
Gara gara kelakuan ibunya Alva yang tak tahu malu, Bimo dan Rara jadi telat pulang. Karena wanita itu bersih keras ingin anaknya bebas. Mana mungkin Bimo bisa membebaskannya, toh yang melaporkan bukan dia. Orang tua nya Alva yang katanya kaya saja gak bisa melawan Ezra. Apalagi Bimo, ia mana berpengaruh.
Rara sebenarnya kasihan melihat ibunya Alva yang mengemis ngemis itu. Tapi, ia juga tak terima, karena kelakuan wanita egois itu, Bimo harus merasakan dinginnya dalam jeruji besi.
Mereka pun akhirnya bisa pulang saat magrib tiba. Bimo yang ingin melaksanakan sholat magrib, bergegas terlebih dahulu membersihkan dirinya. Ia pun melaksanakan sholat magrib, sedangkan Rara membersihkan dirinya di kamar man-di.
Saat hendak mandi, Rara memperhatikan pembalut yang dikenakannya, pembalut kain yang dibelikan Bimo waktu itu. Ternyata tak ada lagi bercak darah. Tadi setelah mereka bercumbu di kantor. Ia mengganti pembalutnya. Karena ia merasa tak nyaman menggunakannya lagi, disebabkan miliknya yang banyak mengeluarkan cairan, karena ia sangat terang-sang saat bermesraan dengan Bimo.
"Kenapa sudah habis?" ujarnya bingung, memperhatikan lekat pembalut itu. " Baru juga empat hari, biasnya 6-8 hari bahkan mau sampai 9 hari. Apa karena aku banyak pikiran dua hari terakhir ini?" Rara bicara sendiri, sambil membersihkan tubuhnya. Tentu saja ia pun melakukan mandi wajib.
Sebelum ia keluar dari kamar mandi. Ia kembali menarik napas panjang. Entah kenapa ia masih grogi kalau bersama pamannya itu. Rasanya sangat meresahkan dan mendebarkan. Apalagi sejak mereka akur, kerjaan mereka bermesraan terus.
Jubah mandi warna biru muda membelit di tubuhnya mempesonanya. Rambut panjang basah tergerai indah. Sontak kedua matanya Bimo langsung tertuju pada istrinya itu. Sebenarnya ia sedang membaca Al Qur'an, setelah selesai menunaikan sholat.
Melihat Rara keluar dari kamar man-di dengan rambut basah yang tergerai. Membuatnya cepat menyelesaikan acara mengajinya.
"shadaqallahul adzim." Bimo bergegas menghampiri Rara. Acara mengaji bisa dilanjutkan nanti. Hasrat bira hi yang menggelora tak bisa ditahan lagi. Menyalurkan hasrat yang terpendam juga ibadah. Ia langsung memeluk istrinya itu dengan perasaan yang sangat bahagia. Saking bahagianya ia merasa seperti terbang di Awang Awang.
__ADS_1
"Sudah selesai datang bulannya sayang?" ujarnya semangat masih memeluk Rara erat.
"Se sepertinya su- sudah." Jawab Rara dengan lembut dan tergagap. Habislah ia malam ini dibuat suaminya itu.
"Hei kenapa terlihat ketakutan begitu?" kini Bimo memperhatikan lekat wajah sang istri yang memerah dan sedikit ketakutan itu.
"Gak apa apa cinta." Jawabnya lembut. Bimo yang gemes kembali memeluk sang istri.
Wangi sabun dan sampo yang melekat ditubuhnya Rara menyeruak di indera penciumannya. Yang membuat hasrat semakin bergelorah.
"Sayang, masih ada waktu untuk menunaikan sholat magrib. Kamu sholat dulu ya?" ujar Bimo dengan tatapan yang dalam.
"Tahu tadi, kamu sudah bersih. Kita sholat berjamaah saja." Ujar Bimo memberikan mukena baru kepada Rara. Rara meraihnya, memakainya cepat. Karena waktu sudah mepet.
Rara sungguh tak khusuk yang sholat itu. Karena Bimo terus saja menatapnya. Entahlah ia tak tahu lagi, sholat nya diterima atau tidak.
Rara pun telah selesai melaksanakan sholat nya. Ia melipat mukena baru itu. Memperhatikan sang suami yang sedang menyisir rambut dan menyemprotkan parfum ke tubuhnya, yang kini sudah bertelanjang dada. Ya Bimo sudah melepas baju Koko nya dan saat ini hanya memakai sarung. Seperti nya Bimo sudah tak sabar untuk bertempur.
__ADS_1
Melihat sang suami yang begitu semangat dan tak sabaran, membuat Rara merasa lucu.
Dasar laki laki, otaknya pasti me sum semua.
Grapp...
Tubuh kakunya Rara kena sergap dari belakang. Ia hendak menyimpan mukenanya.
Belitan tangan sang suami begitu kuat memeluknya. Endus an sang suami di leher membuatnya merinding karena terbawa suasana yang sangat menggairahkan.
"Doa doa ku tadi terkabul juga." Ujar Bimo dengan suara berat menahan hasrat yang liar. Menciumi rambut wanginya Rara, serta ceruk leher sang istri dengan lembut.
"Emang cinta berdoa apa tadi?" ujar Rara dengan menahan napas. Dipeluk dari belakang seperti ini saja, sudah membuatnya terang sang.
"Eemm.. Berdoa, agar istriku cepat selesai haidnya." Bimo sudah membalik tubuh sang istri, menatap Rara dengan sangat mendamba.
Rara tersenyum tipis, segitunya suaminya itu. Sampai berdoa segala, agar mereka bisa melakukan ibadah yang mendatangkan kenikmatan surga duniawi itu
__ADS_1
TBC
Banyak Like coment vote hadiah. Kita grazy up say.🙏❤️