GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Merayu


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


"Assalamualaikum.....!"


Intonasi yang mengucapkan salam masih terdengar lembut dan senang. Padahal sudah tiga kali ucapkan salam gak ada sahutan dari dalam. Harusnya naik pitam dong.


"Assalamualaikum.... Dek Rani, Rara... Buka pintunya Nak!"


Nada bicara masih lembut dan terdengar bahagia.


"Sayang... Gak usah dibuka. Ini sudah hampir jam 10 malam. Mana boleh bertamu sudah larut, mana tamu nya cowok." Rani bicara pelan, agar tak terdengar keluar. Menahan tangan sang anak yang beranjak ke pintu


"Kalau gak dibukain, ayah akan terus gedor gedor pintu ma. Takut yang lain terganggu dan jadi buat rame entar." Jawab Rara berbisik.


"Tapi Mama sedang tak ingin bertemu dengannya Nak!" Wajah kini kusut sudah.


Rara bingung, ia sampai menggaruk kepalanya yang terasa sangat gatal.


Tok


Tok


Tok


Tok


"Assalamualaikum.....!" karena tak kunjung dijawab salamnya akhirnya sang tamu memperkuat nada bicaranya, sudah tak lembut seperti pertama kali.


"Dek Rani, Rara.. Ini ayah. Buka pintu sayang?"


Rara dan Rani saling pandang, bingung mau berbuat apa.


"Kalian sudah tertidur? kalian sudah tidur ya?'


"Iiiiya, kami sudah tidur. Sebaiknya ayah pulang..!" jawab Rara dengan suara berat.


Puk..


Rani memukul paha sang putri geram. Mana ada orang tidur bisa ngomong.


"Apa Rani dan anak anda sudah tidur ya pak?"


Kini salah satu petugas pondok berjenis kelamin perempuan, datang menghampiri pak Kusuma ke pondoknya Rani.


Mengetahui ada Ibu Salamah di luar, membuat Rani bersiap siap untuk membuka pintu. Seperti nya acara sembunyinya tidak akan berhasil.


"Seperti nya begitu Bu." Jawab Pak Kusuma sopan.


"Kita coba sekali lagi. Assalamualaikum.... Ibu Rani, ada tamu dari kota."


Tok


Tok


"Bu Rani... Ada kabar penting ini, dari Pak Kusuma." Ucap Bu Salamah dengan nada sedikit tinggi.


Terdengar suara pintu seperti dibuka. Pak Kusuma merasa senang sekali.


Kreekk


"Ibu Salamah, iya Bu. Kami sudah ketiduran." Jawab Rara ramah. Pak Kusuma mikir Rani yang buka pintu.


"Ayah...!" Rara melempar senyum tipis pada pak Kusuma.


"Baiklah pak, saya tinggal dulu. Karena ini sudah larut malam, bapak hanya bisa bertamu 10 menit dan gak boleh masuk ke dalam. Walau bapak suaminya ibu Rani." Ucap Bu Salimah tegas, sebenarnya ia heran dengan alasan Pak Kusuma. Ia kurang yakin, tapi ia tetap mengizinkan juga. Karena pernah ia dengar sedikit info, kalau Rani janda.


Sepeninggalan Bu Salamah.


"Bangunkan ibumu Nak, ayah bawakan makanan kesukaannya."

__ADS_1


Kening Rara mengerut mendengar ucapan senangnya sang ayah.


Kirain mau ngotot minta balikan dan memberi penjelasan panjang. Ternyata mau kasih makanan.


"Ini, cepat kalian makan. Karena sudah dingin. Ayah tadi belinya di kota." Menyodorkan tiga kresek, yang berisi makanan dengan senyum manisnya.


"Ohh iya ayah." Rara terharu juga melihat perjuangan sang ayah yang ingin mendapatkan maaf dari sang ibu. Pasti setelah dapat info, dari suaminya Bimo. Ayahnya itu langsung bertolak ke sini.


"Ma, ayah ada di luar. Ayah bawakan makanan juga. Bangun Ma!" ini dan anak itu masih juga berakting.


Pak Kusuma melihat ke dalam pondok, dari celah pintu yang dibuka setengah.


Ternyata anak dan sang mantan, tidur di matras. Ya biasalah di pondok sederhana.


"Eemmmm...!" mendengar Auman nya saja sudah buat Pak Kusuma seneng di luar.


"Mama jumpai aja dulu ayah sebentar." Ujar Rara menatap penuh harap sang ibu. Rara yakin, ayahnya itu tak akan memaksa.


Rani cemberut, koq anaknya jadi memihak ayahnya sih? memang di Kusuma itu pandai sekali bersikap, agar orang ibah padanya.


Rani bangkit dari duduknya. Mereka berdua duduk di ambang pintu. Sedangkan pak Kusuma berdiri di luar pintu.


"Maaf ganggu tidur kalian, aku hanya mau kasih makanan itu." Ujar Pak Kusuma dengan senyum manisnya.


"Ohh iya terima kasih." Jawab Rani malas. Menunduk tak mau menatap mata pak Kusuma yang berbinar-binar.


"Ayo kita makan bersama. Aku dari tadi belum makan malam."


Kan, pria ini pintar sekali buat sandiwara. Dengan mengatakan belum makan. Yang dengar kan jadi gak tega, mana sudah pukul sepuluh malam, belum makan.


"Kami sedang diet, gak boleh makan berat malam malam. Kami sudah makan tadi." Jawab Rani ketus.


"Oohh gitu." Kini Pak Kusuma melirik Rara.


Rara senyam senyum melihat interaksi kedua orang tua nya itu. Lucu, dan malu maluin.


"Iya, ini sudah malam. Sebaiknya anda pulang." Ujar Rani tegas.


"Oohh.. Iya, saya akan pulang. Tapi, boleh gak, aku duduk di sini sebentar makan makanan tadi. Aku belinya tiga bungkus." Ujarnya memelas


"Rara, ambilkan sendok."


Rara dengan semangat mengambil sendok dan piring, menyodorkan pada sang ayah, beserta satu bungkus sate.


"Terima kasih sayang." Ujarnya tersenyum manis, melirik Rani yang masih cemberut.


Pak Kusuma mendudukkan bokongnya di bangku panjang dari kayu yang ada di depan pondok itu.


Ia membuka bungkusan sate ayam Madura itu. Itu adalah makanan kesukaan Rani.


Saat Pak Kusuma membuka bungkusan itu. Aroma gurih tercium, mengguar di indera penciuman Rani. Ia jadi kepingin makan sate juga.


"Ayo kita makan sate!" Tawar Pak Kusuma.


Rara juga jadi pengen makan sate. Ia pun akhirnya mengambil sendok dan piring.


"Lapar ma, seperti nya satenya enak." Ujar Rara, membuka bungkusan sate di depan Rani.


Rani semakin ingin melahap sate itu. Ia suka sate Madura dengan lontongnya.


Berulang kali ia menelan ludah sendiri dengan tatapan mata berselerah saat melihat sang putri dan pak Kusuma memasukkan makanan itu ke mulut dengan decapan nikmat.


Rara memang suka makanan yang ada pasta kacang nya. Ditambah lontong lembut, membuat kerongkongan terasa dingin saat menelannya. Sate ayamnya juga gurih.


"Ayo ma, masih hanget koq. Sebentar, aku ambilkan sendok dan piring." Ujar Rara semangat.


Akhirnya Rani ikut makan sate. Bahkan sate nya yang duluan habis, padahal ia terakhir makan. Dan, ia masih merasa kurang dan ingin tambah. Ia mengambil sate miliknya Rara.


"Iihh... Mama, kenapa punyaku di ambil. Aku juga masih mau? tadi katanya gak mau." Ujar Rara refleks.


Rani cemberut, mengembalikan satu tusukan sate itu kembali pada Rara.


Rara bersikap seperti itu, karena ia heran lihat sang mama. Tadi katanya gak mau, eehh... Malah ia yang rakus.

__ADS_1


"Pelit...!" menatap malas sang putri.


"Dek, ini masih ada punyaku." Pak Kusuma bangkit dari duduknya. Menyodorkan sate miliknya pada Rani.


"Gak, siapa juga yang mau makan sisa punyamu. Najis...!'


Haaaahhh...


Rara terkejut mendengar ucapan sang ibu.


"Astaga.... Sudah belajar agama, ngomongnya masih seperti itu."


Ujar Rara menggeleng heran dengan sikap sang ibu.


Heheeheh...


Pak Kusuma malah tertawa, kalau Rani bersikap seperti itu. Seperti nya masih ada harapan untuk nya.


"Sudah, kamu balik sana. Sudah lewat 10 menit!" eeeh... Si Rani malah ngengas.


"Iya, jaga ibumu ya nak." Tersenyum pada Rara.


"Ini satenya gak habisku." Menyodorkan sate miliknya yang gak habis di hadapan Rani.


"Kalau memang lapar, pasti habis dong!" jawab Rani ketus.


"Iya, tapi kan biasanya kamu yang habiskan sisa makananku."


"Ooowww oouuuwww... No no..."


Rara ribut seperti anak alay. Ia merasa tingkah ayah ibunya sangat lucu.


"Rara...!"


Rani menatap tajam sang putri yang menertawakan kedua orang tua nya.


"Baiklah, aku pulang dulu. Besok pagi aku ke sini lagi ya?"


"Gak, di sini tempatnya cari ilmu. Jangan sering sering kesini, mengganggu!"


"Ya sudah, jangan marah marah gitu. Aku pamit Nak, Dek!"


Rara langsung meraih tangan sang ayah dan menyalimnya.


"Besok bawa makanan lagi ya ayah."


"Rara ..!" menatap tajam sang putri.


"Iihhh si Mama..!"


"Iya sayang." Menatap lekat Rani yang selalu buang muka.


"Assalamualaikum...!" ujarnya lembut, seperti playboy yang mau mencari mangsa.


"Walaikum salam..!" jawab kedua wanita itu dengan intonasi berbeda. Rara dengan semangat dan bahagia, sedangkan Rani menjawab ketus.


Sepeninggalannya Pak Kusuma, keduanya kembali berbaring di atas alas tidur mereka.


"Ayah tampan ya Mak. Lebih tampan dari Paman Bimo dan ayah Ezra." Ujar Rara senang, melirik sang mama yang terlihat sedih.


"Untuk apa wajah tampan, kalau punya akhlak buruk."


"Wiihhh... Mama taubat betulan. Dulu yang kelakuannya tak berakhlak itu siapa ma? hingga anak nya ikut ikutan."


"Rara.. Kamu. !"


Hahaha...


"Piiss...!" Rara mengacungkan jari manis dan telunjuknya.


Rani kesal, mengubah posisinya jadi membelakangi sang putri.


Matanya kini berkaca kaca sudah. Rani teringat semua penderitaan yang ia alami karena salah jalan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2