GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Aku hancur


__ADS_3

"Eemm.... Itu salah satunya. Tapi, yang buat aku gak yakin adalah kesiapanmu. Kamu masih muda. SMA saja belum lulus. Benar, kamu siap berperan sebagai istri? jadi istri itu tak mudah." Bimo terlihat serius, ia menatap dalam kedua matanya Rara. "Lihatlah kelakuanmu tadi, entah di mana salahnya. Kamu sudah ingin pergi. Kalau setiap hari kabur, balik, kabur, balik lagi. Kan capek. Aku tak ingin ada kejadian seperti itu."


"Paman gak tahu dimana letak kesalahannya? sikap paman itu yang buat aku gak betah. Cara paman menatapku yang penuh kebencian itu, membuat hatiku sakit. Emang apa salahku padamu paman?" tangannya Rara refleks menjulur ingin menggenggam tangannya Bimo yang tertangkup di atas meja makan. Melihat tangannya ingin dijamah, Bimo dengan cepat menarik tangannya. Menyimpannya di bawah meja makan.


Sikap dinginnya Bimo kembali membuat Rara tersinggung. Kenapa sih suaminya itu tak bisa disentuh. Seperti orang yang berpecat saja.


"Ini, sikap yang ini yang buat kesal." Rara merajuk, membuang muka dari Bimo.


"Jadi orang jangan cepat baper." Tegas Bimo.


Ciih... Siapa sih yang baper? emang sikapnya nyebelin.


Melirik sang suami dengan muka kusutnya.


"Aku gak baper an rangnya. Emang paman sudah berubah. Jahat, tega, kasar!" Rara masih merajuk, wajahnya semakin kusut semakin gemesin. Apalagi baju yang dikenakannya terlihat lucu. Bimo sudah tak tahan ingin tertawa.


"Kasar? kapan aku kasar padamu haaahh?" Bimo mendekatkan wajahnya ke arah Rara. Ia ingin melihat jelas, gimana lucunya wajah nya Zahra yang cemberut.


"Dasar amnesia. Kemarin malam, paman meninggalkanku sendirian tidur di mobil. Kenapa gak membangunkan ku?" Rara akhirnya menoleh ke arah Bimo. Air mata yang berusaha ditahan, akhirnya tak bisa dibendung dan luruh membasahi pipinya. Wajahnya semakin cemberut dan terlihat semakin lucu.


"Aku gak ninggalin kamu."


"Gak ninggalin, buktinya aku ditinggalin." Menaikkan satu oktaf suara, yang membuat Bimo menjauhkan wajahnya. Ia tak ingin wanita yang meledak-ledak. Ia suka wanita yang sabar dan lemah lembut.

__ADS_1


"Aku tu gak mau ninggalin kamu. Aku tu mau buka pintu rumah dulu. Baru jemput kamu. Eehh... gak tahunya kamunya sudah terbangun. Nangis-nangis dan marah-marah." Jelas Bimo, menghela napas berat.


Rara terdiam, matanya bergerak ke kanan dan ke kiri seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ya jelaslah aku nangis dan marah. Aku kaget, tiba-tiba terbangun sudah di tempat asing. Mana di tengah perkebunan sepi. Paman juga , biasanya bicara lembut samaku. Membujukku, pandai menyenangkan hatiku. Tapi, sekarang kasar. Marah-marah, suka menyudutkan. Heran... Sekali berubah sudah seperti orang asing." Cicit Rara menatap kesal Bimo, yang kini menunduk seolah menyembunyikan sesuatu.


"Manusia itu sifatnya Baharu. Maka jangan terlalu percaya sama manusia. Dulu dan sekarang jelas berbeda. Kamu selalu bilang, Akau berubah. Jelas berubah, waktu saja berganti."


"Apa alasannya paman berubah. Aku hanya ingin tahu alasannya. Agar aku tak menduga-duga seperti ini. Aku salah apa? kenapa paman menjauhiku. Hingga sampai tujuh tahun?" kembali menitikkan air mata, jika mengingat dirinya yang ditinggalkan Bimo dengan tiba - tiba, membuat hatinya hancur. Saat itu ia masih sangat mengharapkan Bimo selalu disisinya.


"Apa karena kejadian di ruang rawat inap itu? saat paman sakit? apa karena itu paman?" menelisik Bimo dengan pemasarannya. "Karena itu kah? karena sejak saat itu, paman tak mau bertemu denganku lagi. Bahkan paman tak tinggal di rumah lagi. Paman.... Apa paman, benar-benar membenciku sejak kejadian itu, hingga saat ini?"


"Sudah, jangan bahas yang berlalu. Sebaiknya kita makan dulu." Bimo menyendok nasi ke piring nya Rara, berserta lauknya. Wajahnya terlihat tegang.


"Kamu bicara apaa sih Ra? gak usah bahas yang berlalu. Ayo makan, nanti kamu sakit, aku juga yang repot." Mulai memakan makanan yang ada di hadapannya dengan menunduk tak berani menatap ke arah Rara.


"Aku tu bisa mati penasaran paman. Apa alasan paman menjauhiku?"


Prenggg


Bimo meletakkan kuat sendok di atas piringnya. Sebagai bentuk ketidaksenangan dirinya membahas yang sudah berlalu.


"Kalau kamu merasa itu adalah alasannya. Berarti kamu telah sadar. Bahwa kamu telah melakukan kesalahan yang fatal kan?"

__ADS_1


"Aku tak salah. Di mana letak kesalahannya. Apa salah menci um paman yang kita sayangi?"


"Rara... Sudah, aku tak mau membahas yang sudah lewat. Apalagi kamu tak merasa bersalah." Bimo kembali fokus melahap makanannya. Walau sekarang makanan yang dikunyahnya sudah terasa hambar. Ia jadi was was saat ini.


"Oohhh... Gara-gara itu paman benci padaku. Gara-gara aku menc ium bibir paman saat paman sakit kan? gara-gara kejadian itu, paman dan kak Jenifer bertengkar. Jadinya paman benci aku. Menganggap akulah penyebab hubungan paman dan kak Jenifer rusak."


"Lebih baik diam, dari pada banyak cakap dan banyak menduga-duga. Makan makananmu!"


"Astaga... Gara-gara itu paman? hal sepele itu, penyebab kehancuran hubungan kita? tahu gak paman. Saat itu aku sedih sekali mengetahui paman sakit. Seminggu aku tak melihat paman di rumah. Seminggu kita gak ada komunikasi. Aku tuh jadi rindu. Setahuku, rindu yang membuncah akan terobati dengan mencium orang yang kita sayang."


"Stop! apa kamu gak dengar tadi apa aku bilang. Kalau gak tahu hal yang sebenarnya. Tak usah menduga - duga." kini kedua nya beradu pandang dengan tatapan yang mendalam.


"Ya katakan apa yang sebenarnya. Agar aku tak menduga - duga. Kalau yang ku katakan bukan kenyataannya."


"Yang berlalu tak perlu dibahas."


"Perlu..!"


."Rara..! aku sedang tak main - main saat ini. Aku sedang tak main - main dengan apa yang terjadi pada kita. Ku harap, kamu tak perlu menanyakan lagi. Apa penyebab, kenapa aku menjauhimu dulu? karena itulah yang terbaik untuk mu dan untuk ku sat itu."


"TIDAK.... Itu hal yang tak baik buatku. Keputusan paman menjauhiku membuatku jadi hancur." Menitikkan air mata sembari mere mas kuat jemari menatap Bimo yang terlihat terkejut dengan ucapan nya Rara.


TBC

__ADS_1


__ADS_2