
"Sayang .. Sudah dong..! itu Bi Sakinah bilang ada tamu " Rara yang sebenarnya sudah terbawa suasana, menjauhkan kepala sang suami dari perpotongan lehernya. Bekas yang semalam belum hilang. Ini mau ditambahin lagi stempel di situ.
"Itu si bibi kenapa sih? selalu ganggu, apa ia punya mata tembus pandang sampai ke sini." Bimo mengomel, suaminya itu jadi terlihat lucu, ditambah dengan rambutnya yang acak acakan, ya tadi ia tak sempat memakai minyak rambut selesai mandi, karena harus sholat. Dan saat bercum -bu dengan sang istri. Rara yang terbakar Bira hi-nya itu mere-mas kuat rambut sang suami.
"Iya Bi, tamunya suruh pulang saja. Aku sedang tak menerima tamu. Bilang kami sedang ke luar negeri." Bimo malah kembali membaringkan tubuhnya dan menarik Rara ke pelukannya. Siapa tamu ya g ingin bertemu dengannya. Ia belum banyak kenalan di tempat itu.
"Oohh iya tuan." Bi Sakinah kembali turun ke bawah.
"Siapa tahu ada hal penting. Sebaiknya kita jumpai saja sayang..!" Rara menatap lekat sang suami yang kini memejamkan matanya, sambil menghirup dalam wangi rambutnya Rara.
"Aku yakin, pasti ibunya si Alva itu, biarin saja." Mempererat pelukannya pada Rara. Ada rasa nyaman dan sangat membahagiakan yang dirasakan Bimo. Letihnya karena bekerja seharian rontok sudah. Mana Rara sikapnya juga nyenengin. Ia tak menyangka Rara sedewasa ini.
Tok
Tok
Tok
"Tuan, tamunya gak mau pergi." Suara Bi Sakinah terdengar sendu. "Katanya ia mau minjam uang, keluarganya ada yang masuk rumah sakit kecelakaan. Mau dioperasi tuan."
__ADS_1
Rara dan Bimo terhenyak mendengar ucapan sang Bibi.
"Siapa yang kecelakaan? koq minjam uang ke sini?" tanya Rara heran. Bimo mengangkat bahunya. Ia juga tak tahu.
"Tunggu di sini ya sayang. Aku ke bawah dulu!" Bimo mencium kening sang istri, kemudian beranjak dari ranjang.
Sepeninggalannya Bimo, Rara juga ikut turun dari ranjang ia penasaran juga siapa tamu yang datang itu. Ia menyambar hijabnya yang ada di di gantungan.
Sesampainya di lantai bawah, ia hatinya panas melihat seorang wanita yang dirangkul sang suami dengan keadaan menangis. Terlihat sang suami merangkul dari samping memenangkan.
Rara menyeret kakinya ke arah Bimo. Saat melihat Rara menghampiri. Bimo melepaskan rangkulannya dari wanita itu. Menyambut kedatangan Rara dan menggenggam tangannya. Membawa Rara sedikit menjauh dari sang ibu.
"Orang tuanya kecelakaan, jatuh di kamar mandi. Aku ke rumah sakit dulu dengan ibunya?" menatap lekat Rara yang masih tercengang. Entah kenapa mendengar sang suami akan ke rumah sakit bersama Jeniffer, membuatnya tak tenang.
"Jangan, hanya sebentar koq sayang. Bayar uang untuk lakukan tindakan operasi saja. Kalau kamu ikut, nanti kamu kurang istirahat. Tunggu di sini saja. Kasihan Uang Jenifer gak cukup untuk bayar uang mukanya." Jelas Bimo.
"Ya sudah, kamu gak usah ikut sayang. Kasih uangnya pada dia" Rengek Rara.
"Uang cash gak cukup harus ke ATM lagi ambil uang." Jelas Bimo.
__ADS_1
"Kan ia yang pegang uang " Rara mulai kesal.
"Uang perusahaan gak boleh dicampur adukkan dengan urusan pribadi."
"Emang berapa uang yang diperlukan?" cecar Rara.
"25 juta." Jelas Bimo.
"Aku ikut ... Aku gak mau di sini sendirian." Rengek Rara.
"Assalamualaikum...!"
Kembali terdengar suara seorang pria mengucap salam. Pintu utama masih terbuka.
"Walaikum salam...!" jawab penghuni rumah itu.
BI Sakinah yang tanggap, langsung menghampiri tamu. Yang masuk dengan lagak sombong dengan dua bodyguard di belakangnya.
Rara, Bimo dan Jenifer kini menatap heran pria yang datang itu.
__ADS_1
TBC
Siapa tamu itu?🙂🙏