GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Pria itu


__ADS_3

Bimo sedang memperluas perkebunannya menjadi agro wisata. Dan akhir-akhir ini dia sering pulang larut. Dan ia juga lagi butuh tambahan karyawan. Dan kebetulan sekali ia malah bertemu dengan Jenifer di salah satu perusahaan yang menyediakan pupuk organik.


Jenifer mengeluhkan soal keuangan. Dia minta tolong pada Bimo mencarikannya kerja, yang gajinya lumayan besar. Karena ia sedang butuh uang banyak untuk pengobatan sang ibu. Bimo yang sudah kenal gimana cara kerjanya Jenifer, langsung menawarkan padanya kerja di perkebunannnya. Tentu saja Jenifer mau. Ternyata rumahnya tak jauh dari areal perkebunan Bimo.


Tepat pukul 8 malam, Bimo sampai di rumah. Ia menyeret kakinya menuju ruang makan. Saat itu ia sedang melihat Bi Sakinah sedang sibuk di dapur.


"BI, apa istri saya sudah makan malam?"


BI Sakinah yang tak menyadari keberadaan Bimo, dibuat terkejut. Wanita paruh baya itu kini terlihat memegangi dadanya, yang masih berdebar-debar.


"Belum tuan, nona katanya gak mau makan. Gak selerah." Jawabnya sopan, kembali melanjutkan aktifitasnya.


Ya seminggu terakhir ini, Bi Sakinah sudah jadi ART tetap di rumah itu.


"Oohh... Bibi mau buat apa itu?" tanya Bimo dengan penasarannya, Bi sakinah sedang merajang kunyit.


"Mau buat jamu untuk non Rara tuan." Melirik Bimo sekilas dan kembali fokus ke kerjaannya.


Bimo terlihat semakin penasaran. Kapan Rara suka minum jamu?


"Jamu apa ini Bi?" Bimo sungguh kepo, saat Bi sakinah memasukkan ketumbar ke dalam panci, beserta rimpang lainnya yang telah dirajang.


"Jamu untuk kewanitaan tuan


Masak jamu kejantanan. Kan yang minum non Rara." BI sakinah tersenyum mengejek. "Kalau Tuhan mau, bini bisa juga buat jamu agar perkasa tuan."


"Gak, gak usah Bi " Bimo dengan cepat membuat penolakan dengan kedua tangannya. Ia dengan wajah bingungnya pergi dari tempat itu menuju kamarnya. Sesampainya di kamar ia langsung membersihkan tubuhnya. Dan setelah mandi ia menyemprotkan parfum yang banyak ke bagian tertentu di tubuhnya.


Memakai kaos polo warna hitam dan celana Chino pendek warna coklat. Tak lupa pria itu memakai Pomade, menyisir rambut rapi, seperti mau pergi malam mingguan. Merasa penampilan sudah Kren, ia keluar dari kamarnya.


Ceklek..


Sesampainya di depan kamar Rara tanpa basa basi, pria itu langsung membuka pintu kamar itu. Saat itu juga ia melihat tontonan yang aneh. Rara sedang berguling-guling memegangi perutnya. Dan sesekali bersujud dengan meringis kesakitan.


"Bi, mana jamunya?" ujarnya dengan suara menahan sakit. Suaranya Rara terdengar begitu memprihatinkan.


Rara mengira, yang masuk adalah Bi Sakinah. Tapi, ia dengan cepat tersadar. Karena wangi parfumnya Bimo sudah mengguar memenuhi indera penciumannya.

__ADS_1


Dengan malas Rara menatap ke arah Bimo yang mematung di ambang pintu. Menatapnya dengan penuh tanda tanya.


Suasana hari Rara semakin memburuk, karena melihat sang suami. Jangan sempat suaminya itu mengeluarkan kata-kata pedas. Ia akan memakan hidup-hidup suaminya itu. Wanita yang lagi mens- truasi sangat emosional dan sensitif.


"Eehh.. tuan," Bi Sakinah hampir saja menabrak Bimo yang menghadang jalannya. Wanita paruh baya itu terlihat tergopoh-gopoh menghampiri Rara yang menahan rasa sakit. Wajahnya sudah terlihat pucat, rambut lepek sudah karena keringatan di kamar yang ber AC.


"Ini Non, mumpung masih hangat. Dihabiskan saru gelas ya?" ujar Bi Sakinah membantu Rara minum jamu.


Bimo yang minim pengetahuan tentang wanita, dibuat bingung dan penasaran. Istrinya itu kenapa?


"Sudah Bi, aku gak sanggup lagi meminumnya. Aku mau muntah."


Mendengar kata mau muntah. Bimo langsung terpancing.


Muntah?


dia mau muntah?


wanita mau muntah dan terlihat pucat seperti itu kan, pasti sedang hamil. Apa Rara hamil? bisa jadi ia hamil? kan ia suka pergaulan bebas.


Ekspresi wajah bingung dan penuh kekhawatiran kini berubah jadi tegang. Saat ini Bimo beranggapan Rara tengah hamil. Dan jangan-jangan pria tadi adalah pria yang menghamili Rara.


Tentu saja Bi Sakinah dengan paniknya membantu Rara saat muntah.


"Aduuhhh sayang, kasihan sekali kamu?" ujar Bi sakinah. Meminat-minat tengkuk nya Rara yang sudah lemas itu. "Tadi siang nona makan?"


Rara menggeleng lemah.


"Nona masuk angin juga ini." BI Sakinah, melap keringat sebiji jagung yang terus keluar dari keningnya Rara.


Bimo dengan pemikiran negatifnya, hanya bisa menonton adegan di hadapannya. Ia sebenarnya khawatir, tapi melihat Rara muntah-muntah. Ia beranggapan Rara tengah hamil. Dia benci wanita seperti itu.


"Ayo berbaring lagi. Bibi ambilkan kompres air hangat dulu." BI Sakinah, berlari cepat keluar kamar. Hingga kini tinggallah Bimo dan Rara di kamar itu.


"Kamu hamil?" tanya Bimo dengan tak percayanya.


"Haah...?"

__ADS_1


Rara menatap jengah Bimo yang bingung di tempat.


"Kamu hamil kan? pria itu tadi yang menghamilimu?"


ceeehhh...


Rara semakin kesal saja. Ia sedang sakit, malah ditudu yang bukan-bukan. Mana mungkin orang haid, hamil.


"Kenapa diam? kamu hamil? kalau benar kamu hamil, biar saya antarkan kamu ke pria itu?" bicara dengan nada kesal.


"Iya, aku hamil. PUAS ..!" menatap kesal Bimo. Giginya Rara merapat penuh dengan tatapan siap menerkam. Ia sedang sakit, jangan diajak ribut dulu.


"Astaghfirullah...!" Bimo mengusap wajahnya kasar. "Rara.... Kamu gak tobat-tobat juga, sudah berapa kali kamu gugur kan kandunganmu?"


"Itu bukan Ursa paman, sebaiknya paman keluar dari kamar ini. Kalau malu dengan keadaan saya yang hamil. Besok, besok.... Saya akan keluar dari rumah ini." Menantang tatapan tajamnya Bimo.


Air mata kini sudah menggenang. Rara tak tahan lagi. Menunggu besok pun ia tak akan tahan tinggal bersama Bimo.


Ia yang emosi, turun dari ranjang. Mengepak semua barang-barang di kopernya sambil menangis.


"Apa salahku? kenapa hidupku hancur seperti ini? orang yang ku harapkan jadi pelindungku, selalu menilai ku buruk. Jikalau pun aku buruk, jangan aku disudutkan lagi. Aku lelah... lelah...!"


Rara terduduk dengan kaki ditekuk kebelakang, seperti orang sujud di depan lemarinya. Tubuhnya masih bergetar hebat, karena menangis.


Bimo dibuat syok dengan sikapnya Rara yang emosional itu. Ia juga bingung dengan dirinya. Ia tak menyangka Rara hamil.


"Paman keluarlah.... Aku gak mau melihat wajahmu lagi. Kamu itu menyebalkan!" ujarnya tak sanggup menatap sang suami.


"Kenapa kamu yang jadi marah pada saya? harusnya saya marah. Kamu gak tahu, kalau kamu sedang hamil." Ujar Bimo, membela diri.


"Hamil..?" Bi Sakinah bingung di ambang pintu. Ia mendengar pertengkaran keduanya.


"Non Rara belum hamil tuan. Non Rara hanya mengalami senggugut."


TBC


Bimo kenapa ya?

__ADS_1


Tinggalkan komentar positifnya


__ADS_2