GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Tak percaya diri


__ADS_3

Luka memar di wajahnya Bimo sudah dikompres dan diobati Rara. Wajah tampannya lumayan bengkak, terutama di bagian mata, pipi dan sudut bibir. Intinya wajah nya Bimo sudah jelek dan terlihat lucu.


"Apa kamu menyukai pria itu?" ujar Bimo lirih, menatap lekat Rara yang hendak beranjak dari duduknya. Bimo baru saja diobati olehnya. Bimo melarang Rara memanggil dokter. Tapi, ia meminta Bi Sakinah mencari tukang pijat yang bagus. Karena lengan persambungan bahu, pergelangan tangan dan punggungnya Bimo terasa sakit. Seperti nya ia terkilir. Dan ia sudah selesai dipijat.


Rara menatap malas Bimo. Dari tadi banyak sekali pertanyaan aneh sang suami yang membuat eneg. Mulai dari menanyakan apakah ia memang terlihat sudah tua. Terus apakah ia memang jahat pada istrinya itu. Tentu saja Rara menjawab iya. Bimo memang tergolong tua, sudah 36 tahun belum menikah. Orang umur 36 tahun sudah punya anak yang sudah bersekolah. Terkait ia yang merasa dirinya jahat. Ya memang betul, Bimo bersikap keterlaluan padanya.


Huuffttt...


Rara menghela napas dalam.


"Dari mana ceritanya aku menyukai orang yang tak ku kenal. Paman jangan mengada ngada deh."


"Jangan panggil paman, sudah berapa kali ku bilang. Lihat, pria itu beranggapan kamu keponakanku!" tegas Bimo menatap lekat Rara.


"Iya iya, aku tak menyukainya suamiku. Aku hanya suka pada seorang pria yaitu pria di hadapanku!" Kembali duduk di tepi ranjang, membalas tatapan sedihnya Bimo dengan tersenyum manis.


"Bohong.... Dulu ngebet pingin nikah dengan Ferdy. Dan sekarang bilang cinta samaku!" Bimo sungguh cemburuan. Ia ingin mengorek lebih dalam perasaan Rara padanya.


"Hadeuhh.... Koq pama, eehh suamiku jadi gak percaya diri. Aku tu dulu memang pernah suka dengan Ferdy. Karena ia pria baik. Ya sekedar suka saja. Sekarang aku gak pernah memikirkan nya lagi. Beda dengan paman, kalau paman dari dulu sampai sekarang kan aku tetap suka dan memikirkan paman."


"Jangan panggil Paman...!" bicara dengan merapat kan gigi. Tapi, hatinya berbunga-bunga mendengar ucapan Rara.


"Iya, iya...!" Rara sudah terbiasa memanggil paman, jadinya sulit diubah.


Sudah sakit masih cerewet.


Rara membatin, menggelengkan kepalanya sambil beranjak dari duduknya.


"Mau ke mana? jangan pergi!"


"Mau ambil makanan suamiku. Suamiku yang ganteng, baik, harus makan terus minum obat!" ujar Rara geram, tapi ekspresi wajah dibuat riang.

__ADS_1


SABAR.... SABAR....


Bimo tersipu malu dapat pujian lagi.


"Jangan bohong, tadi katamu aku tua dan jahat. Sekarang kenapa bilang nya aku ganteng dan baik." Masih melontarkan kalimat yang membuat kesal mendengar nya


Hadeuhh....


Koq jadi nyebelin ini orang. CEREWETTT..!


Rara membatin, berusaha sabar dan tenang menghadapi sang suami yang sedang mengalami krisis kepercayaan diri.


"Ya namanya suami sendiri. Ya dibilang baik dan ganteng lah. Gak mungkin juga dicaci."


"Jadi, aku beneran jelek!" kesal, ia sampai bergerak dari pembaringan. Ingin menangkap Rara. Ia gemes dikatakan jelek.


"Mau jelek, ganteng. Itu sama saja Dimata Sang Pencipta. Yang dinilai Allah itu amal ibadahnya. Kan dulu paman sering bilang seperti itu samaku. Sekarang kenapa mempermasalahkan penilaian manusia. Lagian paman sudah laku, jadi gak usah mikirin lagi ucapan orang mau bilang jelek, jahat dan sebagai nya." Ujar Rara semakin kesal.


"Iya..!" Rara lebih baik cepat ke dapur. Memberikan makan suaminya itu dan minum obat pereda ras nyeri. Walau tak berobat ke dokter. Bimo paham betul tentang obat-obatan.


Bimo yang telah kehilangan kepercayaan diri itu. Beranjak dari atas ranjang. Dengan meringis kesakitan di bagian lengan dan punggung ia berjalan ke arah cermin. Ia memperhatikan tampangnya di cermin itu.


"Ganteng gini dibilang jelek.. Brad Pitt kalah jauh..!" ucapnya sendiri, memegangi wajahnya yang lebam dan bonyok itu.


Sementara Rara di dapur tengah menyiapkan makan malam untuk mereka. Ia juga belum makan. Dari tadi ia sibuk mengobati sang suami.


Tin Nong


Tin Nong


Tin Nong..

__ADS_1


Suara bel terdengar tak sabaran.


"Siapa yang datang malam malam begini?" tanya Rara kepada Bi Sakinah, yang sedang membantunya menyiapkan makan malam.


"Gak tanu Non." Bi Sakinah mengangkat bahunya.


Tin Nong


Tin Nong


"Bukain pintu Bi, seperti nya Kak Jenifer." Bicara lembut dan sopan kepada Bi Sakinah.


"Iya Non..!" BI Sakinah bergegas ke pintu utama.


"Ya ampun.. , pantas perut terasa ngisap. Ternyata sudah pukul 21.48 Wib." Rara bicara sendiri menatap jam yang bertengger di dji dapur itu.


Bi Sakinah berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri Rara di dapur. Rara sampai dibuat heran.


"Non, non, ada pak Polisi di luar. Katanya mau Menangkap tuan Bimo!" ujar Bi sakinah panik dan ketakutan.


Jelas ia takut, ia sudah berumur 55 tahun. Baru kali ini ia bicara dengan polisi. Begitu juga dengan Rara. Wanita itu sudah trauma dengan namanya pihak berwajib. Karena ia sering berurusan dengan aparat negara itu.


"Polisi...?"


Prangg


Pengg


Nampan stainless yang ada di tangan Rara terjatuh ke lantai. Makanan yang ada di dalam wadah tumpah sudah.


TBC

__ADS_1


Like, coment positif vote hadiah say


__ADS_2