
"Iihhh.. Kelakuanmu sangat memalukan sayang .!" cicit Rara gemesh mencubit pahanya Bimo. Kini mereka sudah masuk dalam mobil dan berniat pulang.
Bimo mengurungkan niatnya menghidupkan kontak mobil. Ia terkejut sekaligus meringis kesakitan, karena cubitan Rara di pahanya lumayan terasa. Ia mengusap usap pahanya yang ditutupi celana jeans-nya.
"Memalukan? apa kelakuanku yang memalukan?" tanya Bimo bingung, masih mengelus elus pahanya bekas cubitan Rara.
Huuufftt
"Oalah... Ternyata dia gak merasa, telah melakukan hal memalukan tadi." Rara menggeleng penuh ketidakpercayaan.
"Apa hal yang kuperbuat, sehingga kamu malu?" tanya Bimo semakin bingung. Ia merasa tak melakukan hal aneh.
"Tadi ngapain paman maju mundurkan panggul paman saat memilih ranjang itu?" ujar Rara dengan muka masamnya.
Bimo yang punya kelakuan aneh, ia yang malu. Apalagi pemilik toko memperhatikan kelakuan sang suami.
Sesaat Bimo terdiam, seperti sedang mengingat ingat sesuatu.
"Hahahaha...!"
__ADS_1
Ia pun akhirnya tertawa terbahak-bahak.
"Astaga... baru sadar ya kalau kelakuan paman tadi memalukan?" Ujar Rara heran, ia tak menyangka suaminya itu tak ada akhlak juga ternyata. Kelihatannya saja alim. Tapi, tadi sifat me sum nya keluar juga.
"Ya, sebelum membeli sesuatu harus diperiksa dulu kwalitasnya, serta manfaat extranya. Kalau hanya bisa digunakan untuk tidur, ngapain beli yang mahal-mahal. Makanya tadi di test dulu. Bagaimana tinggi ranjangnya, pas gak saat berdiri di sisinya. Hahahahahah....!" Bimo tergelak dengan kelakuannya sendiri. Kalau dipikir-pikir, yang dilakukannya memang aneh.
"Iya, tapi tadi kamu itu dilihatin orang sayang. Mesti kali maju mundurkan panggul. Ya sudah berdiri di sisi ranjang itu saja. Kan sudah bisa tu diprediksi tinggi rendahnya." Ujar Rara masih dengan terheran heran.
"Hahaha.... Sudah jangan bahas itu lagi. Aku jadi mikir nya kesitu. Nanti malam kamu pasti bilang makasih samaku, karena sudah beli ranjang yang bagus." Ucapnya masih senyam senyum. Dia jadi malu, tapi rasanya lucu.
"Dasar ... Me-Sum..!" ledek Rara. Melirik Bimo yang masih senyam senyum tak jelas.
"Mesum sama istri sendiri ya gak apa apa sih? Hihihi...!" masih merasa lucu dengan kelakuannya yang tak disadarinya saat di toko furniture tadi.
"Apaa ini? kursi kamar Sut-ra..?" ujarnya dengan tercengang. Kedua matanya Rara membola sudah, ditambah dengan mulutnya yang menganga. "Ya ampyun..... Sayang... Kamu yakin mau beli kursi ini?" menunjukkan kembali brosur yang dipegangnya ke hadapan sang suami. Ada gambar sembilan gaya yang bisa dipraktekkan dengan kursi itu.
"Iya, tapi itu nanti kita beli kalau sudah sampai di rumah. Bukan mau dipakai di sini. Kalau di sini, Kita pakai gaya yang lama aja dulu." Ujarnya masih mengulum senyum sambil nyetir.
Maklum pengantin baru, di otaknya itu itu saja.
__ADS_1
"Gak usah, geli aku melihat gambar gambar nya itu." Ketus Rara menyimpan brosur itu di dalam laci dasboard.
"Hihihi.... Yang geli itu nikmat sayang..!" Bimo melirik Rara dengan senyum me-sumnya.
"Tau ahhk... Terserah kamu saja sayang." Jawab Rara datar. Kembali fokus menatap ke badan jalan di hadapannya.
"Ya harus dibeli. Kita kan sedang usaha in anak kembar." Sahut Bimo cepat.
"Usaha seperti itu bukan menghasilkan bayi kembar. Bayi kembar bisa terjadi karena riwayat keturunan, dari makanan, minum hormon penyubur, atau buat program kehamilan bayi kembar." Jelas Rara serius.
"Itu dia kamu pintar. Emang ya, gak salah aku ajarin kamu dari kecil." Bimo terlihat bangga.
Rara merasa senang dikatakan pintar. "Apa dari keluarga paman ada keturunan kembar?" tanya Rara serius.
"Setahuku gak ada " Jawabnya lesuh.
"Berarti peluangnya jadi kecil." Ujar Rara.
"Ya kita usaha dulu. Kalau gak diberi kepercayaan kembar ya gak apa apa. Adek mau hamil saja Aku sudah bahagia sekali sayang." Ujar Bimo, meraih jemari Rara. Setelah pria itu memarkirkan mobilnya di depan sebuah toko bakery. Ia pun mengecup jemari yang putih halus lembut dan wangi itu.
__ADS_1
Rara dibuat terharu dengan ucapan tulusnya Bimo.
"Kita beli aneka kue dulu. Tambahan makanan nanti malam." Ujarnya lembut. Mereka pun turun dari mobil. Berjalan bergandengan ke dalam toko bakery.