
"Si bos ada ada saja, mana ada nyamuk nakal." sahut karyawan berjenis kelamin pria yang bernama Fendy.
"Maksud si bos yang disampingnya." Ujar Jenifer spontan dengan muka masamnya.
Sontak semua mata tertuju pada Jenifer. Apa maksud ucapan Jenifer itu.
"Kalau istriku, memang nakal di tempat tidur."
Nyut..
Kembali satu cubitan mendarat di pahanya Bimo.
Hahaha...
Para pria yang ada di ruangan itu tertawa. Tahulah kalau pria bicara mengarah ke arah itu, pasti senang.
"Mukamu gak usah seperti itu Romi, nampak kali kau gak laku laku...!" si Ferdy yang ada di sebelah Romi, mendorong pelan bahu Romi yang terbengong mendengar ucapan Bimo.
"Sudah, sudah, jangan diambil hati ucapan saya, anggap saja hiburan."
Melirik Rara yang wajah cantiknya sudah memerah karena malu, bisa bisa nya Bimo bicara seperti itu di depan karyawannnya. Mana sifat pamannya yang terlihat cool itu, kenapa jadi selengek an, membahas Masalah ranjang mereka. Apa karena kelakuannya tadi malam pada Bimo. Yang sukses membuat Bimo merem melek walau tak ada penyatuan?
Eemm
Para karyawan jadi salah tingkah di ruangan itu. Malu sendiri sebenarnya dengan ucapan Bimo. Hanya Jenifer yang terlihat tegang dan bermuka masam.
Setelah selesai acara briefing itu, Bimo memeriksa laporan dari semua karyawannya. Ya, ke empat karyawannya menangani bidang yang berbeda. Rara ikut memeriksa laporan itu. Yang tak ia mengerti pasti ditanyakan pada sang suami.
Kehadiran Rara di ruangan itu, membuat semangatnya Bimo bertambah Beratus ratus kali. Semua pekerjaan terasa ringan. Karena ditemani sang istri.
Setelah makan siang, ia mengajak sang istri melihat lahan yang akan diolah jadi agro wisata itu.
__ADS_1
"Nanti di perkebunan kita ini, selain kita tambah kan wahan bermain untuk anak anak. Aku mau buat patung kita berdua." Ujar Bimo, saat mereka berdua memperhatikan Desain perkebunan yang akan dibuatnya sebagai agro wisata.
Rara melirik Bimo dengan senyum manisnya.
"Jangan!" tolak wanita itu cepat.
"Kenapa?" tanya Bimo heran, ia merasa idenya sudah cemerlang.
"Gak mau aja, nanti banyak lagi yang ngejar ngejar aku, gara gara patung itu." Sahut Rara tersenyum tipis. Ia merasa sok ke pede an.
"Iya ya? gak jadi deh, nanti bakal muncul Alva Alva lainnya." Bimo menutup sketsa perkebunannya. "Sini dulu!" menarik Rara berdiri disebelah nya ke pelukannya. Mencium ekpres kening sang istri. Tentu saja Rara sangat bahagia dengan perlakuan romantis nya Bimo. Sungguh sangat berbeda saat mereka baru pertama kali menikah.
"Eemmm... Teringat nya koq bisa ayah yang membebaskan mu cinta?" tanya Rara, ia masih dalam rengkuhan Bimo. Menatap ke lahan yang sedang di traktor.
"Panjang ceritanya, kita bahas di kantor saja. Berdiri disini lama lama bisa buat kulit mu hitam nanti."
"Gak panas koq di sini!" Rara tak mau meninggalkan tempat itu. Ia masih mau di lahan itu.
"Panas sayang." Mau tak mau Rara pun harus ikut menyeret kakinya. Menyeimbangkan dengan langkah lebar sang suami, menuju kantor.
"Iihh... Mau apa?" Rara sudah merasa ada yang aneh dengan tatapan sang suami, tatapannya penuh mendamba. "Mau minta obat sakit kepala." Ujar Bimo, tangannya dengan cepat memegang lembut wajah sang istri agar tak berontak saat ia ingin menciumnya.
"Iihh... Cinta.., ini Di kantor. Jangan aneh aneh dong .!" Rara berusaha menghentikan lum-atan di bibirnya dengan menggerakkan kepalanya yang di tahan Bimo. "Di rumah saja entar malam."
Bimo tak mengindahkan pemberontakan manjanya Rara. Karena ia tahu, istrinya itu juga suka. Mulutnya saja yang banyak bicara. Tapi, istrinya itu sebenarnya menikmatinya. Apalagi kini tangannya Bimo sudah mere- mas gunung kembarnya dengan satu tangan. Sedangkan satu tangannya lagi menahan kepala sang istri dari belakang. Agar ciu-man lebih dalam.
Ciuman panas itu pun terjadi cukup lama. Rara bahkan merasa sangat terang sang, kalau seperti ini terus bisa setres dia. Tiga hari digrepe grepi in terus. Bagian bawahnya saja sudah semakin terasa tak nyaman. Sepertinya selain cairan warna merah yang keluar juga bercampur lendir putih.
Wanita itu bahkan mendesah pelan. "Ooouuwww.. Cinta... Kita pulang saja yuk..!"
Masih saling berpangutan, Bimo melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan nya. Jam pulang ada 45 menit lagi. Bimo sudah membuat aturan sebelum pulang, harus apel pulang dulu.
__ADS_1
"Belum waktunya pulang sayang, masih lama." Ujarnya setelah melepas panutannya di bibir merahnya Rara yang kini bahkan sedikit membengkak karena terlalu kuat disedot.
"Ia tapi gak juga seperti ini cinta?!" kini Rara menepis lembut tangannya Bimo yang mulai membuka kancing kemejanya.
"Ya ampun... Masak mau lihat saja gak boleh, istri sendiri juga." Pura pura merajuk, karena Rara tak mengizinkannya membuka baju yang menutupi si gunung kembar.
"Ya di rumah saja, jangan di sini." Protes Rara, Bimo terdiam, bersandar di kursi empuknya. Menatap Rara dengan wajah memelasnya.
"Pinginnya sekarang!" ujar Bimo nelangsa. Rara jadi gak tega. Ia pun akhirnya membuka sendiri kancing bajunya.
Tentu saja Bimo bersorak riang dalam hati. Bagian intinya sudah mengeras dibalik cela-na. Kesal juga ia kenapa tadi gak bisa menahan diri. Kalau tiap harus harus kocok arisan, bisa bahaya. Ia tak pernah melestarikan budaya seperti itu.
Jemari lentiknya Rara sudah berhasil membuka dua kancing. Wajahnya merah pias. Ujung hijabnya sudah diikat ke belakang, agar tak mengganggu acara menyusui.
Glek
Glek
Bimo kesusahan menelan ludahnya sendiri. Belahan dada sang istri sangat menggoda. Tak sabar ia ingin meraupnya. Tangannya kini mulai menjulur membantu sang istri melepas kancing kemejanya.
Tok
Tok
Tok
"Bos, ada tamu ..!"
Dug
Ser ..
__ADS_1
Bimo dan Rara sama terkejut dan tersadar. Ia dengan cepat membantu sang istri membenahi pakaiannya.
TBC