GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Tamu


__ADS_3

"Kamu lucu, buat gemes tahu!"


"Saya sedang tidak ngebanyol!" menatap kesal Alva. Wajah cantiknya Rara masam sudah.


"Ya begitu saja marah."


Rara tersenyum kecut menanggapi ucapan Alva.


"Ya marahlah, kehadiranmu itu sudah mengusik kehidupanku. Aku bisa laporkan kamu, karena telah mengusik ketenteramanku." Tegas Rara semakin kesal.


"Mau lapor, silahkah! ditunggu laporannya!' Si Alva malah nantangin.


"Ngapain sih, kamu buntutin aku terus?" Rara sadar, ia melapor pun tak akan ada hasil, lawan dia orka. Pasti buat ribet.


Huufftt...


Dadanya Rara kembang kempis. karena emosi saat ini. Pria dihadapannya sangat menyebalkan.


"Ya mau dekat aja denganmu." Jawab Alva enteng.


"Aneh! kamu tahu kan aku sudah menikah." Ketus Rara jengkel.


"Tahu, tahu banget." Bicara antusias dengan tangan ikut bergerak.


"Kalau tahu, ngapain mau dekat denganku?" Tanya Rara dengan merapatkan deretan gigi rapi dan putihnya. Ia geram sudah, tak tahan lagi dengan tingkah pria aneh di hadapannya. Ia lelah, ingin istirahat sebentar dan habis magrib mau jenguk sang suami di kantor polisi.


"Hei.. Jangan salah sangka. Aku ingin dekat gak ada tujuan aneh. Ya mau menambah saudara saja. Menjalin hubungan silaturahmi. Dengan menjalin hubungan silaturahmi, bisa memperluas rezeki loh!"


Muak sudah Rara dibuat tamu tak diundang ini. Ia sedang tak mau diceramahi.


"Tak ada saudara yang memenjarakan saudara sendiri." Ujar Rara tegas.


"Kan bukan aku yang menjarain."


"Aakkhh... diamlah..! ribet kali ngomong denganmu. Kalau mau kita jadi saudara, bebaskan dulu suamiku." Menunjuk Alva dengan tatapan kesalnya.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan bebaskan. Salaman dulu dong..?" meraih cepat tangan Rara. Saking cepatnya tangannya diraih Ia tak sempat mengelak.


"Besok suamimu akan bebas. Dan kita beneran jadi suadarakan?" Mengedipkan kedua matanya dan tersenyum manis.


Rara terdiam sejenak. Ia ragu juga dengan tawaran Alva. Kalau Alva sering jumpai dia nantinya. Bisa kiamat rumah tangga nya.


"Iya." Menarik kuat tangannya, karena Alva terlihat ingin mencium tangan yang disalamnya itu.


"Kau..!" Rara geram, kesel sudah ia dengan sikapnya Alva yang tak tahu malu.


Hehehe..


Alva ngenyir, Rara muak melihatnya.


Ia yang tak mau membuang waktu berdebat dengan Alva. Akhirnya masuk ke dalam rumah dan mengunci cepat rumahnya.


"Besok pagi, aku bawa suami pulang..!" teriak Alva dari luar


"Gila...!" umpat Rara kesal. Ia bergegas menaiki anak tangga menuju kamarnya.


***


"Non, tadi ada yang cariin Non dan tuan." Lapor Bi Sakinah, menatap sendu Rara yang tak bersemangat.


"Tanu yang tadi itu Bi?" Rara beranggapan yang mencarinya adalah Alva.


"Bukan Non, ya g cariin Non dan tuan sepasang suami istri. Katanya orang tuanya E non."


"Apa .? ayah dan momsky ke sini Bi? kapan Bi, jam berapa? kenapa bibi gak hubungi aku." Rara heboh dan terlihat kecewa. Karena ia sebenarnya ingin minta tolong pada ayahnya Ezra.


"Pukul empat sore. Kan tadi pagi kata Enon, jangan kasih tahu apa yang terjadi. Jadi Bibi takut mengatakannya." Bi Sakinah meras bersalah.


"Kan Bibi Telpon aku, tadi itu aku di kantor nya suami ku Bi." Rara frustasi sudah. Ia menutip sendok dan garpu pertanda menyudahi makannya.


"Maaf Non, aku gak kepikiran kesitu, aku hanya jalankan pesan non tadi pagi." Ujarnya lirih, menatap Rara yang kini terlihat pasrah.

__ADS_1


"Iya Bi, bibi gak salah koq. Aku yang salah, tak seharusnya aku berpesan tadi pagi sama bibi." Meraih gelas berisi air putih di hadapannya. Rara pun meneguknya sampai tak ada sisa.


"Sekali lagi maaf ya non!" ekspresi wajah penuh penyesalan dan rasa bersalah.


"Iya bi, gak apa-apa. Besok suamiku juga kaan keluar."


Bi Sakinah sumringah mendengarnya.


"Syukurlah..!" ujarnya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan setelah mengaminkan ucapannya.


"Iya Bi, Sekarang temani aku ke kantor polisi ya? kita jenguk suamiku."


"Aku ikut Non, baik non, baik.... Aku akan siapkan makanan untuk tuan." Bi Sakinah dengan cepat membereskan meja makan. Setelah itu ia pun menyiapkan maknai untuk Bimo.


Tin nong


Tin nong


Tin nong


Suar bel dengan tak sabaran terdengar menyita perhatian Rara.


Siapa yang datang malam malam begini? Apa pria tak tahu malu itu?


Rara yang penasaran berjalan cepat ke ruang tamu. Sempat yang datang adalah Alva Dia benar benar akan melaporkan pria itu ke pihak berwajib.


Sesampainya di ruang tamu. Rara memegangi dadanya yang tiba tiba saja bergemuruh hebat. Ia tahu penyebab ketakutan dan keresahan nya ini. Apalagi kalau bukan tentang apa yang ingin dihindarinya, yaitu Alva.


Rara yang tak mau bertemu dengan Alva. Akhirnya memutuskan untuk mengintip dari jendela kaca. Memastikan benarkah yang datang adalah Alva.


Dengan perasaan was was, ia pun menyibak gorden rumahnya yang berwarna Lilac itu


Haaahhhhh


Rara terperanjat melihat sosok yang ada di luar pintu rumah itu.

__ADS_1


TBC


Eemmm... Ada dua reader lagi yang belum chat. Terkait give away loh. Chat me ya say. Maaf hanya bisa kasih give away sedikit 🙏🤗🙂🤭


__ADS_2