GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Dikhianati


__ADS_3

Pergumulan panas itu pun akhirnya disudahi setelah empat ronde. Pasangan pengantin baru itu benar benar menyalurkan hasrat yang tertunda selama dua malam itu. Ya sudah dua malam mereka tak melakukan ibadah yang menghasilkan pahala dan kenikmatan itu.


Bimo akhirnya pergi bekerja setelah makan siang. Ia tak mengizinkan Rara ikut bekerja. Karena ia tahu istrinya itu pasti lelah. Bimo sangat terpuaskan. Karena dipermainkan kali ini Rara yang mendominasi. Fantasi nya Bimo sangat bisa dipenuhi oleh Rara. Istrinya itu memang sangat menggairahkan dan buat candu. Sudah bodinya yang aduhai, ditambah kulitnya yang halus mulus dan putih buat Bimo klepek klepek. Ya namanya daun muda, tentu sangat fresh.


Sesampainya di kantor. Bimo memeriksa hasil kerja karyawannya selama tiga hari ini. Ia melihat ada kejanggalan dalam laporan. Ia langsung memanggil karyawannya yang tadinya tinggal berjumlah tiga orang. Karena Jenifer sedang cuti.


"Romi ke mana? aku lihat dia sudah gak kerja selama dua hari dan tidak ada pemberitahuan tertulis dan lisan?" tanya Bimo serius, memperhatikan karyawannya yang tinggal dua orang. Karena Romi mendadak menghilang.


Setelah Jenifer cuti, semua tugasnya Jenifer dialihkan kepada Romi. Bimo memilih Romi, karena ia percaya pada pria itu. Romi sudah lama bekerja dengannya. Bahkan masih saat pertama kali Bimo merintis usaha perkebunan sayur dan buah.


"Kami gak tahu pak." Jawab kedua pria itu saling pandang.


"Ponselnya juga dari kemarin gak aktif." Raffly salah satu karya memberi laporan.


Bimo mulai tak tenang. Ia yakin ada yang tak beres. Stempel perusahaan yang biasa dipegangnya juga gak ada.


Bimo mencoba menghubungi kontaknya Romi. Benar, tidak aktif. Bahkan seperti nya nomornya ponselnya sudah tak digunakan. Bimo semakin tak tenang. Ia harus ke bank siang ini, memastikan semuanya, sebelum bank tutup. Bimo menaruh kecurigaan pada Romy. Sepertinya modal usaha yang dipinjamkan investor telah raip.


Perjalanan ke bank ditempuh 30 menit. Sepanjang perjalanan Bimo sudah tak tenang. Ia yakin ia sudah ditipu anak buah kepercayaannya itu. Dalam hati ia hanya bisa berdoa, agar dugaannya salah.


Sesampainya di bank, Bimo terburu buru masuk ke dalam. Ia pun memeriksa uang cash perusahaannya. Memeriksa rekening koran. Benar saja sudah terjadi penarikan dalam jumlah besar.


"Astaghfirullah....!"

__ADS_1


Bimo mengusap wajahnya kasar, wajah tertekan tercetak sudah. Ia bangkit dari kursi yang didudukinya dengan lemas. CS pihak bank, dibuat heran dengan bahasa tubuhnya Bimo yang terlihat putus asa itu.


Tak ada gunanya ribut di bank itu. Toh ia telah salah. Terlalu percaya pada Romi.


Bimo merasa hidupnya telah hancur. Uang perusahaan sudah dilarikan. Bagaimana ia akan mengembalikan uang investor. Bagaimana proyek agro wisata sekaligus penginapannya? saat ini sedang berlangsung pembangunan gedung gedung itu.


"Astaghfirullah.... Ya Allah.... Kenapa kamu beri cobaan beruntun seperti ini?" keluh Bimo, mengusap usap dadanya yang terasa sesak dan sakit itu. Bagaimana ia akan menjalankan usahanya. Modal tak ada lagi, bahkan kini ia sudah terlilit hutang. Cafe yang digadang gadang sebagai usaha yang mendatangkan keuntungan juga sudah ludes dilahap si jago merah.


"Ya Allah... Kenapa jadi seperti ini?" Bimo belum bisa menerima apa yang terjadi. Dalam tiga hari ia tumpur.


Pria itu memukul kuat setir. Ia kesal, menyayangkan semua yang terjadi. Ia ditipu, ia merasa bodoh, telah memberi kepercayaan pada Romi.


"Kenapa harus sekarang hancurnya. Kenapa sebelum aku menikah. Bagaimana dengan nasib Rara. Aku tak akan bisa membahagiakannya. Butuh waktu bertahun-tahun untuk bangkit lagi. Akankah ia mau bertahan denganku?" Bimo menyetir dengan perasaan kalut, gundah gulana, memikirkan semuanya. Matanya sudah berembun. Ia merasa kejadian yang menimpanya sangat menyakitkan.


Huuuuuffftt..


Bimo yang tak tenang itu, akhirnya memutuskan untuk menepikan mobilnya. Kini ia sudah masuk ke areal perkebunannya. Bimo juga sudah membuat laporan penipuan yang dilakukan Romi pada pihak kepolisian.


Aaaarrrgggg....


Huuffftt....


Kesal.... Kecewa..... Merasa jadi orang bodoh. Kini bercampur aduk di hatinya. Ia menyayangkan semuanya. Tadinya sudah berjalan dengan mulus. Tapi, kini hancur seketika. Hanya karena ia lengah dalam tiga hari.

__ADS_1


Bimo bersandar di mobil, pikiran nya terus bekerja. Memikirkan apa yang akan diperbuatnya, dan memikirkan nasibnya yang sial. Ia kembali jadi gembel. Mimpi jadi pengusaha, hancur sudah.


Aaarrggkk...


Pria itu masih kesal. Berapa kali ia meninju telapak tangan sendiri. Sebagai pelampiasan dari emosinya yang memuncak. Ia belum bisa terima ini semua.


Masih dengan perasaan tak tenang itu. Bimo kembali ke kantornya. Dua karyawannya masih menunggunya di kantor itu. Padahal saat ini sudah pukul 18.20 Wib.


"Kita bangkrut, aku tak bisa mempekerjakan kalian lagi di sini. Walau begitu, aku masih butuh laporan kinerja kalian hari ini. Dan soal gaji kalian selama kerja tiga Minggu terakhir ini, akan saya berikan saat ini juga, setelah aku menerima laporan kinerja harian." Ujar Bimo datar, ekspresi wajah setres jelas terlihat saat ini.


Bimo memang pemimpin yang amanah. Ia tak mau menahan hak dari pekerjanya. Seorang yang bekerja dengan kita, harus diberi hak nya. Tak boleh menahan hasil keringat seseorang.


"Eeemmm... Kami masih ingin tetap bekerja dengan pak Bimo." Jawab Rafly tulus. Mereka juga ikut merasa bersalah. Karena tak tahu tentang kelicikan Romi.


"Mau kerja apa kalian di sini? tak ada lagi yang bisa dikerjakan." Jawab Bimo lemas.


Huuufffttt..


Ia menghela berat. Menyandarkan kepalanya di sandaran kursinya.


"Apa kalian mau jadi kuli harian, membersihkan kebun stroberi yang masih tersisa serta mengurus cabe, bawang dan kawan kawannya itu?"


Hahahha...

__ADS_1


Ujar Bimo dengan ekspresi wajah setresnya. Ia mulai menertawakan dirinya sendiri.


__ADS_2