
Laki - Laki pada umumnya mengetahui jalan menuju hati wanita. Sementara wanita agak sulit untuk memahami jalan logikanya laki - laki. Wanita umumnya ingin dicintai. Tapi sebagian kadang lupa menghargai.
"TIDAK.... Itu hal yang tak baik buatku. Keputusan paman menjauhiku membuatku jadi hancur." Menitikkan air mata sembari mere mas kuat jemari menatap Bimo yang terlihat terkejut dengan ucapan nya Rara.
"Jangan sesekali menyalahkan dan mengkambing hitamkan orang lain, atas kesalahan yang kamu buat sendiri. Aku tak melakukan apapun yang merugikanmu. Kenapa kamu mengatakan aku penyebab dirimu hancur? Apa pernah aku menjerumuskanmu? pernah aku mengajarimu hal-hal buruk? Tidak.. Tidak pernah. ANEH KAMU ...!"
Bimo bangkit dari duduknya dengan ekspresi wajah kesalnya. Ia membawa piring kotor menuju wastafel. Mulai membersihkan piring bekas makannya.
Rara terdiam, benar yang dikatakan suaminya itu. Sejak kecil Bimo selalu mengajarkan hal baik padanya. Bahkan Bimo yang jadi guru mengajinya.
"Aku tak ingin mendengar kalimat seperti itu lagi. Kecuali tadi, aku selalu mengajarkan hal buruk padamu. Kamu boleh menyalahkanku." Tegas Bimo lagi, kini pria itu terlihat membersihkan meja makan. Sedangkan Rara masih terdiam memperhatikan lekat sang suami yang sibuk merepet sambil beberes.
"Tapi paman meninggalkanku!" ujarnya lirih, air mata kembali jatuh membasahi pipinya.
Kedua alisnya Bimo tertaut. Menatap heran Rara.
"Mau sampai kapan kamu terus denganku? aku juga punya kehidupan sendiri. Punya impian sendiri."
"Tapi, tak harus pergi begitu saja. Paman itu membantingku dengan kejam. Ditinggal pas lagi sayang-sayangnya itu sangat sakit sekali paman."
__ADS_1
Ujar Rara bangkit dari duduknya, menantang Bimo yang menatapnya dengan tatapan mata tak terbaca. Ditinggal oleh orang tercinta membuat diri menjadi kecewa, emosi, kehilangan, bahkan sakit hati yang sangat mendalam. Rasanya hidup tidak adil karena cinta dan kepercayaan telah dipermainkan oleh orang lain yang tidak memiliki perasaan.
Saat itu Rara sudah merasakan apa namanya jatuh cinta. Ia sudah berumur dua belas tahun. Bimo adalah cinta pertamanya. Ia beranggapan Bimo juga menyukainya. Karena perlakuan baiknya Bimo telah disalah artikan Rara. Ya wanita memang gampang sekali baper.
"Itu yang terbaik Rara. Kamu telah salah dalam mengartikan kasih sayang diantara kita berdua waktu itu. Mana mungkin aku masih bisa tetap bersamamu, sedangkan kamu sudah berani melakukan hal yang tak senonoh itu. Aku pria dewasa, sedangkan kamu kamu masih 12 tahun waktu itu."
Bimo memutuskan kontak mata dengan Rara. Ia menyeret kakinya nya dari ruang makan itu. Ia tak mau membahas yang berlalu, apalagi ia selalu disalahkan atas sikapnya menjauhi Rara dulu. Ezra juga menyalahkannya.
Grappp...
Bimo terperanjat, kini kedua tangan mulus putih melingkar di pinggang nya erat. Rara tengah memeluknya dari belakang. Tentu saja sikap Rara yang tergolong nekat itu membuat Bimo jadi merasa sesak. Nervouse dan jantungan saat ini.
Ujar wanita itu dengan lirih. Air mata terus jatuh berderai membasahi Kaos yang dikenakan Bimo pada bagian punggungnya.
Jelas Bimo dibuat gamang saat ini. Ia tentu punya alasan kuat menjauhi Rara. Salah satunya karena perbuatan agresif nya Rara dulu. Padahal saat itu ia sudah pria dewasa dan Rara masih berusia 12 tahun. Tak mungkin ia terus dekat dengan Rara.
Alasan lainnya yang membuat Bimo takut dengan pernikahan mereka adalah. Terungkap nya Rara bukan anak kandung nya Ezra. Bimo ingin punya istri yang jelas asal usulnya. Dari keturunan yang baik. Sedangkan Rara punya ibu yang tak bermoral. Ia takut kelak Rara mengikuti jejak sang ibu. Lihatlah Rara hanya memikirkan cinta dan cinta.
Rara mempererat pelukannya, karena Bimo mencoba melepas belitan tangan Rara dari pinggangnya.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan aku lagi. Aku, aku berubah." Ucapnya masih terisak. Bimo lah harapannya satu-satunya saat ini.
"Bener kamu bisa berubah?" Bimo memutar lehernya melirik Rara yang tak bisa dilihatnya jelas.
"Iya, iya paman. Asal jangan tinggalkan aku." Jawab Rara cepat penuh keyakinan.
"Ya sudah, buktikan apa yang kamu ucapkan. Kamu dalam penilaian dalam jangka satu bulan."
"Maksudnya?"
Rara yang bingung dengan ucapan Bimo. Melepas belitan tangannya di pinggang Bimo. Ia kini berada di hadapan Bimo.
"Ku beri waktu satu bulan padamu. Memikirkan semuanya, sudah sanggupkah kamu melakoni peran sebagai istri. Kalau kamu tak sanggup melakoni peran sebagai istriku. Kamu boleh pergi, dan aku tak akan mencarimu lagi." Keduanya sling menatap lekat. Rara memang menemukan keseriusan di netra mata sang suami.
"Sepertinya paman yang tak yakin padaku? bukannya paman sudah memberi waktu padaku saat di mobil, sebelum kita berangkat ke sini. Aku kan tetap memilih ikut paman."
"Iya, tapi buktinya tadi kamu ingin pergi. Ada hal yang tak sesuai dengan keinginanmu, kamu langsung ingin pergi. Berumah tangga tak seperti itu."
TBC
__ADS_1