GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Mulai


__ADS_3

"Astaghfirullah...!"


Bimo yang sudah terbangun dikejutkan dengan penampakan Rara yang sudah telan jang setengah badan. Selimut dan sarung yang dikenakannya sudah terjatuh di lantai. Baju kokoh yang dikenakan sang istri sudah tersingkap sampai ke perut. Tinggallah apem nya Rara terpampang nyata dan jelas, memanggil - manggil untuk dicicipi. Apem itu terlihat sangat indah, dihiasi bulu - bulu hitam tipis tersusun rapi.


"Astaghfirullah....!' Bimo dengan cepat memalingkan pandangannya. Ia tak boleh tergoda. Sebelum Rara yakin jadi istrinya. Disaat Rara mengatakan yakin, setelah membaca buku yang membahas tentang jadi istri Solehah. Maka, ia akan menerima bagaimana pun Rara sekarang. Tidak akan mempermasalahkan masa lalu Rara yang hitam dan berkubang dosa.


Bimo beranjak dari ranjang empuk itu. Mengambil selimut yang teronggok di lantai, menutup tubuh Rara hingga dada, Ia tak berani menatap Rara yang masih tidur dengan pose menggoda itu. Takut lepas kontrol.


Huufftt


Bimo beranjak ke kam ar man di, ia akan bersih - bersih dan akan melakukan sholat subuh.


Bimo yang tidak tenang itu memutuskan untuk menyiapkan sarapan saja di dapur. Karena kalau berlama-lama di kamar itu, akan membuatnya semakin frustasi saja.


Ia harusnya membangunkan Rara. Mendidik istri nya itu, agar tahu disiplin. Bangun di waktu subuh, melaksanakan ibadah sesuai dengan agama yang dianut mereka. Karena memang bukan hal yang bagus, bangun kesiangan. Tapi, Bimo takut melakukannya. Ia sedang tak ingin berdebat. Pasti Rara akan marah jika dibangunkan.


Saat sedang serius memasak telor ceplok. Ia dikejutkan dengan Rara yang tiba-tiba sudah ada di sebelahnya


"Masak apa paman?" ujar Rara menatap Bimo yang terkejut, kini wajah sang istri terlihat begitu ceriah dan fresh. walau masih mengenakan baju Koko dan sarung.


"Kamu lihatnya masak apa?" spatula yang ditangani kini mengangkat telor mata sapi dari wajan ke piring.


"Ini telor kan?" pertanyaan Rara sangat bodoh. Apa anak itu gak kenal telur. Bimo menatap heran Rara.


"Bukan, ini bakso." Jawab Bimo malas. Berjalan ke meja makan. Meletakkan masakannya di atas meja itu.


"Bakso mana seperti itu.'


"Gak usah pura-pura bodoh deh." Bimo terlihat menyiapkan piring dan peralatan makan di atas meja.


"Harus bodoh, biar bisa ngobrol dengan paman." Kedua alisnya Bimo tertaut mendengar ucapan Rara.


"Kenapa gak bangunkan aku?" Rara mendaratkan bokongnya di kursi meja makan.


"Emang kamu akan bangun?"

__ADS_1


"Ya bangun lah, kan aku mau jadi istri Soleha. Paman harus bimbing aku dong?" ujarnya mulai mencicipi masakan Bimo.


Bimo terdiam, matanya menatap lekat apa yang dilakukan Rara. Dia sedang berfikir, benarkah Rara serius melakoni peran jadi istri.


"Pingin dibimbing?"


"Iya," Rara mengangguk-angguk kepala nya semangat.


"Kita mulai pagi ini. Seorang istri itu wajib patuh dan menyenangkan hati suaminya." Bimo masih menatap lekat Rara yang terlihat antusias mendengarkannya bicara. Entah kenapa ia jadi salah tingkah di hadapan sang istri. Bingung mau mengatakan apa.


"Koq diam, penjelasannya kurang detail paman."


"Kamu baca dulu buku yang kuberikan. Kamu kan pintar. Kamu gak usah berpura-pura gak ngerti. Bukannya kemarin kamu sudah paham, karena Anin sudah menasehatimu."


"Ibu Ani hanya bilang, kita sebagai wanita harus pandai melayani suami di dapur, di kasur dan di sumur. Emang di sumur mau dilayani seperti apa? dan kalau di kasur, aku sudah ngerti maksudnya. Itu kan, yang begituan ya?" wajah genit Rara membuat Bimo muak. Mana Rara mendekatkan kedua jari telunjuknya sebagai kode keintiman.


"Ya soal kasur, aku juga gak meragukan kamu. Kamu kan ahlinya."


"Koq paman bisa tahu, kalau aku ahli, kita kan belum pernah. Hehehehe...." Nyengir kek orang bodoh.


Bimo yakin, Rara sudah kecanduan melakukan hubungan in tim. Makanya ia ngebet pingin nikah dengan Ferdy waktu itu.


"Telornya enak banget paman, wangi." Rara mengacungkan dua jempol kepada Bimo yang duduk di hadapannya.


Bimo tidak menanggapi pujian Rara, ia fokus melahap sarapannya.


Merasa dicueki, Rara pun akhirnya memilih diam. Lebih baik ia makan yang banyak,seperti nya ia butuh energi yang banyak sekarang. Karena, berurusan dengan Bimo membutuhkan energi ekstra.


"Pagi tuan dan Nona..?"


Keduanya menoleh ke asal suara. Ternyata Bi Sakinah, ART nya Bimo sudah datang.


"Pagi juga Bi Sakinah!" Jawab keduanya secara bersamaan.


Rara senang, Ia dan sang suami kompak pagi ini.

__ADS_1


Kalau Rara senang karena ia dan Bimo sama-sama mengeluarkan kata yang sama. Beda lagi dengan Bimo yang eskpresi nya biasa saja.


"BI, tolong laundry pakaian yang ada di dalam koper itu, kalau bisa dua jam harus kering." Titah Bimo pada Bi Sakinah dengan ramah, menunjuk koper Rara yang memang tak jauh dari tempat mereka sekarang.


"Ia tuan!" BI Sakinah langsung melaksanakan tugas.


Bimo memperhatikan Bi Sakinah, yang berjalan ke arah koper. Kemudian pria itu melirik Rara, yang dari tadi menatapnya terus


"Aku sudah selesai, karena kamu telat makannya. Maka, hukumannya kamu yang harus cuci piring. Itu pelajaran hari ini untuk kamu. Belajar mencuci piring. Jangan dibantah!" titah Bimo beranjak dari tempatnya cepat. Ia sedang tak mau mendengar penolakan dari Rara.


"Ok Bos!"


Eehh... istrinya itu malah menjawab dengan cerianya.


Kenapa dia terlihat seneng, apa ia bisa mencuci piring?


Bimo bermonolog, mengambil kontak mobilnya dari gantungan.


"Eee.. Eeehh... Paman mau ke mana?" Rara mengira Bimo akan naik ke kamar. Tapi, ternyata suaminya itu malah keluar rumah. "Paman... tunggu!" Rara berlari dengan cepat mengejar Bimo ke tempat mobil diparkir. Ternyata suaminya itu mau pergi kerja.


"Paman... tunggu!"


Kini Bimo sedang berdiri di sisi mobilnya. Ia mengurungkan niatnya masuk ke dalam. Karena, Rara terus saja memanggil namanya.


"Eemmmuuahhh... Semoga rezeki suamiku banyak hari ini. Agar bisa belikan aku baju." Rara sudah sukses meraih tangan Bimo, ia mencium punggung tangannya Bimo dan menempelkan ke keningnya.


Tentu saja kelakuan Rara membuat Bimo terkejut. Mana Rara menyindirnya dengan mengungkit membelikan baju.


"Amin..!" Walau salah tingkah dengan sikapnya Rara. Setiap doa harus diaminkan.


"Aku gak dicium!" mendekatkan bibir berharap dicium Bimo.


"Kalau mau dicium, kamu gosok gigi dulu. Itu ada cabe di gigimu. Sana bersihkan!" Bimo memutar tubuh sang istri. Mendorong nya pelan agar masuk ke dalam rumah.


TBC

__ADS_1


__ADS_2