GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Harus bersyukur


__ADS_3

Dengan perasaan tak tenang, Rara akhirnya ikut ke rumah Mamanya. Ternyata ibunya itu sudah tak tinggal di rumah pemberian Ezra. Tapi, tinggal di sebuah apartemen mewah bintang 5 di kota Medan.


Rara yang sudah terbiasa hidup mewah dari kecil, tidak heran lagi saat masuk ke dalam rumah yang furniturenya serba import itu.


"Sejak kapan mama pindah ke apartemen ini?" tanya Rara mendudukkan bokong nya di sofa empuk warna coklat tua.


"Eemmm... Sekitar sebulan yang lalu sayang." Meraih jemari sang putri dari atas pahanya Rara.


"Tanganmu kenapa jadi kasar begini sayang?" memperhatikan jemari Rara yang kini sudah polos. Dulu kukunya Rara pasti di cat, dijari manisnya melingkar cincin berlian. Dan sekarang di jari lentiknya Rara itu hanya melingkar cincin emas London.


Rara tersenyum tipis menanggapi ucapan sang ibu. Perlahan ia menarik tangannya dari genggaman ibunya itu. Mana mungkin ia akan menceritakan penyebab tangannya jadi kasar.


"Mama kecewa sekali pada ayahmu Ezra. Kenapa dia mengizinkanmu menikah dengan asistennya yang bujang lapuk dan miskin itu." Ekspresi wajah penuh kekecewaan jelas terlihat di wajah Rani saat ini.


Ternyata sang ibu belum berubah. Masih memikirkan materi.


"Sudah seperti itu jalannya Ma. Tak ada yang perlu disesali." Jawab Rara lemah, ia yang merasa tenggorokannya kering. Meraih gelas berisi juice jeruk di hadapan mereka. Meneguk juice itu dan habis setengah gelas.


"Kamu masih sekolah sayang. Harusnya, ayahmu menentang pernikahanmu. Kamu tahu gak sayang, saat mama tahu kamu menikah dengan asisten nya itu, Mama langsung datang ke rumah Ezra. Tapi, Mama diusir. Saat itu hati Mama rasanya hancur. Hanya kamu yang mama punya. Dan kamu dijauhkan dari Mama!"


Rani tak bisa menahan kesedihannya lagi, air mata yang dari tadi mendesak keluar, akhirnya tumpah juga.


"Mama tahu alasan mereka menjauhkan kamu dari Mama. Mama sadar itu, Mama tahu, kalau mama ini bukan wanita yang baik, bukan ibu yang baik. Tapi, setiap orang punya cara hidup sendiri. Mama memang tak bisa jadi wanita kalem, di rumah saja. Layaknya istri Soleha. Tapi, sebenarnya Mama ingin jadi wanita yang diidam idamkan seperti itu, tapi tak bisa."

__ADS_1


Baru kali ini Rara melihat sang ibu, mencurahkan isi hatinya sedalam itu. Penuh penyesalan, dan terlihat tertekan.


"Iya Ma, aku ngerti. Yang lalu tak usah dibahas lagi. Semua orang pasti pernah berbuat kesalahan." Rara merangkul sang ibu yang masih menangis dengan tubuh bergetar itu.


"Iya sayang, untuk itu Mama tak mau kamu kembali melakukan kesalahan. Dengan menikah muda. Apalagi suamimu tak mapan. Mama tak mau melihatmu menderita. Menikah itu tak mudah sayang. Banyak hal yang harus dikorbankan. Apalagi usia kalian terpaut jauh. Gaya hidup kalian juga berbeda. Sebelum kamu merasakan sakit yang lebih menyiksa nantinya. Lebih baik pernikahan mu dengan Bimo diakhiri."


"Ma... Mama bicara apa?" Rara tak menyangka sang ibu akan bicara seperti itu.


"Kamu berhak bahagia sayang. Mama gak mau melihat kamu nanti menderita seperti yang mama alami sekarang. Pria itu tak cocok untuk mu. Ia punya karakter yang mirip dengan ayahmu Ezra. Dingin, sok alim dan penuh kemunafikan."


"Ayah Ezra bukan ayahku." Ujar Rara sendu, melirik sang ibu yang terpaku. Syok dengan ucapan sang putri.


"Ayahku di mana? siapa ayahku? tega sekali Mama menyalahkan ayah Ezra. Dengan mengatakan sok alim dan munafik. Ia pria penuh tanggung jawab dan tahu agama. Bukan sok alim. Kupikir Mama sudah taubat dan berubah. Ternyata tidak, uang bukan segalanya Ma." Jelas Rara menatap tajam sang ibu.


"Kalau bener uang adalah segalanya. Kenapa Mama mengkhianati ayah Ezra. Bukankah ayah Ezra memberi banyak uang untuk mama waktu itu?"


Rani langsung memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap matanya Rara yang terlihat kecewa itu.


"Jika kekayaan bisa membuat orang bahagia, tentunya Adolf Merckle, orang terkaya dari Jerman, tidak akan menabrak­kan badannya ke kereta api.


"Jika ketenaran bisa membuat orang bahagia, tentunya Michael Jackson, penyanyi terkenal dari AS, tidak akan meminum obat tidur hingga over dosis.


"Jika kekuasaan bisa membuat orang bahagia, tentunya G Vargas, presiden Brazil, tak akan menembak jantungnya sendiri.

__ADS_1


"Jika kecantikan bisa membuat orang bahagia, tentunya Marilyn Monroe, artis cantik dari AS, tidak akan meminum alkohol dan obat depresi hingga over dosis.


"Jika kesehatan bisa membuat orang bahagia, tentunya Thierry Costa, dokter terkenal dari Prancis, tidak akan bunuh diri akibat sebuah acara di televisi.


"Ma, ternyata bahagia atau tidaknya hidup seseorang itu bukan ditentukan oleh seberapa kayanya, tenarnya, cantiknya, kuasanya, sehatnya, atau sesukses apa pun hidupnya. Tapi, yang bisa membuat seseorang itu bahagia adalah dirinya sendiri. Mampukah dia mensyukuri semua yang sudah dimilikinya dalam segala hal?


"Kalau kebahagiaan bisa dibeli, pasti orang-orang kaya akan membeli ke­ba­ha­giaan itu, dan kita akan sulit mendapatkan karena su­dah diborong oleh mereka. Kalau kebahagiaan itu ada di suatu tempat, pasti di belahan lain di Bumi ini akan kosong karena semua orang akan ke sana berkumpul di mana kebahagiaan itu berada. Yang kita butuhkan adalah hati yang bersih dan ikhlas serta pikiran yang jernih, maka kita bisa menciptakan rasa bahagia itu kapan pun, di mana pun, dan dengan kondisi apa pun.


"Kebahagiaan itu milik orang-orang yang dapat bersyukur. Jika kita tak memiliki apa yang kita sukai, maka sukailah apa yang kita miliki saat ini. Untunglah kebahagiaan itu berada di dalam hati setiap manusia, jadi kita tak perlu membeli atau pergi mencari kebaha­giaan itu Ma."


Rara bicara dengan berderai air mata. Banyaknya contoh kasus yang diucapkan itu, didapat nya dari artikel di sebuah tulisan. Kata kata yang tepat dengan bukti itu menyadarkan dirinya. Karena bahagia itu kita yang buat sendiri dengan selalu bersyukur.


Rani terdiam menunduk dengan air mata mengucur deras. Ucapan putrinya itu mengena di hatinya. Ia yang tak pernah bersyukur mempunyai suami seperti Ezra. Akhirnya membuat hidupnya hancur.


"Aku tak akan menggantungkan kebahagiaanku pada suamiku Ma. Benar ia telah menikahiku, tapi bukan berarti ia harus bertanggung jawab atas kebahagiaanku. Seperti Mama, apa lagi yang tak diberi ayah Ezra pada Mama dulu. Tapi, Mama tak bahagia kan? itu karena Mama tak bersyukur." Rani kena batunya. Anaknya lebih bijak darinya. Ia hanya bisa menangis mendengar ucapan putrinya itu


Wajar Rara bersikap dewasa seperti ini. Dari kecil Bimo sudah mengajarinya kebajikan.


"Mama tahu, disaat aku mengetahui fakta. Kalau aku ini bukanlah anak ayah Ezra. Hatiku sangat hancur Ma. Ternyata aku anak haram." Rara mendongak, ia ingin membendung air mata yang mendesak keluar itu.


"Ingin rasanya mengakhiri hidup Ma. Tapi, aku tak mau melakukan hal bodoh itu. Karena, aku tahu bunuh diri, itu perbuatan syirik."


TBC

__ADS_1


__ADS_2