GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Takabur


__ADS_3

"Yeeeaaahhhh... Asyik..!" teriak Rara di saat mereka sudah masuk ke area pasar malam. Sikap Rara malam ini benar benar seperti anak anak, meloncat meloncat dan teriak teriak karena kegirangan. Tak dipungkiri sifat kekanak-kanakan nya masih menonjol, karena ia masih tergolong anak remaja.


"Ya ampun ma, ramai sekali pasar malamnya. Ini sudah seperti Dunia fantasi." Ujarnya menatap takjub banyaknya pengunjung. Rara memang sudah lama gak lihat keramaian. Habisnya Ia dan Bimo stay di perkebunan sepi.


Pasar malam nampaknya  menjadi ajang warga untuk menikmati segala keseruan, permainan, keramaian hingga aneka dagangan tersedia. Pasar malam menawarkan kemeriahan dengan berbagai macam permainan mulai dari bianglala, kora-kora dan kereta-keretaan yang berhias lampu warna-warni. Tak kalah dibandingkan wahana semacam di Dunia Fantasi. Aneka permainan dan jajanan yang ada di sana diserbu warga yang datang dari berbagai desa. Antusiasme warga yang tinggi membuat pasar malam terus eksis.


Rani yang diajak bicara oleh sang putri hanya terdiam. Ia sekarang tak menyukai keramaian lagi. Ia sudah bosan dengan kehidupan yang semarak seperti ini. Ia ingin hidup yang tenang. Tapi, demi menyenangkan sang putri, ia terpaksa mau diajak ke tempat ini.


"Dek, kamu sehat kan?" Pak Kusuma yang darti tadi terus saja menyapa Rani, merasa ada yang tak beres dengan wanita pujaannya itu. Terlihat Rani mawas diri, dan tak mau membalas tatapannya. Padahal Rani bersikap seperti itu, karena merasa tak nyaman ditatap terus pak Kusuma. Mana tangan pak Kusuma selalu berusaha menggandengnya, saat melewati kerumunan orang banyak.


"Iya, aku mau pulang, aku pusing." Keluhnya.


"Pulang, ya Allah Ma. Belum juga kita naik wahana satu pun " protes Rara, ia ingin cobain naik kora kora. Terus masuk ke rumah setan.


"Aku mau pulang." Ujar Rani lagi dengan memelas. Kini wajah cantiknya nampak pucat.


"Satu wahana saja ya Ma. Aku mau masuk rumah hantu. Habis itu kita pulang." Ujar Rata mengacungkan telunjuknya.


Rara memang suka hal yang menegangkan.


"Jangan, jangan sayang. Nanti kamu lihat hantu beneran."


"Ya ampun Ma, hantu ditakuti. Baca saja ayat kursi dan suroh suroh lainnya Ma. Suamiku bilang nya gitu. Hantu jangan ditakuti Ma. Yang kita harus takuti itu sang pencipta. Karena kita banyak lakukan dosa." Ujar Rara sok merasa berani dan sok menasehati.


"Sayang, jangan takabur. Setan itu memang jelas ada." Ujar Rani masih terlihat ketakutan.


"Biarkan saja Rara cobain rumah hantu. Kita tunggu dia sambil makan gula kapas." Ujar Pak Kusuma lembut.

__ADS_1


Rani terdiam, ia terlihat masih ketakutan.


"Aku ke sana ya Ayah Mama." Menunjuk rumah hantu dengan semangat.


"Iya, hati hati sayang." Ujar Rani merasa berat hati melepaskan sang anak untuk masuk ke wahana yang menyeramkan itu. Sudah dilarang, tetap ngeyel.


Rara yang ingin meluapkan kekesalan di hatinya pada Bimo, sengaja ingin mencoba wahana menyeramkan ini. Ia ingin menguji adrenalin nya. Berteriak kencang di depan hantu hantu palsu itu.


Deg


Deg


Baru juga melangkahkam kaki, ia sudah merasakan hawa horor.


Di dalam rumah hantu itu sangat gelap. Cahaya hanya ada dari lampu neon berwarna merah yang ga tidak terlalu terang dan berkedip-kedip. Efek suara horor, suara burung hantu, dan suara-suara hantu pun mulai dinyalakan untuk membuat suasana seram semakin menjadi-jadi.


Satu per satu hantu muncul. Ada pocong, genderuwo, tuyul, kuyang, darah dimana-mana, dan potongan tubuh manusia mulai Rara temui.


“Kuntilanaknya Mana woy...!" teriak Rara tertawa cekikikan. Sedikit pun ia tak merasa takut. Bahkan ia mengancam hantu hantu palsu itu.


Rara berusaha menikmati wahana ini. Sebenarnya ia ketakutan, tapi syok syok berani. Ia harus bisa menjalani wahana ini sampai akhir. Coba ada Bimo, kan asyik ketakutan sambil meluk sang suami.


Tulisan ‘EXIT’ sudah terlihat di ujung lorong. Rara hanya perlu melewati satu lorong lagi sebelum akhirnya belok kanan ke arah pintu bertuliskan ‘EXIT’ itu. Saat itu Rara udah mulai lupa dengan sosok kuntilanak yang tak kunjung muncul.


Tepat sebelum sampai di akhir lorong, lampu di dinding sebelah kiri lorong menyala. Dinding tersebut dibuat seperti jendela, membuat seakan-akan ada yang mengintip dari luar jendela. Rara pun berjalan perlahan ke arah dinding itu


Awalnya tidak ada apa-apa, sampai akhirnya mendadak muncul sosok kuntilanak berbaju merah entah muncul darimana. Para pengunjung lainnya langsung berlarian ke arah pintu keluar yang hanya berjarak tiga meter dari tempat mereka berdiri saat itu.

__ADS_1



Tapi entah karena takut atau bagaimana, Rara hanya terdiam dan gak bisa bergerak sama sekali ketika melihat kuntilanak itu. Rasanya dia mau teriak, tapi tidak ada kata-kata apapun yang keluar dari mulutnya. Rara seketika menjadi gagap. Dia benar-benar merasa ketakutan.


Padahal tadi syok jago, bahkan ia jadi lupa baca ayat kursi dan suroh suroh seperti yang dikatakan nya pada sang ibu tadi.


Mendadak sosok itu menghilang. Rara lebih kaget lagi. Dia liat dengan jelas kalo sosok itu mendadak menghilang, bukan turun ke bawah atau bergeser ke kanan atau kiri. Rara pun mengeluarkan segala keberanian yang tersisa untuk lari ke arah pintu keluar.


Tepat sebelum dia membuka pintu, Rara kembali melihat ke arah lorong yang baru saja dia lalui. Di sana dia melihat ada sosok kuntilanak yang berdiri dan menghadap ke arah dia.



Matanya terlihat jelas putih. Rambutnya panjang berantakan dan terurai. Rara yang ketakutan lari keluar rumah hantu itu.


Dan disaat Rara sampai di luar, Rara kaget setengah mati dengan apa yang dia liat saat itu.


“Hah? Kuntilanaknya ada di luar?” ujarnya bingung. Tadi di dalam dia melihat dua kuntilanak, baju merah dan putih.


Sosok kuntilanak yang seharusnya menakuti mereka di rumah hantu itu sedang ada di luar untuk beristirahat. Sosok kuntilanak itu duduk di balik rumah hantu dengan beberapa pemuda lainnya yang sedang mencopot rambut kuntilanak dia. Mungkin karena dia pikir udah gak akan ada orang yang mau dateng ke wahana ini lagi. Dandanan kuntilanak yang ia gunakan pun berbeda dengan apa yang baru saja Rara temui di rumah hantu.



“Terus tadi di dalem asli gitu???” bicara sendiri dengan menggigit jari. Jantung berdebar berdebar kuat karena ketakutan.


"Mama.... Ayah....!" ujarnya histeris karena merasa ketakutan.


"Mama... Ayah....!" sosok yang dicari tak ada di penjual gula kapas. Tadi kan katanya beli gula kapas di tempat yang tak jauh dari tempat mereka terakhir kali berada.

__ADS_1


Rara panik dan masih bercampur ketakutan. Ia mencari ayah dan ibunya sambil teriak-teriak. Mana denger, orang di tempat itu ribut sekali. Dan bodohnya Rara gak kepikiran untuk menelpon sang ayah.


TBC


__ADS_2