
Pagi yang menggairahkan buat pasangan pengantin baru yang lagi berbunga - bunga. Senyum kebahagiaan tak pernah lepas dari bibir mereka berdua. Dan Bi Sakinah sangat senang melihat keromantisan kedua majikannya itu. Akhirnya perang dingin selama dua minggu berakhir juga.
Rara yang sangat mengkhawatirkan Bimo, takut akan dihasut oleh Jenifer. Ia memaksa ikut bekerja ke kantor nya Bimo hari ini. Ia bahkan meminta jabatan sebagai Komisaris.
Komisaris adalah suatu jabatan yang paling tinggi dalam sebuah perusahaan. Terkadang orang tersebut juga berperan sebagai pemilik perusahaan maupun pemilik saham. Selain itu, mereka berperan untuk mengawasi setiap kegiatan, mulai dari kebijakan dan pengelolaan perusahaan.
"Eemmm baiklah, mulai dari sekarang usaha kita ini adalah milikmu." Ujar Bimo lembut, menuntun Rara duduk di kursi kerjanya.
Haahh...?
Rara terkejut mendengar ucapan sang suami.
"Kenapa terkejut? gak percaya, nanti setelah semua berkasnya siap. Kamu bisa tanda tangani, semua pengalihan hak kepemilikan, bahwa usaha yang sedang kita rintis ini akan jadi milikmu. Semoga berkembang dengan cepat. Dibawah tangan dingin istriku ini." Mengecup keningnya Rara lembut dan dalam, yang membuat sang istri merasa kupu kupu banyak beterbangan di kepalanya.
"Kenapa jadi milikku?" menahan lengan sang suami yang hendak beranjak darinya. "Aku ini pembawa sial untukmu cinta. Aku gak mau impianmu nantinya hancur di tanganku." Ucapnya Lirih, tak sanggup diberi kepercayaan sebesar ini. Kata Jenifer, ia pembawa sial untuk Bimo.
"Bicara apa kamu sayang? jangan pernah ucapkan kata kata yang tak baik. Ingat ucapan itu adalah doa." Bimo terhenyak mendengar penuturan Rara. Kenapa pula istrinya itu, bicara seperti itu.
"Tadi itu, aku bercanda minta jabatan sebagai Komisaris." Rara merengek manja, menolak jabatan yang diberikan sang suami. Kalau ia menjabat jadi Komisaris. Berarti Bimo yang jadi direktur adalah bawahannya dong. "Aku mana sanggup mengemban jabatan itu." Tegasnya lagi dengan tak percaya dirinya.
"Sanggup, aku tahu kemampuan istriku. IQ mu di atas orang rata rata sayang." Memberi semangat pada Rara dengan pujian.
__ADS_1
"Masak IQ tinggi, Gak lulus SMA. Sama saja bohong!" Tiba tiba saja Jenifer sudah nongol di ruangan itu. Kantor Bimo yang masih setengah permanen, membuat percakapan mereka terdengar keluar. Apalagi saat itu Jenifer memang sedang menguping di balik pintu ruangan nya Bimo.
Kedatangan Jenifer di ruangannya Bimo, membuat suasana hatinya langsung memburuk. Kini ia menatap malas Jenifer. Ingin sekali dia mengadu prihal semalam pada Bimo. Tapi, ia mengurungkan niat itu, takut Bimo tak percaya.
"Kalau mau masuk ketuk pintu dulu." Sikap Jenifer pagi ini, tak disukai Bimo. "Gak usah ikut berkomentar, kalau gak diminta. Ingat ini di kantor!" Tegas Bimo, menatap datar Jenifer.
"Maaf..! ini laporan tentang pelunasan tanah warga yang kita beli " Menyodorkan file ke hadapan Bimo dengan wajah merah padam. Ia tak menyangka akan mendapatkan syok terapi dari Bimo pagi ini.
"Letakkan di atas meja itu. Dan panggil semua anggota ke ruangan ini. Aku ingin mengumumkan hal penting." Ujar Bimo tegas, menatap tajam Jenifer yang melirik lirik Rara.
"Iya bang " Setelah meletakkan dokumen di atas meja yang ada di hadapan Rara. Jenifer keluar dari ruangan itu dengan menggerutu.
Kenapa Rara jadi ikut ke kantor ini? dia kan kerja di cafe?
Semua karyawannya Bimo yang berjumlah empat orang kini tengah berkumpul di ruangannya. Duduk di kursi plastik warna hijau. Maklum aksesoris ruang kerjanya Bimo masih akan kadarnya. Namanya juga lagi merintis usaha.
"Assalamualaikum.... "
Semua orang di ruangan itu menjawab salamnya bimo dengan sangat antusias. Kecuali Jenifer.
"Selamat pagi! semoga kita selalu semangat dan dalam lindunganNYA. Pagi ini sengaja aku mengumpulkan kalian semua, karena ingin mengenalkan kepada kalian, bahwa sekarang kita sudah punya atasan baru. Yaitu Rara, istri saya sendiri." Menoleh ke arah Rara yang dari tadi tersenyum manis penuh ketulusan kepada para karyawannya Bimo.
__ADS_1
"Jadi saya sangat berharap dengan bertambahnya personil kita, maka pekerjaan kita bisa mencapai target sebelum waktu yang kita tentukan." Kini Bimo kembali menoleh ke arah sang istri, yang duduk masih dengan senyum manis. "Bagaimana tanggapan Ibu Rara?"
Rara menoleh ke Bimo." Apa?" ia terkejut dengan pertanyaan Bimo.
"Ayo Bu Rara, sampaikan sepatah dua Kata pada kami bawahanmu ini."
Nyut...
"Aauuww...!"
Bimo berteriak menjerit kesakitan. karena terkejut pahanya yang dibawah meja, telah kena cubit. Siapa lagi yang mencubit kalau bukan Rara. Ya mereka duduk bersebelahan dan di depan mereka ada meja kerjanya Bimo yang besar.
"Kenapa pak?" tanya salah seorang karyawan pria. Mereka heran juga dengan Bimo yang tiba-tiba saja berteriak.
"Gak apa apa, digigit nyamuk. Ada nyamuk nakal dibawah sini. Menunjuk kolong meja dengan nyengir.
Hahhaha
"Si bos ada ada saja, mana ada nyamuk nakal." sahut karyawan berjenis kelamin pria yang bernama Fendy.
"Maksud si bos yang disampingnya." Ujar Jenifer spontan dengan muka masamnya.
__ADS_1
TBC