GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Berdebat


__ADS_3

Blammm


Pintu kamar di buka seseorang


"Ngapain kamu bongkar - bongkar barang saya?" ternyata yang masuk adalah Bimo.


Pria yang sedang menentang empat paper bag itu dikagetkan oleh kelakuan sang istri, yang berani membongkar barang pribadinya. Mana di sekitar Rara saat ini, ada dokumen berserak.


"Itu, itu aku," Rara tercekat, melihat wajah marahnya Bimo membuatnya takut. Album yang ada di tangan lepas dari tangan. Wanita yang takut dan terkejut itu bangkit dari duduknya dengan bingung nya.


Kenapa semarah itu?


"A ku, ha, hanya lihat album foto saja. Gak ada periksa yang lainnya." Ucapnya tergagap, menunduk karena tak berani menatap tatapan tajamnya Bimo. Tatapan suaminya itu benar-benar buat ciut.


Bimo meletakkan empat paperbag di lantai, ia bergegas memungut dokumen dan album foto yang tergeletak di lantai.


"Gak usah pegang barang-barang saya. Kamu gak ada kerjaan bongkar milik orang lain?"


"Orang lain?" ucap Rara dengan lemah. Ternyata ia masih tak dianggap.


Ucapan sedih nya Rara membuat Bimo tersadar. Ucapannya seperti nya menyakiti hati sang istri.


"Di sini banyak dokumen berharga, kalau hilang atau keselip gimana? aku bisa kewalahan mencarinya. Lihatlah susunannya sudah berubah." Kini nada bicaranya Bimo sudah merendah, walau ia masih kesal.


"Maaf!" Rara yang terlihat ketakutan itu, kini memilih duduk di tepi ranjang. Ia sakit hati juga, seolah ia dituduh ingin mencuri. Karena ada perkataan Bimo yang mengatakan kalau berkasnya bisa hilang.


"Lain kali gak usah buka - buka lemari saya. Lemari untuk kamu sudah saya pesan. Kamu bisa memasukkan barang-barang mu nanti di lemari itu." Ujar Bimo datar, pria itu sudah selesai menyusun dokumennya yang sempat dibongkar Rara.

__ADS_1


Rara tak menanggapi ucapannya Bimo. Gak ada gunanya juga ia bicara.


"Ini saya belikan pakaian untukmu." Memberikan empat paper bag. Rara meraihnya dengan perasaan campur aduk. Antara senang dan sedih, karena baru saja disalahkan. Ia meletakkan empat paper bag itu di sebelahnya.


"Kamu tuliskan apa lagi yang kamu butuhkan. Berikan secepatnya catatannya pada saya."


Rara masih diam menunduk, tak ada respon dari setiap ucapan Bimo.


"Kamu dengar kan yang aku bilang? dari tadi diam saja."


"Iya, dengar! Aku tak akan pernah lagi memegang barang - barang paman. Kalau memang kita harus menjaga jarak dan tak seperti layaknya pasangan suami istri yang sah, aku akan turuti. Hanya lihat album saja, marahnya seperti itu." ketus Rara, semuanya serba salah di mata suaminya itu.


"Berarti kamu menyerahkan? baru juga tiga hari, sudah mau mundur."


"Siapa yang menyerah, bosan saja tiap hari disalahkan. Apa enaknya pernikahan seperti ini. Satu ranjang tak boleh, megang barang miliknya tak boleh. Emang aku mau jadi karyawan dalam hidup paman? Pakai training segala." Ujar Rara dengan raut wajah serius.


"Kamu itu yang kek anak-anak." Bimo tak mau disalahkan. Raut wajah kedua tegang kini.


"Iya, aku kek anak-anak. PUAS! asal paman tahu, walau aku kek anak-anak, aku sudah bisa buat anak! kalau Paman, diragukan!" menantang tatapan tajamnya Bimo. Sebel juga setiap komunikasi selalu salah paham.


"Apa maksud ucapanmu itu? diragukan? maksudnya apa?"


Rara membuang pandangannya, tak mau menatap sang suami, yang terlihat kesal, karena merasa direndahkan.


"Pikirkan saja sendiri!" Rara bangkit dari duduknya. Ia lebih baik pergi dari kamar itu.


"Bicara yang jelas..!"

__ADS_1


Bimo menyergap tangannya Rara. Sehingga langkah wanita itu terhenti.


"Apaan sih? lepas..!" telapak tangannya Rara masih sakit, karena terjatuh semalam di aspal.


"Jelaskan dulu, apa maksud ucapan mu itu Ra? diragukan? apa maksud ucapanmu itu?" masih menatap Rara dengan ego yang tinggi. Jangan sempat istrinya itu meragukan keperkasaannya.


"Tahu akkhh... Lepas.. Sakit tanganku!" Cengkeraman kuat itu pun lepas dari tangannya Rara.


"Soal kamu yang sudah bisa buat anak, semua orang juga tahu. Kamu gak usah banggakan hal itu. Masih kecil sudah bisa buat anak kecil, hingga ketahuan ke dukun beranak."


"Maksud paman apa sih?" wajahnya Rara kini merah padam. Ia tak suka dengan bahasan mereka di siang hari ini.


"Sudahlah.. Gak usah dibahas!"


Bimo meninggalkan kamar itu dengan perasaan kacau. Sedangkan Rara dibuat kesal bukan main.


"Dasar aneh, psikopat...!"


Umpatnya kesal, mendudukkan bokongnya kembali di tepi ranjang dengan dada yang terasa sesak. Karena jantung berdebar tak karuan menahan amarah.


Tadi pagi, komunikasi keduanya sudah membaik. Dan siang ini, gara-gara ia membongkar lemari suaminya itu, terjadi debat panjang


TBC


Like, coment vote hadiah say. Dukung dong novel ini.


TBC

__ADS_1


__ADS_2