
Nisya memasuki pusat perbelanjaa Ditengah kota yang sangat terkenal siang ini ia berencana akan menghabiskan waktunya untuk bersenang senang menghibur dirinya sebelum ia menikah dengan pilihan pamannya yang akan dilaksanakan besok
"Kak Nisya?" Panggil Rifky saat berpapasan dengan Nisya
Nisya mengamati pemuda didepannya dari ujung kaki sampai kepala ia mulai mengingat ngingat apakah ia mengenali pemuda didepannya
"Kakak sudah lupa sama aku?" Tanya Rifky karna ia melihat Nisya terlihat kebingungan
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Nisya masih berusaha mengingat
"Iya, kakak pernah menolongku waktu penusukan itu
Nisya terdiam sejenak kemudian mulai mengingatnya
"Ah iya aku sudah ingat Bagaimana keadaanmu" Tanya Nisya sembari tersenyum
"Seperti yang kakak lihat Alhamdulillah berkat pertolongan kakak saya bisa tertolong
"Boleh kakak temani aku makan? sambil menunggu kedua Abangku.
"Please?" Rifky setengah memohon karna melihat Nisya sedikit ragu
"Baiklah"
Mereka akhirnya duduk disebuah restoran yang ada di mall itu, Rifky memperkenalkan dirinya ia sangat antusias bertemu kembali dengan penolongnya
"Kakak tau aku mencari kakak kemana mana loh, aku hanya ingin berterimahkasih karna kakak sudah menyelamatkan aku waktu itu
"Jangan seperti itu, bagaimana pun sesama manusia harus saling tolong menolong" Pungkas Nisya
"Kakak tunggu abang aku ya, mereka ingin mengucapkan terimakasih pada kakak"
"Ngak usah dek kakak ikhlas kok menolong kamu" Ujar Nisya
Lama mereka berbincang namun sosok yang ditunggu Rifky belum juga menampakkan batang hidungnya
"Maaf dek kakak harus pamit, masih ada yang harus aku beli" Pamit Nisya karna memang ini sudah satu jam lamanya menemani Rifky
"Rifky..
Suara yang tak asin ditelinga Rifky memanggil namanya ia menoleh kearah sumber suara tersenyum menyambut kedatangan kedua abangnya
"Abang
Seketika tatapan Dayyan menatap kearah Nisya, untuk kedua kalinya jantungnya berdetak tak karuan melihat gadis berhijab didepannya
"Kamu..
"Tuan..
Panggil Dayyan dan Nisya bersamaan
Rifky dan Fathan hanya bisa melirik satu sama lain,
__ADS_1
"Abang kenal dengan kak Nisya?" Tanya Rifky penasaran
"Dia yang menyelamatkan kakak kemarin dan membawa kakak ke rumah sakit
"Kak nisa juga yang menolong aku waktu penusukan itu." Rifky tercengan mendengar perkataan abangnya
"Terimahkasih kak sudah melamatkan Abang dan adik ku" Ucap Fathan tulus
Nisya mengangguk sambil tersenyum membuat ketiga pria itu terpukau dengan senyum Nisya
Sementara dayyan hanya diam. Sebagai seorang pria dayyan termasuk pria yang sangat kaku apa lagi jika sedang berhadapan dengan seorang gadis
"Maaf saya permisi mau pulang, jika berkenang datang lah kepernikahan ku besok
Deg..
Jantung Dayyan seolah berhenti berdetak gadis yang pertama kali membuat hatinya tersentu ternyata sudah memiliki calon suami
Nisya menyodorkan sebuah undangan kearah Rifky
Setelah kepergian Nisya Fathan membuka isi undangan nya disana tertera nama "Khairunnisyah Ammar dan Raditia Malik" Gumam Fathan sambil melirik kearah sang kakak
"Raditia Malik..?" Ulang Dayan menatap kearah Fathan dengan sorot untuk meyakinkan jika yang ia dengar tidak salah
Fatha hanya menganggukkan kepalanya
Dayyan kembali terdiam begitupun Fathan mereka larut dengan pikirannya sendiri
"Huss..gak boleh ngomong begitu" Tegur Dayyan yang sedari tadi hanya diam saja
"Gimana kak apa kita datang besok?" Tanya Fathan melirik kearah kakak sulungnya
"Iya kita akan datang bagaimana pun juga gadis itu telah menolong aku dan Rifky" pungkas Dayyan datar kemudian melanjutkan makan siangnya yang sudah ia pesan
Sementara Rifky sedari tadi hanya diam semenjak kepergian Nisya, membuat kedua abangnya merasa herang
"Hey..kamu kenapa dari tadi diam aja" Tegur fathan saat melihat rifky yang dari tadi hanya diam tidak seperti biasa cerewet melebibi rel kereta api panjangnya kalau ngomong sesuatu
Rifky hanya diam tak menanggapi perkataan kakak keduanya ia larut dengan pikirannya sendiri
"Rifky..
Rifky menoleh saat kakak pertamannya memanggilnya dengan tegas, ia tidak bisa mengabaikan jika kakak sulungnya sudah angkat bicara baginya kakak sulungnya orang yang sangat ia hormati karna sejak kecil Rifky dibesarkan oleh kakaknya
"Iya bang
"Habiskan makananmu
"Baik bang
Merekapun makan dalam diam hampir tiap hati kakak beradik itu menyempatkan dirinya untuk makan siang bersama kedekatan mereka sudah tidak diragukan lagi mereka kakak beradik yang saling menguatkan satu sama lain tak herang jika ada yang mengganggu kakak sulungnya ia akan bertindak tentunya tanpa sepengetahuan kakak nya
**
__ADS_1
Malam ini Dayyan telihat banyak diam sejak pertemuanya tadi dengan gadis penolongnya, entah apa yang dirasakan saat ini seolah ada perasaan yang hilang tapi ia sendiri tidak tau
Dayyan mengusap wajahnya kasar untuk pertama kalinya ia merasakan seperti ini, dan untuk pertama kalinya juga jantungnya berdetak tak karuan saat melibat gadis itu
Seberapa keras pun Dayyan untuk menghilangkan perasaan yang tiba tiba singgah begitu saja di hatinya tetap tidak bisa perasaan itu nyatanya semakin nyata
Semenjak pertama kali pertemuannya saat itu Dayyan sudah jatuh oleh pesona Nisya yang lembut dan tutur katanya yang santum
Tok..tok..tok..
Suara ketukan pintu dari luar membuyarkan lamunan Dayyan
"Masuk
Clek..
Nampak fathan dibalik pintu, Fathan menghampiri abangnya yang kini duduk dikursi kebesarannya
"Ada apa dek" Tanya Dayyan saat Fathan sudah duduk di depannya
"Bang..aku mau bicara sesuatu bisa?"
"Katakan saja" Ujarnya seraya memperbaiki posisi duduknya
"Abang tidak akan bertindak? bukankah Raditia Malik sangat berbahaya dia adalah psikopat yang sangat ditakuti
"Lalu?
"Jangan bohongi kata hati abang aku tau apa yang abang pikirkan saat ini" Fathan menatap abangnya yang hanya diam saja
"kamu terlalu banyak berpikir kita baru saja bertemu dengan gadis itu Bagaimana mungkin aku bisa memiliki perasaan terhadapnya " ujar Dayaan masih berusaha terlihat tenang
"Biarkan mereka menikah jangan mengurusin urusan orang lain" Tambah Dayyan lagi kemudian bangkit dari duduknya meninggalkan Fathan seorang diri
Fathan tersenyum melihat sikap tenang kakaknya padahal ia tahu jika saat ini kakaknya dilanda rasa cemas
"Abang boleh membohongi diri abang tapi tidak dengan ku, aku tau bagaimana perasaan abang" Batin Fathan
Jam sudah menunjukkan pukul 02:20 dini hari namun Dayyan masih terjaga sampai sekarang matanya belum bisa terpejam apa lagi perkataan Fathan masih terus menghantuinya.
Tangannya meraih ponsel yang ia simpan diatas nakas mencari kontak Asistenya
"Hallo tuan.."Jawab sen disebrang sana dengan suara seraknya khas orang baru bangun tidur..
"Aku mau kau mencegah kedatangan Raditia Malik besok keacara pernikahannya"
Alis zen terangkat sebelah, merasa herN dengan permintaan bos nya namun tetap ia mengiyakan karna zen tidak memiliki keberanian untuk menolak perintah sang bos
"Baik tuan
Dayyan menutup panggilannya setelah mengatakan itu,
"Ya Allah apakah yang kulakukan saat ini sudah benar? " Gumam Dayyan sembari mengusap wajahnya kasar
__ADS_1