GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Minta maaf


__ADS_3

"Kakak pikir aku wanita bodoh, yang akan terpengaruh dengan ucapan menyudutkan itu? kalau aku pergi, kakak pasti tertawa penuh kemenangan dan Kakak bicara seperti itu mau merebut paman dariku kan? kasihan sekali sih dirimu, cinta tak terbalas!"


"Hei...!" Jenifer geram, telunjuknya mengarah ke Rara yang sok tegar itu. Rara terdiam seketika, karena melihat kemarahan Jenifer yang berapi rapi.


Rara menurunkan tangannya Jenifer yang mengatung di udara. Sikap tak gentarnya Rara sungguh mengejutkan Jenifer. "Kalau gak benar gak usah semarah itu. Aku bukan anak kecil yang bisa kakak provakasi!" menghempas kuat tangannya Jenifer yang tadi diturunkan Rara dari hadapannya.


Rara yang tak mau ribut, memilih turun dari pondok itu.


Grappp...


Jenifer tak terima dengan sikap menantangnya Rara. Ia menahan bahunya Rara yang hendak turun dari pondok. Rara memutar lehernya menoleh ke belakang.


"Berani kamu sekarang ya? kamu tahu kan Rara, kalau kamu itu bukanlah anak orang kaya lagi. Tapi, koq masih sombong kamu ya?" Bicara dengan penuh emosi.


"Kalau seperti mu orangnya memang pantas dapat diperlakukan seperti itu. Turunkan tanganmu dari bahuku!"


Jenifer tak mengindahkan ucapannya Rara. Bahkan kini tangannya mencengkram kuat bahunya Rara.


Tak mau berdebat, Rara menghempaskan tangannya Jenifer dari bahunya. Ia bergegas turun dari pondok itu.


"Siap siap saja Abang Bimo akan mencampakkanmu. Dasar wanita Ja-lang, kau itu sama persis seperti ibumu yang tak tahu malu itu..!"


Nyut....


Ucapan Jenifer sangat menyakitkan. Membuat darah mendidih mendengarnya sampai ke ubun-ubun. Kenapa harus menyinggung ibunya. Ini masalah tak ada hubungannya dengan sang ibu.


Rara membalik badan, menatap Jenifer yang berdiri di pondok itu dengan berkacak pinggang. Ia ditantang sudah.

__ADS_1


"Ngacak..., jangan merasa sok suci. Kamu sekarang sedang membicarakan dirimu sendiri."


Ciihhh


Rara berdecak kesal, ia melanjutkan langkahnya. Ogah meladeni Jenifer.


Sedangkan Jenifer semakin dibuat geram. Ia meloncat dari pondok itu. Mengejar langkah Rara, yang terlihat masuk ke dalam kantor.


Saat sampai di kantor. Jenifer merapikan rambutnya yang tergerai panjang itu. Mengusap wajahnya lembut. Menstel ekspresi wajah ramah. Karena Ia tak mau karyawan lainnya mengetahui pertengkaran dengan Rara di pondok.


Jenifer duduk di kursi meja kerjanya. Mulai mengerjakan pekerjaannya. Sedangkan Rara masuk ke ruang kerjanya Bimo. Ia mempelajari berkas berkas yang ada dimeja sang suami. Tentu saja ia meminta penjelasan yang tak dimengerti pada karyawan Bimo lainnya, yang berjumlah 4 orang termasuk Jenifer.


Hingga waktu pulang pun tiba, Rara baru keluar dari ruang kerjanya Bimo. Dan ternyata di kantor darurat itu, yang tersisa hanya Ia dan Jenifer.


"Aku mau bicara denganmu!" ucapannya Jenifer membuat Rara menghentikan langkahnya.


"Bukan soal pekerjaan." Jawabnya datar, menatap lekat Rara yang berdiri di ambang pintu keluar.


Rara melanjutkan langkahnya. Ngapain dia bicara dengan orang yang buat tekanan darah naik. Pasti Jenifer mau bahas Bimo suaminya lagi


"Heii... RARA... Tunggu, aku mau minta maaf!" Mengejar langkah Rara yang sudah sampai di parkiran.


Rara menghentikan langkahnya mendengar ucapan Jennifer.


Minta maaf?


Kedua bola mata Rara bergerak ke kanan dan ke kiri tak percaya mendengar ucapannya Jenifer. Dan kini Jenifer sudah ada di hadapannya.

__ADS_1


"Soal tadi siang, aku minta maaf!" ucapannya Jenifer terlihat tulus. Ekspresi wajahnya juga penuh penyesalan.


"Ia kak, maaf diterima." Rara tahu, Jenifer ini pandai berakting. Jangan jangan psikopat lagi. Jadi bersikap biasa saja.


"Aku pulang duluan." Langsung masuk ke dalam mobil. Tak mau banyak bicara dengan Jenifer.


"Sok kali, lihat saja. Bimo pasti jadi milikku!" gerutu Jenifer kesal, menggaruk kepalanya yang tiba tiba gatal segatal gatalnya. Ia membalik badan ke arah motornya yang terparkir di dekat tempat itu juga. Saat itu juga ia yang kesal, menendang udara, eehh gak tahunya ada tumpukan batu di depannya.


"Oooww... Sakit...!" Ia memeriksa kakinya dengan melepas flatshoes nya.


"Iiiiissshh.. Sakit nya..!" ujung jempol kakinya nampak memerah. Ia mengusap usapnya hingga rasa sakit itu hilang. Dan ia pun memutuskan untuk pulang. karena waktu sudah menunjukkan pukul 18.20 Wib.


Rara sudah sampai di depan rumahnya. Ia dikejutkan dengan Mobilnya Alva yang terparkir di halaman.


"Ya ampun... Apa lagi sih mau pria ini?" gerutu Rara kesal. Turun dari mobil dengan malasnya, karena melihat Alva sudah ada di beranda rumah. Duduk santai seolah tak ada salah.


"Kamu lama sekali sih di sana. Jam segini baru pulang?"


Mengerut sudah keningnya Rara mendengar pertanyaan ngerocosnya Alva. Emang ia siapa?


"Kami sedang tak menerima tamu, sebaiknya anda pulang. Kalau mau buat masalah." Jawab Rara datar, mempersilahkan Alva pergi dari rumahnya dengan kode tangannya yang terbuka lebar.


Hahhaha .


"Kamu lucu, buat gemes tahu!"


TBC

__ADS_1


TBC


__ADS_2