
"Gak ma," menggeleng-gelengkan kepalanya lemah. "Tapi, tak tahu deh, kalau suamiku akan membocorkannya pada ayah." Jelas Rara dengan mengerutkan dahi
"Oalah... Rara..!" Rani terduduk lemas. "Cepat hubungi suamimu. Bilang, kalau ayahmu nyariin mama, jangan dikasih tahu keberadaan mama " Ujar Rani dengan paniknya. Sungguh ia belum mau bertemu dengan Pak Kusuma. Hatinya masih sakit, karena dicampakkan dalam keadaan hamil.
"Iya ma." Rara dengan cepat merogoh ponselnya dari tas sandangnya. Dan langsung menghubungi sang suami.
Dipanggilan pertama langsung terhubung.
"Kamu ke mana saja sayang? dari tadi aku telponin kamu tapi gak diangkat. Kenapa gak kasih kabar cepat kalau sudah sampai di kampung. Dari sini ke kampung hanya butuh waktu 45 menit naik pesawat. Dan sekarang sudah pukul tiga sore, kamu baru mau hubungi aku. Lihat dulu hapemu sudah berapa panggilan dariku..!" cecar Bimo dengan ekspresi kesal. Mulutnya secepat kilat saat melontar kan pertanyaan beruntun itu. Merepet pet pet
Rara sampai megap megap melihat ekspresi sang suami di layar hapenya. Alisnya bertaut, mulutnya melengkung turun sehingga tampak masam. Pertanyaan yang beruntun itu membuat sakit kepala.
"Ya ampun.... Tarik napas dulu sayang...! Rileks... Tarik napas.. Hembuskan!" ujar Rara seperti instruktur senam.
Bimo yang setres malah mengikuti ucapan istri nya itu. Bimo jadi terlihat lucu, seperti orang bodoh bodoh. Baru juga ditinggal setengah hari.
"Aku gak kepikiran megang hape suamiku."
"Oohh.. kamu sudah lupakan aku?" melotot kan mata pada Rara.
"Kalau lupa, mana mungkin ditelpon. Iihhh... Koq jadi nyebelin sih?" gerutu Rara geram, dari kemarin suaminya itu selalu cari gara gara. Belum sembuh hari Rara dengan pengakuan sang suami yang menyukai Anin, kini marah marah, karena telat kasih kabar.
"Kalau marah marah mending kita gak usah telponan. Sudah ya, assalamualaikum...!"
"Rara.. Koq dimatikan? kamu kan belum ingatkan Bimo, jangan kasih tahu sama ayahmu, kalau mama di sini." Ujar Rani dengan tak tenang.
"Sudahlah Ma, aku malas bicara dengannya. Mama gak dengar tadi, gimana paman Bimo marah marah padaku?" Rara yang capek, malah membaringkan tubuhnya di lantai papan pondok itu.
"Iya, tapi kalau ayahmu datang ke sini dan buat ribut gimana Ra? ini tempat mondok nak. Bukan tempat bahas asmara." Ujar Rani was was. Ia sungguh tak ingin berdebat atau mendengarkan penjelasan Pak Kusuma.
__ADS_1
Ia juga sedang tak ingin menjalin hubungan dengan siapapun saat ini. Kalau pun masih diberi kesempatan untuk membina biduk rumah tangga. Ia ingin berkeluarga dengan pria lain. Bukan dengan Pak Kusuma.
"Aku yang akan menghadang ayah. Nanti kita katakan pada penjaga pondok. Kalau ada yang cari ibu bernama Kusuma Adijaya, gak usah dikasih masuk " Pungkas Rara, tangannya terulur mengambil bantal. Tiba tiba saja ia merasa kantuk, setelah sampai di pondok sang ibu.
"Ra, Rara..anakku..." Rani menggoyang pelan tubuh sang putri, yang sudah terlelap tidur.
"Ra, Rara.. Nak Bimo nelpon lagi ini?"
"Gak usah angkat ma. Aku kantuk ma. Biarin saja, aku lelah Ma." Ujarnya dengan mata tertutup.
"Aduh.... Gimana ini? nanti gak diangkat malah salah paham lagi " Ujar Rani dengan bingungnya. Menatap penuh frustasi ponselnya Rara yang terus saja berdering.
Tak mau dibuat pusing dengan ponselnya Rara yang berbunyi terus. Akhirnya Rani pun mengangkatnya.
"Assalamualaikum... Nak Bimo?"
"Nak Bimo, Raranya sudah tidur. Ia seperti nya kelelahan." Ujar Rani lembut dan sopan.
Bimo sampai pangling dengan cara bicara sang ibu mertua yang berubah drastis.
"Oohh iya Bu, nanti kalau Rara bangun. Suruh hubungi aku ya Bu?"
"Iya nak Bimo."
"Baiklah Bu, ***...!"
"Eehh... Tunggu, tunggu nak Bimo, jangan matikan dulu." Terlihat Rani semakin gugup di layar hape.
"Iya Bu, ada apa?" tanya Bimo dengan penasarannya.
__ADS_1
"Itu, itu." Rani merasa enggan mengatakan hal yang mengganjal di hatinya.
"Iya Bu, bilang saja, gak usah sungkan." Ujar Bimo ramah.
"Kalau pak Kusuma menjumpai kamu, nanyain soal ibu. Jangan kasih tahu, kalau ibu di sini ya?"
"Apa...?" Bimo kaget dengan permintaan ibu mertuanya itu.
"Kamu kenapa? kenapa kaget begitu?" tanya Rani heran.
"Gak bu, gak apaa apa." Jawab Bimo, menunduk, tak sanggup menatap layar hape.
"Hanya itu pesan ibu ya nak Bimo. Kalau pak Kusuma cariin ibu, kamu bilang saja gak tahu ya!" menampilkan wajah penuh harap.
"I, iya Bu " Jawab Bimo gugup.
"Baiklah, terima kasih nak Bimo. Assalamualaikum..!" tersenyum tipis pada sang menantu
"Walaikum salam..!" panggilan pun terputus.
Gubrak, pria itu ambruk di kursi kerjanya. Pak Kusuma baru saja keluar dari kantornya. Dan Bimo sudah mengatakan keberadaan Rani.
"Hajab.... Aku pasti kena omelin nanti..!" umpatnya kesal, menyalahkan diri sendiri yang sok ikut campur.
Bimo mau memberi tahu keberadaan Ibu mertuanya. Karena ia ingin membantu Pak Kusuma dari masalah ini. Karena, kata Pak Kusuma, ia tak bisa tenang kalau gak bertemu Rani.
Bimo yang bisa merasakan kegundahan hati pak Kusuma. Akhirnya mengatakan keberadaan Rani.
TBC
__ADS_1