
"Sakit... Sakit... Aku gak mau lagi..! Puuuuukkk...Kakinya Rara refleks menendang kuat tubuh Bimo. Bimo yang tak menyangka akan dapat tendangan maut, tersungkur kebelakang ambruk ke lantai.
Braaggkk..
Bokongnya mendarat dengan sempurna di lantai keramik berwarna putih mengkilap itu. Tentu saja rasanya lumayan sakit. Mana miliknya juga terasa semakin tersiksa, karena gak bisa menembus gawang pertahanan Rara.
Hiks ... Hiks... Hiks...
Rara yang merasa bersalah malah menangis, terduduk dan memeluk bantal, menutupi tubuh bagian depannya. Air mata jatuh membasahi pipi merah meronanya.
Sebenarnya tidak sakit sekali. Rasanya seperti terkena sayatan tipis. Tapi, rasa tegang membuatnya kalut. Tak sadar menendang Bimo.
Tadi Rara sudah menikmati permainan mereka. Walau ada rasa sakit, tapi ia yang masih Bira hi. Sehingga sakit sakit enak geli gitu. Seketika Bira hi Rara menguap, karena Bimo banyak tanya. Harusnya main terobos saja. Jangan banyak nanya sakit apa gak?
Hiks
Hiks
Hiks
Masih menangis, Rara juga bingung kenapa ia masih menangis.
Bimo terhenyak mendapati kenyataan bahwa Rara masih suci.
Koq bisa? bukannya waktu itu ia mendengar sendiri dari Ezra, kalau Rara ke tangkap basah ke dukun beranak. Kalau benar Rara masih perawan. Ia telah dosa besar pada istri nya itu. Karena telah berprasangka buruk selama ini. Bimo speechless sesaat.
Ini tak boleh ditunda tunda. Harus dibuktikan. Bisa saja Rara kesakitan, karena tegang tidak menikmati permainan atau karena miliknya yang terlalu besar, panjang dan keras?
Bimo membatin, bangkit dari duduknya dengan tubuh polosnya.
Melihat sang suami menghampirinya membuat Rara kembali terisak. Ia takut Bimo marah padanya.
"Maaf, maaf.. Aku tak sengaja." Ujarnya masih sesenggukan. Tak berani memeluk sang suami.
__ADS_1
"Iya sayang, istriku. Aku yang harus minta maaf. Karena memaksamu." Meraih bantal yang dipeluk Rara, melemparnya kesembarang arah, dan menarik sang istri dalam dekapannya. Menenangkan sang istri dengan mengusap usap punggung serta lengannya lembut.
Bimo sangat bersyukur, istrinya itu masih perawan. Akhirnya ia bisa memperawani wanita juga. Itu suatu kebanggaan buatnya. Ia yang merasa bersalah atas sikapnya selama ini, menghujani puncak kepala Rara dengan kecupan lembut dan penuh cinta.
"Sayang... Masih mau kan mencobanya?" bujuknya dengan tatapan memelas. Rara terdiam, bingung harus menjawab apa. Ia juga pingin, tapi membayangkan saat dimasuki tadi, membuatnya gila sendiri.
"Kasihani dia sayang." Mengarahkan tangan sang istri ke miliknya yang kini terasa berdenyut dan panas. Rara terkejut, ini bukan pertama kali ia memegang itu. Bahkan empat hari terakhir ini, ia sering berkaraoke.
Rara menatap sendu Bimo. Bimo tersenyum penuh maksud. Tangannya bergerak menyapu air mata sang istri.
"Ma, mau...!" ucapnya malu malu, tangan masih mere mas lembut milik sang suami.
"Coba cium dia..!" menunjuk miliknya yang mengacung.
Bimo sedang, membuat Rara memegang kendali. Agar sang istri tak takut dan tegang.
Rara pun melakukan apa yang diinginkan suaminya itu. Tentu saja Bimo dibuat menggila. Ia tak tahan lagi. Ia mengerang penuh kenikmatan. Dengan cepat ia menarik tubuh sang istri. Menindih istrinya itu dengan gairah yang bergelora hebat. Ini tak bisa ditahan lagi.
Bimo mulai mendarat kan lagi ciu mannya di bibir sang istri. Lembut tapi, sangat terasa. Bimo sudah seperti cacing kepanasan. Luma tannya meninggalkan bekas merah di leher dan gunung kembar sang istri. Tangannya masih sibuk mengobok obok bagian inti bawahnya Rara, yang membuat Rara kembali Mende sah hebat.
Ini saatnya Gumam Bimo.
Dengan perlahan ia memasukkan miliknya yang besar dan keras itu. Bimo pun tidak bisa mengontrol lagi dan tidak bisa mengendalikan lagi karena Bimo akan segera mengakhiri drama buka segel ini.
"Aaahh cinta, sayang.. paman.. Aawww ngilu... Ngilu .. Sakit... Perih... Tolong ... Tolong ... Sayang pelan...! jerit Rara kesakitan. Mencakar kuat tangannya Bimo yang memegang kedua pahanya. Bimo tak mau ditendang lagi.
Bimo tidak peduli dengan Rara yang kesakitan itu. Sampai kapan di jeda terus. Bisa gila dia.
Bimo terus mendorong kuat pinggulnya, miliknya yang besar harus bisa membobol selaput darah Rara
"Rara... Istriku...!" Terbukti sudah kalau Rara masih perawan. Bimo semakin semangat dan sangat bersyukur. Ia kembali mendorong kuat miliknya menghujam gua kenikmatan itu. Dan
Blusshh
__ADS_1
"Ooouuww..!"
"Aaakkhhhhh..!"
Bimo mengerang nikmat sedangkan Rara menjerit kesakitan.
Dunia serasa berhenti berputar, buat keduanya.
Ada tatapan rasa syukur dan menyesal di netra indahnya Bimo. Sedangkan di netranya Rara, ada kelegahan. Akhirnya ia kini sudah jadi wanita. Bukan gadis lagi.
Bimo mencium lembut kening Rara, wanita itu pun memejamkan matanya. Ia ingin menikmati penyatuan mereka. Milik sang suami masih menyumpal di gua kenikmatan miliknya.
"Istriku... Tahan ya?" ujar Bimo lembut, mulai menggerakkan pinggulnya. Satu tangan mere mas gunung kembar secara bergantian. Sedangkan satu tangannya lagi masih menahan tubuh dengan memegang kakinya Rara.
Bimo sedang memperlebar jalan lintas. Agar miliknya Bisa bergerak bebas dan sang istri tidak kesakitan.
"Masih sakit Cinta..!" keluh Rara, saat Bimo menyodok nyodok intinya.
"Ia tahan ya?" kembali menc ium Rara lembut. Dengan pinggulnya terus maju mundur. Memompa miliknya Rara
Dan Bimo pun menghujani miliknya Rara, dengan tempo cepat dan kuat
"Aaakjhh.. Aakkkk.. Oowwhh..!" teriak Rara kesakitan, sungguh ia tak merasakan sedikit pun kenikmatan.
Bimo tak peduli lagi, lahar panas harus keluar. Pergerakan pinggul semakin cepat, saking cepatnya tubuhnya Rara bergoyang goyang sudah.
"Aakkhh... Ooweuugghh..!"Bimo sudah merem melek, seperti nya cairan cintanya akan keluar. Ia mempercepat gerakannya. Rara masih menjerit kesakitan, walau ia tak teriak lagi.
"Rara... Istriku... Ooowwhh..." Bimo menimpa tubuh sang istri. Memeluknya erat, sambil pinggul terus menghujam gua kenikmatan itu.
"Oowewhh... Aakkk..!" kini erangan, teriakan leguhan Bimo yang memenuhi udara. Ia pun memeluk Rara dan mencium lama kening nya .
TBC
__ADS_1
Komentar yang positif ya. 🙏❤️