GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Tercengang


__ADS_3

Dengan menghela napas dalam. Rara pun turun dari mobil. Dan ia dibuat terkejut. Sampai ingin masuk lagi ke dalam mobil. Karena melihat sang suami berlari ke arahnya dengan tatapan tak bisa diartikan.


"Tamatlah riwayat ku!" Rara membatin, terpaku di sisi mobil. Langkah lebar dan tergesa-gesa Bimo, membuatnya semakin tegang.


Grapp..


Pelukan hangat penuh kekhawatiran dirasakannya saat ini. Rasa was was penuh ketakutan itu berubah jadi hari. "Kamu baik baik saja kan sayang?" memeriksa wanita yang lagi speachles itu dari kepala hingga ujung kaki. "Kamu gak kenapa kenapa?"


"Oowwuuuhhh..." Rara mengaduh kesakitan, saat tangan Bimo yang memeriksa keadaan Rara menyentuh paha yang ditutupi pakaiannya.


"Sakit, di mana yang sakit?" dengan penuh kekhawatiran Bimo berjongkok, hendak memeriksa paha Rara. Tentu saja Rara melarang sang suami melakukannya. Karena mereka masih di halaman rumah.


Rani tercengang melihat tontonan romantis di hadapannya. Ternyata Bimo sangat mencintai putrinya itu. Dan seperti nya pria yang terlihat khawatir itu lebih cinta dan sayang pada sang putri dibandingkan ia, sebagai seorang ibu.


"Eehh.. ada ibu, ayo kita masuk ke dalam Bu." Ucapan sopan dan ajakan dengan kode mata penuh ketulusan dari sang menantu membuat Rani terharu. Mata indah berkontak lensa warna hijau, yang senada dengan outfitnya itu terlihat berkabut. Pantas putrinya itu tak mau meninggalkan Bimo. Karena memang, pria yang dikatakannya bujang lapuk, dan miskin itu. Punya kekayaan hati yang luar biasa.


"Ayok masuk Bu.!" Ajak Bimo lagi, menoleh ke belakang. Karena ia kini sudah melangkah sambil membopong Rara, ala bridal style. Rara sebenarnya malu diperlukan seperti anak kecil, seperti sekarang ini. Masak digendong dihadapan sang ibu.


"Ayo ma, masukk..!" Ajak Rara lagi pada sang ibu yang masih tercengang itu.


Dengan langkah sedikit gamang, Rani menyeret kakinya juga ke dalam rumah pria yang dikatakan nya bujang lapuk. Ia memilih duduk di ruang tamu. Tak mau ikut sang putri ke kamar.


Sesampainya di kamar, Bimo mendudukkan pelan sang istri di tepi ranjang.


"Di mana yang tadi sakit sayang? Menyingkap gamis yang dikenakan Rara. Dan membuka leging sang istri. Dia ingin memeriksa paha istrinya itu.


"Ya ampun.. Ini memar sayang." Ujar Bimo sedih, memeriksa setiap inchi kaki putih mulusnya Rara. "Keterlaluan si Jenifer itu, aku tak akan melepaskannya."

__ADS_1


Kekhawatiran Bimo yang terlihat lebay itu membuat Rara begitu bahagia. Saking bahagianya ia sampai menitikkan air mata.


"Dari mana paman tahu, aku dan kak Jenifer bertengkar?" tanya Rara penuh selidik.


"Bi Sakinah yang cerita. Ini aku baru sampai di rumah. Bi Sakinah melapor dengan berlinang air mata. Aku jadi panik, mau nelpon kamu. Hape lowbat, buru buru di cas sambil nelpon kamu. Tapi, nomor mu gak aktif. Aku tu panik sekali. Koq bisa kamu bertengkar dengan Jenifer?"


"Hapeku mati?" Rara mencoba meraih tas selempangnya yang ada di sebelahnya. Ia merogoh tas itu, mengambil ponsel canggihnya. "Ya habis baterei juga." Ujar meletakkan hapenya di atas ranjang itu.


"Iya sayang, dari tadi aku telponin nomormu terus."


"Aku juga tadi siang nelpon nomor kamu sayang, tapi gak aktif." Jawab Rara cepat.


"Iya kah?" Bimo kembali memeriksa paha Rara yang membiru.


Tanpa permisi air matanya Rara malah menetes mengenai tangan sang suami.


"Gak." Rara menggeleng.


"Terus kenapa menangis?" Bimo dibuat bingung. Gak sakit, tapi menangis.


"Kamu kenapa gak cerita sayang, kalau usaha kita bangkrut?" Rara menatap lekat Bimo yang kini terlihat tegang dan seolah tak mau membahasnya.


Pria itu memutus kontak mata dengan sang istri dan kini terfokus ke paha sang istri yang membiru sebesar kelereng itu.


Bimo malu pada istrinya itu. Ia merasa jadi orang paling jodoh. Bisa biasanya ia ditipu karyawannya. Uang miliaran rupiah raip dalam hitungan jam. Padahal selama ini, ia sudah jadi asistennya Ezra yang berpengalaman.


Lima menit pun berlalu sepatah kata tak kunjung keluar lagi dari mulut sang suami. Rara tak mau mendesak Bimo untuk membicarakan itu lagi, karena bahasa tubuh sang suami mengatakan sedang tak ingin membicarakan itu.

__ADS_1


"Masih bisa sholat kan? kita ajak ibu mertua, sholat berjamaah di bawah." Ujar Bimo lembut.


Saat pasangan suami istri itu menapakkan kakinya di lantai satu. Terlihat sang ibu sedang duduk termenung di sofa. Ia bahkan tak menyadari kedatangan Rara dan menantunya.


"Ma, kita sholat berjamaah yuk?' ajak Rara mendekati sang ibu dan menjulurkan mukena .


"Sholat ?" tanyanya bingung dan terkejut. Wanita itu memang sudah lama tak sholat. Jangan jangan ia sudah lupa bacaan sholat.


"Iya ma." Sahut Rara lembut


"A, aku sedang tak bisa sholat." Jawab Rani tergagap karena bohong.


"Ya sudah, kami sholat dulu ya Ma. Setelah itu kita makan malam. Dan mama harus nginap di sini. Aku kangen tidur bareng dengan Mama.


Nyukkk....


Ucapan Rara, meredupkan semangat Bimo. Ia sudah kangen istri nya itu, ingin bicara banyak hal malam ini sebelum tidur. Eehh... Malah nawarin diri tidur dengan ibunya.


Huufftt...


Capek deh.


TBC


Maaf slow up date. Habis emaknya kurang sehat, kini boruku say. Kurang sehat.


Moga kita sehat selalu. Karena rezeki yang paling mahal itu kesehatan, selain dari uangggg🙂

__ADS_1


__ADS_2