
Zahra memancing mancing Rara agar menceritakan tentang keadaan rumah tangganya. Tapi, Rara tak sedikitpun membuka suara. Padahal Zahra melakukan itu, agar Rara mau bertukar pikiran dengannya.
“Aku gak menyangka Rara sedewasa itu.” Ujar Zahra melirik sang suami yang duduk di sebelahnya. Kini mereka sedang diperjalanan pulang ke rumah orang tuanya Ezra. Rumah orang tua Ezra dan Bimo beda kecamatan, jaraknya sekitar 10 km.
“Rara itu sebenarnya anak baik, makanya aku tetap menganggapnya anak.” Sahut Ezra tersenyum tipis pada sang istri.
“iya, tapi kalau ingat kelakuan dia padaku waktu di sekolah, aku gak menyangka dia masih punya hati nurani. Sadis…. Gak punya perasaan..!” Ujar Rara bergidik ngeri teringat kelakuan Rara tak ada akhlak padanya saat
mereka satu sekolah.
“Saat itu dia lagi hilang arah. Tapi, syukurlah sekarang ia sudah kembali pada jati dirinya.” Ujar Ezra mencoba memberi pengertian pada sang istri. Ia bisa menilai, istrinya itu
masih menyimpan luka, atas sikapnya Rara yang keterlaluan. “Kita harus suport dia, sikap buruknya di masa lalu, jangan diungkit lagi ya?”
“Iya By, gak mau ungkit. Heran saja, ia bisa berubah sedewasa itu.” Ujar Zahra kagum dengan Rara yang cepat belajar.
“Gurunya tepat, makanya ia bisa berubah jadi baik. Kuncinya itu adalah tutornya.” Jelas
__ADS_1
Ezra mengelus elus perut datarnya Zahra.
“Iya By, Rara ternyata patuh suami juga. Lihatlah tadi ia gak mau ikut dengan kita, karena Bimo gak memberi izin.” Rara memegang tangan Ezra yang ada di atas perutnya. Keduanya saling tatap, mata keduanya memancarkan kebahagian, tinggal menghitung bulan, buah hati yang dinanti akan hadir ke dunia.
***
Di waktu yang sama dan di tempat berbeda.
Sepasang suami istri terlihat sedang bersiap siap, malam ini mereka akan bertolak ke kota Berastagi mereka adalah Bimo dan Rara. Bimo dapatmasalah besar. Cafe cinta manis miliknya kebakaran tadi malam. Semuanya ludes tanpa sisa. Bimo sudah tahu kabar itu sejak tadi pagi. Karena ia harus menyelesaikan sesuatu hal dengan keluarganya dikampung itu, makanya ia baru bisa kembali ke Kota Berastagi malam ini.
Masalah itulah yang membuat sikap Bimo pada Rara berubah dari tadi pagi. Ia sedang banyak pikiran.
sudah ludes dilahap si jago merah.
“Harusnya seperti itu. Tapi, ada hal yang mengharuskan kita pulang cepat.” Menarik Rara ke pelukannya. Ada rasa nyaman jikalau ia memeluk Rara dan pasrah seperti ini. “Sudah siap beres beresnya kan?”
Rara mengangguk lemah. Sesaat wanita itu berfikir, sejak tadi pagi sang suami bersikap cuek padanya, mungkin karena ada masalah. Dan dengan kepulangan mereka yang mendadak ini, ia yakin ada yang tak beres. Ia tak akan mencecar sang suami dengan banyak pertanyaan. Karena ia yakin, suaminya itu pasti akan mengatakannya, tanpa ditanya.
__ADS_1
Datang mendadak, pulangnya pun mendadak.
Sepanjang perjalanan Bimo terlihat sibuk dengan ponselmya, ibuk menelpon dan ditelepon. Rara pun tak tahan lagi untuk tak bertanya. Karena ia bukan orang bodoh, yang tak punya insting dari percakapan sang suami di telepon.
“Apa café kita kebakaran?” tanya Rara serius, kini mereka sedang berada di rest area. Sudah empat jam perjalanan di tempuh. Supir yang kantuk, minta istirahat sebentar, untuk buang air kecil dan renggangkan otot pinggang yang sudah terasa tegang dan kaku.
“Iya.” Jawab Bimo datar. Rara yang duduk di sebelah Bimo, langsung meraangkum tangan sang suami, yang ada di atas meja.
“Cobaan..! kamu jangan pergi dariku ya, jika aku jadi orang miskin?” menatap sendu Rara yang terkejut.
“Bicara apa sih kamu cinta?”
Cukup terkejut Rara dengan sikap pesimisnya sang suami.
“Itu café belum balik modal, semua pendopo habis ludes terbakar. Aku sudah konsep semuanya. Keuntungan dari café itu adalah untuk tambahan modal usaha agro wisata yang akan kita rintis. Tapi, lihatlah, semuanya telah hancur.”
HUUffttt
__ADS_1
Bimo menghela napas dalam, tangannya mengusap kasar wajahnya yang terasa tegang. Masalah ini membuatnya cukup tertekan.
“Semuanya akan baik baik saja, apapun yang akan terjadi, aku akan selalu ada di sisimu.” Merangkul sang suami dari samping.