apalagi menangani kasus Alva.
"Ibumu sangat membenciku nak, tolong bapak untuk mendapatkan maafnya." Pak Kusuma masih memelas pada Rara, yang membuat Bimo jadi makin kesal mendengarnya. Sedangkan Rara dibuat bingung, karena Bimo bersikap tak mau ikut campur.
"Bapak pantas mendapatkan sikap seperti itu. Bapak sadar gak, telah menghancurkan hidupnya ibu mertua." Lagi lagi Bimo yang menjawab ucapan Pak Kusuma. Karena Bimo memang tak memberi kesempatan untuk Rara bicara.
Pak Kusuma terdiam, sepertinya ia salah meminta bantuan.
"Berikan alamat ibumu pada ayah sayang?" ujarnya sedih, seperti nya ia harus lebih sabar dalam mendapatkan maafnya Rani.
Rara melirik sang suami. Tentu saja, Bimo memberi izin, agar Rara memberikan alamat sang ibu lada ayahnya.
Wajahnya Pak Kusuma langsung berbinar-binar disaat tangannya meraih kertas berisikan alamatnya Rani dari sang putri. Mendapatkan alamat Rani, sudah membuatnya semangat 45.
Ia membaca alamat itu dengan kelopak mata terbuka lebar. Sudut bibirnya menyungging, menciptakan senyum tipis. Keluar dari rumah itu dengan harapan baru.
Dan saat di ambang pintu, ia dikejutkan dengan Ibu Dewi, Ibunya Alva yang datang bertamu.
TBC
__ADS_1