
Karena sudah janjian dengan sang ayah, untuk bertelepon. Rara akhirnya mencharger hapenya. Ia bohong pada Bimo dengan mengatakan gak bawa charger. Padahal ia membawa charger.
Daya hape sudah full. Entah kenapa ia jadi berharap sang suami menghubunginya. Ia tiba tiba kangen dengan Bimo. Setiap jam ia menunggu telpon dari sang suami. Ia bahkan membawa ponsel ke tempat pengajian. Yang diharapkan tak kunjung menelpon.
Rara sampai kena tegur. Karena saat para jemaah mendengar kan ceramah, ponselnya tiba tiba berdering dengan nada dering musik disko. Eehh... Mana yang nelpon bukan Bimo, tapi ayahnya.
Kesal, Rara sangat kesal. Kenapa suaminya itu tak mau menghubungi nya lagi. Mau nelpon duluan, gengsi. Karena diawal ia sudah jual mahal.
Rara yang sudah kena tegur, karena bawa hape ke tempat pengajian. Memutuskan gak mau ikut lagi pengajian. Ia di kamar menunggu telpon sang suami. Setiap detik memeriksa ponselnya. Apakah suaminya itu sudah menghubunginya. Setiap diperiksa hasilnya nihil. Hingga sekarang, matahari pun sudah terbenam. Tapi, sang suami belum juga ada kabar.
Rara terlihat grasak grusuk di atas matras. Ia ingin tidur, karena malas memikirkan semuanya. Padahal baru juga pukul 20.20 Wib.
"Kamu kenapa sayang? sakit?" tanya Rani menatap sang putri dengan penuh kekhawatiran. Rani baru saja selesai mengaji.
"Iya ma " Jawab sendu.
Rara panik, dengan cepat menghampiri sang putri. Menempelkan punggung tangannya di dahi Rara. "Kamu gak demam. Apanya yang sakit?" tanya Rani dengan penuh khawatir menatap Rara yang terlihat tak semangat.
"Kamu kenapa sayang? Di mana yang sakit?" Rara tetap tak menjawab pertanyaan ibunya itu
"Rara... Kamu kenapa sih? sudah bosan di sini?" Rani menduga duga, kalau Rara sudah jenuh di pondok.
"Di sini sakit ma." Mengelus dadanya yang terasa sesak.
"Kamu, kamu kena serangan jantung?" Rani semakin panik. Menempelkan tangannya di dada sang putri.
Rara menggeleng kan kuat kepalanya.
__ADS_1
"Gak Ma, aku benci paman Ma. Seharian ini aku tunggu telpon darinya Ma." Ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Rani mengerutkan keningnya dan tersenyum tipis.
"Makanya kalau orang telepon dihargai. Diangkat, gak usah sok jual mahal. Tiba orang capek ladeni apa maumu. Kamunya malah kelimpungan seperti ini." Ujar Rani mengulum senyum. Tingkah Rara sangat lucu menurutnya.
"Iihh... Mama nyebelin.. Ngomongnya pedas." Rara cemberut, menatap kesal sang ibu yang tak mau mengerti perasaannya sekarang. Ia pun membelakangi sang ibu.
"Koq pedes, mama mengatakan yang sebenarnya. Ya, kalau kamu kangen suamimu, ya sudah kamu telpon. Buang gengsimu itu sayang. Mungkin Bimo sedang sibuk, makanya ia tak sempat menghubungimu." Jelas Rani, mengusap lembut punggung Rara
"Emang kirim pesan, memakan waktu sejam? emang nelpon tanyain kabar, menghabiskan waktu dua jam?" jawab Rara kesal.
"Mungkin Bimo gak mau ganggu kamu sayang. Kan kamu kemarin yang bilang tak mau diganggu. Hape kamu matikan, Bimo yang pingin tahu kabarmu, sampai sampai menghubungi ke nomor ayahmu segala." Jelas Rani lembut, masih mengusap usap punggung Rara penuh cinta.
Putrinya itu rasa ego masih tinggi. Diperhatikan salah, gak diperhatikan salah juga.
"Bukan Ma, dia itu memang gak cinta samaku. Dia masih cinta dengan mantannya." Jawabnya dengan ekspresi kesal. Membalik badan menghadap sang mama.
"Beneran mama gak tahu siapa mantan Paman Bimo?"
Rani mengangguk cepat.
"Ibu Anin Ma, istri kedua ayah Ezra." Jawabnya lemas.
Ceeiih..
Berdecak kesal.
__ADS_1
"Oohh Anin, Bimo pernah berhubungan dengan Anin? wajar sih Bimo naksir Anin, habis Anin itu selain cantik, lembut dan Soleha juga." Puji Rani, yang membalut Rara makin emosi. Semuanya memuji Anin, ia tak pernah dipuji.
"Iihh Si Mama, malah muji Ibu Anin." Rara kesal, mukanya cemberut. Bibir dilipat rapat. "Ibu Anin gak suka sama paman. Tapi, pakan yang gila sama Ibu Anin." Jelas Rara marah marah.
Rani menahan senyumnya. Merasa lucu dengan Rara yang cemburu.
"Makanya kamu jangan jutek jutek sama Bimo. Nanti didekati Anin lagi gimana?" Rani menakuti nakuti Rara. Putrinya itu kini terlihat berfikir. Kedua bola matanya bergerak kesana kemari.
"Iihh Mama!"
"Ayo kamu telpon dia. Gak ada kabar darinya, kamunya yang nanya kabar duluan." Menyodorkan hape ke hadapan Rara
"Gak mau, malu...!" Menggeleng dan cengengesan seperti anak kecil. Rara nervouse, gak berani nelpon Bimo terlebih dahulu. Karena dia duluan yang jual mahal.
"Oalah... Ya sudah kamu tahan kan lah!" Ujar sang Mama. Ikut membaringkan tubuhnya disebelah sang putri.
Lima menit keduanya terdiam, dan menatap atap pondok.
"Mama balikan saja dengan ayah ya?!" ujarnya melirik sang ibu yang masih setia menatap atap pondoknya.
"Gak sayang, mama masih ingin sendiri. Mama gak mau diteror lagi." Ujarnya dengan sendu. Terlihat cairan bening keluar dari sudut matanya.
Rara terkejut mendengar ucapan mama Rani. Apalagi ibunya itu bicara sambil menangis. Menangis tertahan.
"Teror? emang siapa yang neror Mama?" Rara sungguh penasaran, saking penasarannya dengan cerita sang ibu, ia kini sudah mengubah posisinya jadi terduduk.
"Eemmm... Gak da gunanya mama cerita padamu sayang. Intinya saat ini, Mama ingin hidup tenang. Kalau pun ada niat mau menikah kelak. Pria yang akan jadi pendamping ibu, bukanlah ayahmu, pak Kusuma." Jelas Rani, melap air matanya yang sempat membasahi pelipisnya.
__ADS_1
."Iya ma, tapi katakan dulu siapa yang neror mama?" Rara dibuat makin penasaran, siapa yang berani meneror Mama tercintanya.
TBC