
Huuffftt...
Bimo menghela napas panjang. Keputusannya menerima Jenifer bekerja di tempat nya ternyata salah. Ia sayang pada Jenifer, sebelum ia menyadari perasaannya pada Rara. Bimo memang sempat ada niat serius dengan Jenifer. Tapi, ia tak pernah mengungkapkan perasaan pada wanita itu. Karena, dulu ia memang belum yakin dengan perasaannya.
Disaat ia sudah menikah dengan Rara. Kenapa lagi mesti dipertemukan lagi dengan Jenifer. Padahal sejak Jenifer kena kasus pengkambing hitamkan kasus korupsi. Ia sudah memutus kontak dengan wanita itu. Ia memang mengganti nomor ponselnya. Tapi, ia tetap menyimpan nomornya Jenifer.
Apa ini semua ujian untuk cintanya dengan Rara? sehingga Jenifer hadir kembali?
Huufftt..
Rasanya lelah sekali, seharian bekerja terlalu diporsir,. membuat kepala atas pusing. Mana sudah delapan jam ia tak mencium istrinya itu. Yang akibatnya kepala bawah juga ikut sakit. Sejak pergi kerja pukul 10.00 Wib hingga kini pukul 18.00 Wib, ia baru bisa pulang.
Bimo harus kerja keras. Ia tak mau melihat Rara susah. Istrinya itu sejak kecil sudah hidup mewah. Kalau ia tak cepat sukses, ia takut juga Rara kecewa dan meninggalkannya.
Saat sampai di depan rumah. Bimo dikejutkan dengan mobil yang tak ia kenal parkir di halaman rumahnya. "Siapa yang datang? bos Ezra?" ia bermonolog, memperhatikan mobil mewah yang terparkir itu. "Tak mungkin si bos. Ia kan akan melaksanakan pesta esok hari. Mana sempat ia kesini." Bimo bicara sendiri, menyeret kakinya ke dalam rumah.
"Tolong.... Tolong... Bebaskan anakku, buatlah kesaksian di kantor polisi. Bahwa kamu gak diganggu anakku..?!" Suara tangisan wanita terdengar jelas ke beranda rumah.
__ADS_1
Bimo dibuat tak tenang mendengar suara tangisan tak tahu malu itu. Ia mempercepat langkahnya. Penasaran dengan apa yang terjadi di ruang tamu.
Saat sampai di ruang tamu, lagi lagi ia dikejutkan dengan pemandangan menyebalkan. Ibunya Alva kembali mengemis ngemis tak tahu diri. Mana kini wanita itu berlutut di hadapan Rara, yang terlihat panik.
Bimo geram, ia tak mau gara gara wanita ini, suasana hatinya Rara memburuk.
"Sayang..!" ujar Rara menatap bingung Bimo. Ia ingin bangkit dari duduknya. Tapi, ditahan wanita yang bersujud di hadapannya.
Bimo mendekati Rara yang duduk di sofa sudut.
"Tidak.. Ku mohon, apapun yang kamu inginkan aku turuti. Aku bisa orbitkan istrimu jadi model terkenal. Jadi artis juga bisa ku buat " Ujarnya dengan percaya dirinya. Ia pikir Bimo akan tertarik.
"Kecantikan istriku hanya ingin ku nikmati. Aku tak akan ijinkan ada mata ja Lang, yang menikmati kecantikan istriku. Tawaran anda tak bernilai jual untuk kami. Jadi.... Sebaiknya ibu pergi dari rumah ini, sebelum ibu kembali ku laporkan, karena mengganggu ketentraman di rumah ini." Tegas Bimo dengan kewibawaannya.
Ibunya Alva bangkit dengan perlahan dengan penuh keputusasaan. Walau nangis darah sekalipun, seperti nya pasangan suami istri di hadapannya tak akan membantunya. Dengan eskpresi wajah sedih itu, ibunya Alva meninggal rumahnya Bimo tanpa pamit.
"Kamu gak kenapa kenapa kan sayang?" tanya Bimo penuh kekhawatiran. Ia memeriksa tubuh sang istri dari ujung rambut hingga ujung kaki.
__ADS_1
"Gak cinta " Ujarnya tersenyum tipis. Sifat posesifnya Bimo mulai kumat. Dulu juga saat ia kecil. Jatuh di taman saja, Bimo paniknya sudah setengah mati.
"Kenapa menatap ku seperti itu?" tanya Bimo heran, tatapannya Rara aneh.
"Gak apa apa. Kangen...!' ujarnya tersipu malu.
Bimo gemes, ia langsung membopong Rara naik ke lantai dua. "Temani aku mandi sayang ..!' ujarnya masih membopong Rara.
"Aku sudah mandi sayang .!" jawab Rara masih senyam senyum. Ia tahu, pasti nanti suaminya itu minta yang aneh aneh di kamar mandi, seperti tadi pagi. "Gak bagus mandi, jelang magrib. Saat itu jantung kita lemah. Apa paman mau aku kenapa kenapa nanti, kena serangan jantung?" tanya Rara serius.
"Gak, ya sudah aku juga gak usah mandi."
"Ya mandilah, paman bauk tahu..!"
"Paman, paman lagi." Bimo merajuk, ia menurunkan sang istri dari gendongannya.
TBC
__ADS_1