GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Pemimpin


__ADS_3

"Iya, tapi buktinya tadi kamu ingin pergi. Ada hal yang tak sesuai dengan keinginanmu, kamu langsung ingin pergi. Berumah tangga tak seperti itu." Tegas Bimo, pria itu bahkan menunjuk - nunjuk Rara yang masih terperangah di hadapannya.


"Berikutnya tidak akan seperti itu. Tapi janji paman jangan pernah meninggalkanku?" memohon dengan mengatupkan kedua tangannya.


"Kalau terjadi hal sebaliknya. Kamu yang meninggalkanku, bagaimana?" Ujar Bimo, melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.


Rara dibuat bingung dengan ucapan suaminya itu. Ia yang sempat terbengong, akhirnya menyusul sang suami ke kamar.


Saat masuk ke dalam kamarnya Bimo. Ia kembali dikejutkan dengan satu dokumen dijulurkan ke hadapannya.


"Bawa ini ke kamarmu. Baca baik-baik, pelajari, pahami dan terapkan. Jikalau kamu keberatan dengan isinya. Kamu bisa komplain esok hari." Rara kembali terbengong memperhatikan map yang kini sudah ada ditangannya.


"Apalagi, sana balik ke kamarmu!" tegas Bimo lagi, karena melihat Rara seperti kebingungan.


"Kitakan sudah menikah. Kenapa kamarnya harus berbeda paman?" pertanyaan polosnya Rara, menggelitik hatinya Bimo.


"Kamu kan sedang masa training. Kalau sudah layak pakai, baru satu ranjang." Bimo membuang cepat wajahnya. Ia merasa lucu dengan ucapannya sendiri, terkait membahas ranjang. Pria yang kini sudah membelakangi istrinya itu, kini senyam senyum sendiri.


"Kenapa seperti itu? seburuk itukah aku? hingga tak ada yang menginginkanku? aku seperti barang saja yang harus di test " Ujarnya lirih, hatinya sakit mendengar penuturan sang suami.


"Bukan seperti itu, aku hanya beri ruang padamu. Memberi kamu kesempatan memikirkan semuanya, sebelum kamu masuk dalam perangkapku." Kini Bimo sudah kembali berhadap-hadapan dengan Rara.


"Perangkap? emang aku mau ditawan?" Rara semakin bingung dengan narasi nya Bimo.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu baca dulu itu. Kalau kamu menyerah. Kamu boleh pergi besok dari rumah ini. Dan aku tak akan mencegahmu lagi." Menunjuk dokumen yang ada di tangan sang istri.


Rara menatap dokumen yang ada ditangannya. "Emang ini apa?" wanita itu mulai membuka dokumen yang di klip itu. Ia pun terperanjat saat membaca judul yang ada di kertas HVS putih itu


20 Cara Jadi istri Soleha


Rara merasa kesusahan menelan ludahnya saat ini. Ia tak yakin akan bisa jadi istri Soleha. Membaca judulnya saja, sudah membuatnya ketakutan. Dua puluh cara, gimana kalau satu pun tak bisa ia lakukan?


"Gimana, masih mau jadi istriku?" menatap lekat Rara yang terlihat bingung dan cemas itu.


"Apakah seorang suami tugasnya memberi tugas pada istri. Ini seperti PR kan? mana mungkin aku bisa mempelajarinya dan menerapkannya, jika sang guru tak mengajarkan dan memberi contoh."


Rara memang sangat pandai dalam hal berdelik.


"Apakah seorang suami yang berpisah kamar dengan istrinya disebut sebagai suami Soleh?"


"Ku beri kamu sebulan untuk memikirkan semuanya. Dan jikalau kamu memang sanggup. Aku akan melaksanakan tugasku sebagai suami yang sesuai dengan ajaran di agama yang kita anut."


"Jangan terlalu sombong paman. Paman terlihat seolah tak punya celah dan kelemahan saja bicara seperti itu. Apa paman jamin bisa menjadi suami yang Soleh, setelah aku sanggup menerapkan ke dua puluh cara itu?"


Bimo terdiam, dia jadi ragu. Dia takut gak bisa memuaskan Rara kelak. Sehingga Rara berpaling ke pria lain. Secara umur mereka terpaut sangat jauh. Apalagi kalau Rara mewariskan sifat liar dari sang ibu.


"Aku akan melakukan yang terbaik untuk keluargaku. Seorang suami adalah pemimpin di tengah keluarganya dan aku akan ditanya tentang orang-orang yang ku pimpin. Maka aku bertanggung jawab untuk mendidik isteri dan anak-anakku kelak."

__ADS_1


"Pernikahan itu tidak mudah , pernikahan itu tanggung jawab besar. Kamu tak boleh menganggapnya enteng."


Bimo menatap lekat Rara. Inilah yang membuat nya defresi saat menikahi Rara. Ia tak mau nantinya jadi suami yang gagal. Karena Rara yang tak bisa dinasehati. Bimo ingin menikahi wanita yang sudah tahu, apa tujuan berkeluarga.


"Pernikahan adalah Mitsaqan Ghalidza perjanjian yang berat karena disana ada peralihan tanggung jawab dari orang tuamu kepada saya, dari ayahmu kepada saya."


"Tapi, aku tak tahu siapa ayahku!" Rara memotong cepat ucapan Bimo.


Eemmmm... Nasib, nasib punya istri gak jelas asal usulnya.


Bimo bermonolog


"Iya, nanti kita cari tahu ayahmu siapa. Kita skip soal itu. Asal kamu tahu Ra. Tanggung jawab terbesar suami adalah bagaimana menyelamatkan istrinya dari neraka. Seorang suami itu pemimpin di rumahnya dan dia akan dimintai pertanggung jawaban apa yang dia pimpin. Dia akan ditanyai tentang istrinya tentang anaknya juga. Apabila Sang isteri dan anak-anaknya berbuat maksiat, maka si suami berdosa." Jelas Bimo panjang lebar.


"Iya, iya aku akan pelajari besok. Sekarang aku kantuk. Mau tidur." Rara malah naik ke atas ranjangnya Bimo. Otaknya sedang tak mau mendengarkan ceramah panjang nya Bimo. Suaminya itu seperti Ayahnya Ezra saja. Ceramah agama nya melebihi ceramah ustadz.


Bimo terkejut melihat sang istri sudah berbaring dan menutup mata di atas ranjang berukuran empat kaki itu. Ranjang itu tergolong kecil untuk dua orang.


"Seorang suami itu harus menjaga istrinya bukan? ayo sini kita tidur. Paman harus menjagaku."


TBC


Like coment vote hadiah. Kita ada give away loh di akhir bulan. Yuk masuk dalam list tiga besar๐Ÿ™‚๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2