
Ku lirik Rara yang ketakutan dari spion mobilku. Di kamarnya tadi, ia baru saja ku mop. Kasihan juga sih lihat wajahnya yang pucat saat ku marahi. Ia ternyata sudah banyak berubah. Lebih terlihat sabar dan tak melawan. Biasanya juga ia bebas hambatan.
"Ku beri waktu berfikir lima menit. Kamu boleh keluar dari mobil ini, kamu bebas." Ucapku tegas, tapi sebenarnya aku takut juga ia marah. Aku sedang tak ingin berdebat.
Ia membisu, ku lirik lagi dari spion. Saat itu juga ia melirik ke spion. Aku dengan cepat memalingkan pandanganku. Aku tak mau ia tahu, kalau aku penasaran juga dengan keputusan apa yang dia ambil.
Lima menit pun telah berlalu. Rara tak turun juga dari dalam mobil. Berarti ia sudah siap jadi istriku. Baiklah, lihat saja sampai berapa lama ia tahan berperan jadi istriku.
Aku juga tak mau lagi terlalu serius melakoni peran suami istri ini. Aku harus siapkan diri, diselingkuhi kelak. Karena ia masih belia, masih 19 tahun, juga mewarisi gen ibunya yang seperti ulat keket, sedangkan aku sudah berumur 30 tahun.
"Lima menit sudah habis. Apa bener, kamu gak mau turun?" tanyaku dengan nada rendah. Aku kasihan juga melihatnya seperti tertekan begitu.
Apa aku sudah kelewatan batas, menakutinya?
Tak juga mendapatkan jawaban. Aku pun memacu mobil ke Kota Berastagi dengan kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan sunyi senyap seperti di kuburan. Aku jadi sangat mekantuk.
Sesekali ku lirik istri kecilku dari spion. Ia terlihat memasrahkan tubuhnya bersandar di badan kursi. Aku gak tahu ia sudah tidur atau tidak. Karena ku lihat matanya terpejam. Seperti nya ia sudah tertidur.
Hening...
Aku yang menyetir jadi semakin kantuk. Suasana di dalam mobil seperti kuburan saja. Entah sudah berapa kali aku menguap, akupun tak bisa menghitungnya lagi. Aku sudah sangat ingin tidur. Mana tubuh ini sudah lelah banting tulang seharian ini bekerja di ladang.
Setelah sampai di rest area, aku pun memutuskan untuk beristirahat sebentar. Seperti nya minum kopi pahit, adalah ide yang bagus. Semoga kopi itu bisa mengusir rasa kantuk ini. Karena perjalanan masih panjang, masih ada sekitar 30 km lagi. Kalau aku menyetir dalam keadaan kantuk, itu berbahaya sekali. Aku belum mau mati. Aku masih ingi punya anak.
Kembali ku lirik Rara dari spion. Ia ternyata benar-benar sudah tidur. Aku pun jadi tak berani membangunnya.
Aku masuk ke warung makan, memesan kopi pahit. Kemudian aku memilih duduk di luar warung makan. Karena, aku ingin mengawasinya yang masih tertidur di dalam mobil.
Dua batang rokok pun habis, begitu juga dengan kopi pesananku. Aku merasa sudah lebih segar. Tengkuk yang terasa kram dan panas gak ada lagi. Sepertinya aku siap untuk melanjutkan perjalanan.
Hawa yang dingin membuatku ingin buang air kecil. Setelah membayar kopi pesananku. Aku berjalan cepat ke toilet. Saat di toilet pria itu. Antrian cukup panjang. Aku harus antri.
Legah rasanya setelah hadas kecil itu keluar dari tubuh. Aku merasa semakin fresh dan semangat. Aku pun menyeret kakiku dengan langkah lebar menuju mobil. Saat masuk ke dalam mobil. Aku dikejutkan dengan Rara yang tak ada di dalam mobil itu.
Aku jelas ketakutan saat ini. Ia di mana? apa ia kabur? kalau mau kabur, kenapa ia tadi mau ikut denganku? bukankah aku sudah memberikannya waktu untuk berfikir.
Aku mulai tak tenang, aku jelas mengkhawatirkannya. Tempat rest area ini bukan di tengah kota.
Aku dengan paniknya mencarinya ke semua sudut warung makan itu. Mondar - mandir dengan paniknya di pekarangan warung itu.
Tak juga menemukannya. Aku kembali ke tempat mobil di parkir. Eeehhh.. ia ternyata sudah duduk manis di dalam mobil. Siapa coba yang tak marah dibuat kelakuannya.
"Kalau mau ke pergi, dikasih tahu." ucapku kesal, menutup pintu mobil dengan kuat. Lalu kembali melangkah ke kursi kemudi.
"Emang apa bedanya dikasih tahu dengan gak. Toh paman gak perduli juga."
Ia mulai berani menantang. Bukannya minta maaf. Malah nyolot, Gak tahu dia, kalau aku sudah capek mencarinya. Aku takut ia dimakan babi hutan di tempat ini. Karena warung yang kami singgahi di kelilingi perkebunan warga.
Aku yang kesal, tak mau menanggapi celotehannya. Aku lagi gak mau berdebat dengannya. Hatiku masih panas. Lebih baik fokus menyetir, agar cepat sampai ke rumah. Aku sudah sangat mengantuk sekali.
Sadar tak ada lawan bicara. Ia pun akhirnya diam selama perjalanan. Bahkan ia tak tahu kalau kami sudah sampai di perkebunan.
Aku menoleh ke kursi tempat Rara berada. Ia ternyata tertidur dengan memeluk tubuhnya sendiri. Kenapa ia tak memakai jaket. Aku jadi kasihan melihatnya.
Aku turun dari mobil, membuka pintu mobil sebelahnya. Keributan yang kuciptakan saat membuka pintu mobil itu, tak mengusik tidur lelapnya. Aku jadi sedih melihat cara ia tidur. Aku tahu, ia paling tak bisa menahan hawa dingin. Tapi, lihatlah ia menahankannya tanpa meminta bantuan padaku mencari jaket.
__ADS_1
Dasar keras kepala.
Aku yang ingin memberikan tempat tidur ternyaman untuk nya. Memutuskan membawa kopernya terlebih dahulu ke kamar. Karena, aku perlu membersihkan kamar itu.
Ia telah memutuskan untuk ikut denganku. Tentu sebagai suami, aku harus memberikan yang terbaik untuknya. Tapi, jika dengan kebaikan ku ia masih dengan sikap bar bar nya. Aku pun tak akan mau pusing dibuatnya.
Saat aku turun ke bawah, hendak menjemputnya ia ternyata sudah terbangun dan menangis dengan sedihnya, berjongkok di sisi mobil dengan membenamkan wajahnya di lututnya. Memanggil ibunya berulang kali.
Aku kembali merasa bersalah. Sehingga aku mematung menatapnya.
"Sialan.,. Apa sih mau mu paman? tega paman meninggalkanku di dalam mobil, di tengah perkebunan yang sunyi ini."
Ujarnya dengan menangis. Kedua tangan lembutnya memukul-mukul dada bidangku.
"Apa salahku padamu paman, kenapa kau jahat sekali padaku?"
Ia tambah kesal, karena aku diam saja. Tatapannya tajam.Aku harus bilang apa. Ia tak akan percaya, kalau aku sedang menyiapkan tempat tidur ternyaman untuknya.
Satu pukulan kembali mendarat di dadaku.
Uuggghhh
Pukulannya terasa juga. Rara memang punya fisik yang kuat.
"Jahat.. Jahat... Semuanya jahat..!" teriaknya tepat di hadapanku. Hujan lokal kini sudah membanjiri wajahku. Mana air liurnya bauk jigong.
Eehh..
Ianmalah berlari ke luar dari pekarangan rumah menuju jalan. Kan aneh, mau lari ke mana dia.
Aku pun akhirnya mengejarnya. "Rara.... Kamu mau ke mana? ini sudah pukul dua pagi...!" teriakku, berlari kencang mengejar Rara. Rara memang sangat jago lari. Aku kesulitan menyusulnya.
Kung .
Ngingg..
Hewan liar bernama An Jing, selalu gentayangan di tengah malam. Apalagi di sebuah perkebunan.
Kulihat ia kini memutar tubuhnya, berbalik haluan. Karena anjing di hadapannya sedang berlari kencang ke arahnya. Bahkan jumlahnya ada tiga.
"Tolong... Tolong aku paman..!"
Puukk..
Serrrr
Jantung ku rasanya mau copot saat ia berhambur dalam pelukanku. Ia memelukku erat sekali. Sampai-sampai aku merasakan dadanya yang kenyal.
Kung
Kung
Kung
Rara semakin memperdalam menyembunyikan wajahnya di perpotongan leherku. Begitu juga dengan belitan Kakinya di pinggangku terasa semakin ketat ditekan, Kelakuannya itu membuat bulu Roma ku meremang. Karena hembusan nafasnya terasa geli di telinga.
__ADS_1
Ku akui, Rara ceweek yang sangat menggairahkan. Melihatnya saja, para lelaki akan birah i. Termasuk aku, jujur... Aku pria normal. Dipeluk-peluk seperti ini, membuatku jadi tak tenang. Adik kecilku di bawah sana saja sudah on fire.
Ya Allah... Lindungi aku dari godaan setan yang terkutuk ini.
Aku terus saja berdoa.
Tak salah kata penelitian. Pria kelemahan nya adalah nafsu. Jadi, kalau tidak kuat iman. Maka hancur lah ia.
"Diam... Bisa diam kamu!" Ujarku kesal, menggoyang tubuh Rara yang memelukku erat. "Kalau gak bisa diam, kamu akan ku lempar ke anjing-anjing itu. Diam...!" teriakku lagi.
Seketika Rara terdiam. Begitu juga dengan ketiga anjing itu ikut terdiam. Suasana diperkebunan itu mendadak jadi sunyi. Hanya semilir angin malam, yang terasa dingin dan menusuk ke tulang dan suara jangkrik dan kodok yang kini mendominasi.
Rara yang sudah diam, cukup membuatku rileks. Aku pun mulai menerapkan ilmu yang ku dapat saat mondok. Yaitu ilmu menundukkan hewan liar. Mulutku sibuk membaca doa, menatap tajam ketiga hewan liar itu.
Syukur Alhamdulillah, usahaku untuk mengusir ketiga anjing itu pun sukses. Anjing-anjing itu meninggalkan kami dengan bersungut-sungut.
"Turun...! Turun...! mau sampai kapan kamu memeluk ku terus." Ucapku dengan tegas. Aku sudah tak tenang. Dadaku terus saja berdebar-debar.
Gak mungkin kan, aku nervouse pada Rara? saat kencan dengan Anin saja. Jantung ku gak seheboh ini.
Rara akhirnya menurunkan tubuhnya dengan canggung nya.
"Masuk... Ayo masuk....!" titah ku lagi. Entahlah membentaknya kini jadi suatu hiburan buat ku.
Ia menatapku sekilas, menghentakkan kakinya kuat dan melangkah masuk ke dalam rumah kami.
"Kamarmu di lantai dua. Sana naik..!" Ujarku dengan menunjuk ke atas, membalas tatapan matanya yang tajam.
Enak saja melotot pada suami. Dosa ..
Ia pun akhirnya menapaki tangga itu. Ekor mataku mengawasinya, aku tahu, ia juga melirik-lirikku. Tapi, aku sok tidak tahu.
Aku mengunci rumah. Dan kemudian masuk ke kamar yang ada di lantai satu. Tak mungkin kami satu kamar. Bisa gak tidur semalaman nanti aku jadinya. Aku sudah lelah, mau tidur. Aku gak mau berdebat. Biarlah kamar itu jadi miliknya dan aku tidur di kamar lantai satu ini saja.
Aku yang sudah lelah, melempar tubuhku ke atas ranjang. Tak butuh lama untuk memejamkan mata ini.
"Paman.... Paman.... Aku lapar, paman...!"
Rara menggoyang-goyang tanganku. Ia seperti anak kecil yang merengek minta makan pada ibunya.
Ya dulu saat ia kecil. Aku terus yang menyuapinya makan. Bahkan baru bangun tidur ia akan datang menggangguku ke kamar, minta makan dengan muka bantalnya.
"Paman, paman...! makan... aku lapar...!" menggoyang-goyangkan tubuhku, bersikap sok manja.
Sontak mataku membelalak saat melihat ke arah dadanya. Ada dua gundukan yang bergerak ke kanan dan ke kiri, atau gerakan tak beraturan saat ia merengek minta makan.
"Astaghfirullah.... "
Rara ternyata gak pakai penyangga gunung kembarnya. Mana ia memakai baju warna putih. Pucuk gunung kembar itu terlihat menantang.
"Paman.. Paman..!"
"Stop.... Keluar...!"
Teriakku..
__ADS_1
TBC
Like, coment dan vote. Ada give away say🙂