
"Baiklah, aku ingin menawarkan kamu masuk dalam Entertainment agency."
Alvaro terlihat semangat saat menawarkannya pada Rara. Ia tahu wanita ini akan setuju. Untuk masuk dalam agency miliknya tak sembarangan. Bahkan banyak orang ingin masuk ke perusahaannya, bayar
Ini ditawari gratis.
"Maaf, aku tak bisa." Raut wajah Rara terlihat sedih. Mana mungkin ia menerima tawaran itu. Ia yakin Bimo sang suami tak akan mengizinkannya jadi model.
"Hei... Ini kesempatan emas. Jangan kamu sia sia kan. Kalau kamu gak sreg dalam dunia modeling. Bisa kamu coba jadi penyanyi bahkan aktris. Aku akan bantu kamu jadi terkenal. Aku yang akan mengelola semua kebutuhanmu nanti mulai dari branding hingga project di mana kamu akan tampil nanti. Kamu hanya perlu bekerja sesuai arahanku." Jelas pria itu penuh antusias. Dia sedikit heran dengan Rara yang tak tergiur dengan tawarannya.
Kedua bola mata Rara bergerak ke kanan dan kekiri. Ia sedang memikirkan semua ini. Ia memang suka modeling, bermain peran bahkan menyanyi. Ia bisa semua itu? tapi, apa benar pria dihadapannya orang baik. Kenapa sok akrab begini?
"Kamu kan gak kenal aku, kenapa menawarkan aku kerjaan sebagus itu?" tanya Rara penuh selidik.
"Huufftt... Kamu curiga samaku ya? gak percaya kalau aku serius mau buat kamu jadi terkenal?" ujar pria itu, mulai merogoh dompetnya dari saku celananya. "Ini kamu boleh tahan KTP ku, jika kamu gak percaya aku gak ada niat buruk padamu." Menyodorkan kartu tanda penduduk pada Rara dengan ekspresi wajah tanpa beban.
"KTP mu banyak ya? kalau kamu kasih aku KTP seperti ini, KTP untuk mu apa?" raut wajah Rara semakin terlihat bingung.
"Habis kamu gak percaya sih? aku itu serius mau jadikan kamu artis terkenal."
"Emang kamu siapa? koq kamu bisa buat aku jadi artis terkenal?" Rara semakin dibuat heran dengan pria di hadapannya.
__ADS_1
"Aku kan sudah bilang siapa namaku semalam? kamu lupa ya? ini lihat dan baca dengan jelas." Kembali menyodorkan kartu tanda pengenal pada Rara.
"Itu nama dan alamat ku. Kalau kamu gak percaya bisa kamu tanya ke Capil. Ini No hape ku!" menyodorkan handpone ke hadapan Rara.
"Mana ponselmu biar aku miscall kan?' menjulurkan tangan, meminta ponsel Rara.
"Ponselku ke tinggalan di tas."
Hadeuhhh...
Mampus aku, gimana kalau paman Bimo mencari ku? sudah hampir satu jam kami di sini. Pasti sudah selesai Rapatnya.
Rara memilih milin kedua tangannya. Ia sudah gelisah.
"Aku tak ingat nomor ponselku."
"Apa....Astaga.... masak nomor hape sendiri tak diingat."
Alvaro menggeleng dengan tak percaya nya
"Ini aku tuliskan nomor ponselku, kamu boleh hubungi aku enter malam. Kita harus bicarakan tentang peluang emas itu."
__ADS_1
"Iya," Nanti malam aku hubungi. Aku sudah boleh pergi kan?'
Grapp.....
"Duduk dulu, kita bisa mulai kerja hari ini. Kita akan ambil beberapa fotomu, saat sedang hangout di hotel ini."
Pria itu menjentikkan jarinya. Enam orang pelayan pria langsung menyiapkan segala keperluan pemotretan.
"Aku tak bisa jadi model atau lainnya. Aku gak percaya diri."
Rara ingin kabur dari tempat itu. Tapi pria itu kembali menahan tangannya Rara.
"Lepas.... Aku gak tertarik. Maaf ya?!" mengatupkan kedua tangannya.
"Kenapa gak tertarik? pria itu kini berdiri di hadapannya Rara.
"Hei. ini kesempatan emas!" Bicara dengan ekspresi tak percaya nya, karena Rara menolak tawaran emas itu.
"Apa yang emas? kotoranmu warna emas?"
TBC
__ADS_1
Like coment, vote hadiah. Diakhir bulan Kita ada give away