GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Kecarian


__ADS_3

Bi Sakinah mengintip dari balik jendela kaca, memastikan siapa tamu yang datang malam malam begini. Setelah melihat penampakan tamu, ia pun berjalan cepat menghampiri majikannya di ruang makan.


"Tuan, di luar ada Pak Kusuma. Apa aku bukain pintu tuan?" ucapnya sopan, menatap Bimo dan Rara secara bergantian.


"Ayah? ayah sendirian atau dengan mama bi?" ujar Rara dengan penasarannya.


"Sendiri non." Jawab Bi Sakinah sopan.


"Biar kami saja yang buka in pintu bi " Bimo bangkit dari duduknya, yang disusul oleh Rara. Mereka berjalan beriringan menuju ruang tamu. Sesampainya di ruang tamu. Bimo dengan cepat membuka kunci pintu rumah utama itu.


"Ayah kenapa?" tanya Rara heran, melihat muka kusutnya pak Kusuma, yang berdiri di ambang pintu.


"Mamamu gak ada di apartemennya." Jawaban yang tak nyambung dari pak Kusuma.


"Ayo pak, masuk dulu. Kita bicara di dalam." Bimo mempersilahkan pak Kusuma untuk masuk dengan tangannya yang terbuka lebar. Pria itu pun masuk ke ruang itu dengan lemasnya. Seperti tak makan satu hari.


Mereka sudah duduk di atas sofa, di mana Rara dan Bimo duduk di sofa yang sama. Sofa panjang warna ungu. Sedangkan pak Kusuma duduk di sofa kecil di hadapan mereka.


"Bapak sudah makan?" tanya Rara hati hati. Rara belum bisa akrab pada Pak Kusuma. Ia masih merasa enggan pada ayahnya itu. Secara mereka kan baru saja kenal satu sama lain.


"Belum," Menggeleng dengan tak semangatnya. Yang membuat Bimo terheran heran, dengan pria yang duduk di hadapannya ini. Terlihat banyaknya penyesalan dan tekanan di ekspresi wajah pria yang lagi galau itu.


"Ya sudah, ayah makan dulu ya?"


"Aku gak selera makan." Jawab Pak Kusuma. cepat.

__ADS_1


Rara terdiam, ia melirik Bimo yang terlihat santai memperhatikan Pak Kusuma yang galau itu.


"Kenapa Mamamu gak mau bertemu denganku nak? aku ingin jelasin semuanya." Pak Kusuma yang tak tenang, menanyakan hal yang jawabnya tak diketahui oleh Rara dan Bimo.


"Aku tahu aku salah, aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin mengulang masa lalu yang akan sangat membahagiakannya." Pak Kusuma bicara dengan tidak tenangnya. Ia terlihat bingung dengan ucapannya sendiri.


Kalau ia saja bingung dengan ucapannya, apalagi orang yang mendengarkannya.


"Bapak yang sabar ya? mungkin mama sedang menenangkan diri, makanya tak mau berjumpa dengan ayah." Ujar Rara lembut.


"Bantuin ayah nak, aku tak mau lagi salah dalam ambil tindakan. Kali ini aku harus ikuti kata hatiku." Masih memelas seperti anak kecil, yang minta bantuan pada orang dewasa.


Hufftt...


Bimo menghela napas dan menggeleng heran melihat ayah mertuanya itu.


"Iya ayah, kami pasti bantuin ayah. Ayah yang tenang dulu." Ujar Bimo melirik sang istri dengan lesu.


Kalau Pak Kusuma terus mengganggu seperti ini. Bisa setres ia. Bimo sedang banyak masalah, ia juga sedang bermesraan terus dengan sang istri. Tapi, namanya satu keluarga, kita harus tetap tunjukkan rasa peduli.


"Rara, Rara anakku sayang, coba hubungi nomor ibumu. Aku telpon gak nyambung , seperti nya nomorku diblokir." Ujarnya dengan memelas, berharap Rara cepat melakukan keinginannya.


"Iya ayah, aku ambilkan hape ke kamar dulu ya?" Rara beranjak dari duduknya berjalan menuju lantai dua, tepatnya ke kamarnya.


Sepeninggalannya Rara, Bimo senyum senyum memperhatikan Pak Kusuma yang terlihat tak tenang itu. Pria dihadapannya seperti nya kena sindrom puber ke empat. Kalau pak Kusuma sesettres ini diabaikan ibu mertuanya. Kenapa dulu pak Kusuma meniggalkan Rani. Hal ini jadi tanda besar buat Bimo. Ingin dia menanyakannya hal itu, tapi rasanya ia jadi seperti ingin ghibah jadinya.

__ADS_1


Saat Rara menuruni anak tangga, ia terlihat berbicara di telepon. Mengetahui kenyataan itu, hatinya pak Kusuma semakin menciut. Jadi benar, nomornya diblokir Rani. Buktinya Rara yang menelpon tersambung.


"Mama kapan lagi ke sini? aku masih kangen sama mama?" ujar Rara di telepon. Menghampiri sang suami dan ayahnya yang pandangannya tertuju padanya.


"Speaker kan?" ucap Pak kusuma pelan, tapi tangannya ikut bergerak dengan sangat antusias. Ia ingin mendengarkan suara wanita yang sangat dicintainya itu.


Rara mengaktifkan speaker ponselnya.


"Mama belum bisa pastikan kapan sayang?" terdengar suara Rani lemah dari sambungan telepon.


"Kalau gitu, aku yang datang ke apartemen mama besok ya?" ujar Rara, melirik pak Kusuma yang senang dengan permintaan Rara pada ibunya.


"Mama gak di rumah sayang." Rani menjawab dengan cepat.


"Mama di mana?" tanya Rara penasaran, masih memperhatikan sang ayah yang kalut.


"Untuk saat ini, mama tak bisa katakan. Mama ingin hidup tenang sayang. Belasan tahun Mama menderita, Mama tak mau mengejar kesenangan dunia lagi." Suara Rani terdengar penuh penyesalan. Rara ikut sedih mendengarnya.


Pak Kusuma frustasi mendengar ucapan Rani dalam sambungan telepon itu. Rani benar benar tak mau kembali padanya.


"Rani, Rani, kamu di mana? kita bicarakan baik baik. Jika perlu kita bicara di hadapan anak anak."


Tut


Panggilan itu pun terputus.

__ADS_1


TBC


__ADS_2