GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Ibunya masing-masing


__ADS_3

Acara merajuk diperpanjang hingga malam hari. Ezra yang tak mau ada keributan memilih sabar dan mendiamkan Zahra. Ia akan mengajak istrinya itu bicara, disaat istri nya itu sudah merasa tenang.


Ezra pun akhirnya tak mau mengganggu sang istri yang ada di ruang spa. Ya di setiap rumahnya Ezra. Pasti ada ruang spa. Jadi, setiap penghuni rumah yang ingin memanjakan diri. Merilekskan pikiran dan tubuh tak perlu lagi keluar rumah ke tempat spa. Bahkan ART dapat jatah memanjakan diri di spa itu.


"Rara, kamu ada waktu gak dengar curhatanku?" Kini Zahra sedang melakukan panggilan video kepada Rara. Acara memanjakan diri telah selesai, dan kini ia sedang bermalas malasan di atas ranjang.


Wanita itu lagi kesal. Sang suami tak kunjung membujuknya, hingga kini sudah pukul 10 malam dan sudah saatnya tidur.


"Ya adalah momsky Zahra. Kalau gak ada mana mungkin kita VC an." Jawab Rara dari ujung sana. Terlihat wanita itu sedang telungkup dengan kedua kaki di angkat dan di ayun ayunkan. "Emang mau cerita apa momsky?" Rara tersenyum manis pada Zahra.


"Si Ibot Bimo kemana? koq aku gak lihat batang hidungnya di kamar?" tanya heran, biasanya juga disaat Zahra nelpon jam 10 malam, si Bimo sudah ada di kamar.


Rara terdiam, bibirnya terlihat ditekuk. Ia masih kesal pada sang suami. Karena mengakui rasa sukanya pada Anin.


"Lagi di ruang kerja momsky." Jawabnya datar, mengingat Bimo membuat suasana hatinya jadi buruk. Tadi malam mereka gak jadi wik wik. Rara yang sudah membuka semua pakaian dan pasrah untuk dijamah. Eehh Bimo malah menutupnya kembali. Dan mengatakan gak usah dikasih, kalau gak ikhlas. Dan suaminya itu malah ikut merajuk hingga malam ini. Dan seharian ini Bimo memang sibuk, mengurus kasus Jenifer. Terkait uang digelapkan, masih ada yang terselamatkan.


"Oohh... Samalah dengan ayahmu. Dari tadi di ruang kerjanya terus. Kesal aku...!" Terlihat eskpresi wajah bete nya Zahra sangat jelas di layar hape.


"Kesal? momsky bertengkar dengan ayah? gara gara apa?" tanya Rara antusias. Koq bisa ayahnya buat Zahra kesal. Setahu dia ayahnya itu pandai merayu hingga Zahra selalu dibuat kesemsem.


"Eemmm...!" Zahra cemberut, Ia yang tadi melakukan panggilan video dengan posisi tidur miring. Kini mengubah posisinya jadi duduk dan bersandar di headbord tempat tidur. "Kalau sang suami memuji kecantikan wanita lain di depanmu? kira kira kamu marah gak sih Ra?"


"Ya marahlah .!" Jawab Rara dengan antusias, ia bahkan mengepal kuat tangannya. Sontak Zahra dibuat heran dengan reaksi Rara, atas ucapan nya.


"Iya nih, bete aku. Ayahmu memuji wanita lain." Zahra terlihat lemas.


"Masak sih?" Rara tak percaya dengan ucapan Zahra. Tak mungkin ayahnya seperti itu.


"Iya..!" Tegas Zahra, mulai kesal, karena Rara tak percaya dengan ucapannya.


"Kalau muji cewek dengan kata cantik, menurutku itu hal biasa. Kan yang namanya cewek pasti cantik. Gak mungkin juga ganteng kali.. " Pungkas Rara masih serius menatap Zahra di layar hapenya.


"Gak biasanya ayahmu seperti itu. Apa karena aku sedang hamil ya? jadi aku ini gak terlihat cantik lagi. Ya kamu lihat sendiri. Berat badanku sudah naik 10 kilo." Ujar Zahra lemas. Ras percaya diri hilang sudah, karena bentuk badan yang berubah karena sedang hamil.


"Kalau memuji seorang cewek cantik, itu menurutku masih hal biasa. Kecuali dia mengaku ada rasa suka, itu baru bahaya." Kini Rara yang terlihat sedih di layar. Jelas ia sedih, ia teringat ucapan Bimo yang menyukai Anin.


"Mukamu kenapa sepat gitu? kamu berantem juga dengan Bimo?" kini Zahra yang penasaran dengan keadaan Rara.

__ADS_1


Rara menganggukkan kepalanya lemah.


"Kalian berantem karena apa?" Zahra semakin penasaran dengan alasan pertengkaran Bimo dan Rara.


"Ya sama dengan kasusmu momsky. Suami suami kita seperti nya tak sayang lagi dengan kita."


Huaahua...


Kedua wanita yang cari penyakit sendiri itu malah sama sama menangis histeris. Ekspresi wajah keduanya terlihat lucu.


"Apa? berani ibot Bimo menduakanmu?"


"Soal itu aku tak tahu pasti. Tapi, ia mengaku menyukai seseorang." Jawab Rara dengan berurai air mata.


"Astaga... Itu si Bimo gak tahu diri. Gak bersyukur apa, dia dapat istri cakep dan hot sepertimu?" Ujar Zahra menggeleng heran.


"Gak tahu aku momsky. Pokoknya aku kesal sama paman. Dan dia juga gak bujuk bujuk aku dari semalam. Berarti nener dia ada rasa dengan cewek lain."


Karena sama sama merasa tak dicintai. Kedua wanita yang lagi cemburu itu, malah saling dukung, menyimpulkan kalau suami suami mereka tak setia. Masih suka memikirkan wanita lain.


Ya dasar cewek memang suka hiperbola. Membesar besarkan masalah. Memainkan pikiran negatifnya.


"Kenal, kenal banget monsky." Menangis tersedu-sedu. Dengan tangan cepat melap air mata.


"Siapa wanita itu? kamu jangan khawatir. Aku akan bantu kamu labrak wanita itu."


"Apa.?" Rara kaget mendengar ucapan Rara. Mana mungkin mereka melabrak Anin.


"Koq kamu kaget gitu? katakan siapa wanita itu. Besok aku akan terbang ke Medan. Kita labrak wanita yang sudah menggoda Si Ibot Bimo." Ujar Zahra dengan antusias nya. Ia memang sudah kangen menjambak orang. Ia kangen berkelahi.


"Katakan, katakan siapa wanita nya?" Cecar Zahra, karena Rara masih bungkam.


"Ra, kamu jangan takut. Ayo cerita lebih detail. Siapa wanita yang menggoda suamimu. Aku jadi gak tenang ini. Tadinya mau curhat masalahku. Ternyata kamu lebih parah masalahnya." Ujar Zahra masih dengan semangat.


"Bener kamu mau labrak wanita itu?" tanya Rara ingin kepastian.


"Iya, aku Kana bantu kamu labraknya." Tegas Zahra.

__ADS_1


"Baiklah, aku juga akan bantu kamu labrak wanita yang dipuji ayah itu." Harus ada keuntungan dikedua belah pihak. Kerjasama dengan cara simbiosis mutualisme.


"Emang siapa wanita yang disukai Si Ibot Bimo?"


Rara terdiam, terlihat seperti berfikir keras untuk menjawab pertanyaan Zahra.


"Siapa? ayo cepat katakan?" desak Zahra.


"Anin, Anin, ibumu Momsky..!" Ujar Rara lemas.


"Apaa..? kau jangan mengada ada Rara.


Mana mungkin kita labrak ibuku." Ketus Zahra tersenyum kecut.


"Iya memang. Tapi, paman suka ibumu Anin, momsky." Rara terlihat sedih.


"Itu dulu." Jawab Zahra cepat.


"Iya sih, tapi mungkin ras suka dan cinta paman pada ibu Anin, belum hilang, padahal aku sudah jadi istri nya." Sungut Rara sedih.


"Ya samalha dengan ayahmu. Yang masih suka dengan mantannya." Jawab Zahra malas.


"Mantan, mantan ayah? ibu Anin juga yang dipuji ayah itu ?" tanya Rara dengan mata membola. Koq hebat sekali wanita yang bernam Anin. Bisa membuat dua pria susah move on.


"Bukan Umakku Rara. Tapi, omakmu. Mama Rani mu yang dipuji Ayah Ezra."


."Apa..? Mama Rani? apa kalian bertemu Mama?" tanya Rara antusias.


Zahra mengangguk kan kepala cepat.


"Ya Allah terima kasih. Terimakasih Momsky.. Eemuuaaccchhh!" Rara jadi lupa dengan kegundahan hatinya yang dicueki Bimo.


"Tak mungkin ayah ada rasa dengan mama Rani, Momsky gak usah cemburu gitu." Jelas Rara dengan semangat serta bahagia.


Zahra hanya memonyongkan bibirnya, tak percaya dengan ucapan Rara.


"Besok aku ke kampung. Temani aku ke tempat mama Rani ya momsky?!" pinta Rara semangat.

__ADS_1


"Iya iya." Jawab Zahra tak semangat. Ia ingin curhat, eehh malah Rara yang jadi curhat.


TBC


__ADS_2