GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Mimpi


__ADS_3

Rara menarik napas panjang setelah mobil yang dikendarai sang suami sampai di depan rumah mereka.


Hhuufft...


Ia kembali menghela napas dalam, caranya yang menghela napas dengan tak biasa itu tentu menarik perhatian sang suami yang dari tadi sibuk bicara di hp.


"Eemm.. Napa sayang?" menatap lembut sang istri yang terlihat bete.


"Gak apa apa sih? kirain gak lihat aku ada di sini?" ujarnya dengan tatapan ke sana kemari. Sepanjang perjalanan pulang Bimo sibuk sendiri.


"Istriku ini bilang apa sih? ya tahulah tadi aku


sibuk. kita harus berangkat malam ini. Jadi aku menghubungi Romi, menjelaskan pekerjaan dan menyiapkan kepergian kita malam ini?" Jelas Bimo, membelai lembut wajah cantiknya Rara.


"Emang kita mau ke mana cinta?" tanya Rara tercengang. Mau ke mana mereka malam malam begini.


Bimo turun dari mobil, tak langsung menjawab pertanyaan sang istri. membuka kan pintu mobil untuk Rara. Wanita itu keluar dari dalam mobil dengan bingung nya. Suaminya itu tak langsung menjawab pertanyaan nya.


"Kita mau ke mana cinta?" tanya Rara lagi tak sabaran setelah keluar dari dalam mobil.


"Pulang ke kampung." Menggandeng tangannya Rara untuk masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Ooohh.. Kenapa mendadak kita pulang ke kampung?" tanyanya masih bingung setelah mereka di dalam kamar.


"Mau berziarah ke makam Ibu dan ayah. Sekalian kita buat acara kecil kecilan di kampung. Memperkenalkan kamu kekerabat sebagai istriku," Bimo menjeda ucapannya sejenak. Masih menatap lekat kedua netranya Rara, yang masih terbangong. "Dan lebih fokus buat anak di sana"


Puk...


Rara refleks memukul bahu sang suami, saat Bimo berbisik di telinganya mengatakan mau fokus cetak anak.


"Apaan sih cinta " keluh Bimo terkejut dalam serangan.


"Habis mesti kali bilang gitu." Rara yang semangat mau pulang ke kampung suami, mempacking barang barangnya.


"Tapi, dikerjaan kita lagi riweh. Mana Jenifer gak kerja selama seminggu ini." Ujar Rara, ia sudah siap mempaking barang barangnya.


"Kita gak lama di sana. Mau bersedekah dan minta doa pada kerabat, agar usaha kita ini lancar dan sukses. Sekalian mau kenalin kamu, biar mereka gak heboh lagi jodoh jodohin suamiku ini."


"Dijodoh jodohin?" tanya Rara tertawa kecil. "Wajar sih dicariin jodoh, habis sudah mau kepala empat gak nikah nikah." Hahhhaa.. Cara Rara tertawa membuat Bimo kesel.


Langsung menyumpal mulut sang istri dengan mulutnya. Tentu saja Rara menyambut ciuman tak terduga itu.


"Sudah makin jago istriku ini. Kirain menolak, malah disambut. Hihihi....!"

__ADS_1


Menertawakan Rara yang semakin hot. Ia suka Rara yang selalu terlihat bergairah.


"Lah emang enak, ngapain ditolak." Canda Rara, kini melanjutkan memasukkan barang barangnya ke koper.


"Nanti di sana lebih enak." Goda Bimo, ia sudah selesai mempaking barang untuk dibawa.


"Masak sih, kita kan di sana mau buat acara. Kapan *** *** nya?" tanya Rara bingung.


Hahahha .


"Benar benar sudah candu kamu ya sayang... Langsung mikir ke situ " Memeluk Rara dari belakang dan mencium gemes pipi sang istri.


"Acara kecil kecilan saja koq, mana lama." Jelas Bimo. Rara mengangguk pelan.


"Aku baru tahu, kalau aku gak punya ibu dan ayah mertua lagi." Ujar Rara sedih. Sudah gak tahu di mana ayah kandungnya. Sang ibu Rani juga gak ada kabar. Tentulah kenyataan ini membuatnya sedih.


"Iya, sudah enam bulan yang lalu ibu meninggal. Kalau ayah sudah tiga tahun lebih." Jelas Bimo dengan mata berkaca-kaca.


Ia ingin pulang dan berziarah, karena tadi malam ia bermimpi sedang dinasehati ibu dan ayahnya yang sudah meninggal dengan tersenyum.


TBC

__ADS_1


__ADS_2