GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Diboyong


__ADS_3

Bimo sudah diboyong ke kantor polisi. Atas aduan kekerasan dan penganiayaan. Kini tinggal lah Rara di rumah dengan pikiran kacaunya. Wanita itu tak henti-hentinya menangis. Bingung harus berbuat apa.


Ekspresi wajah tenang sang suami saat diseret ke mobil patroli membuatnya semakin sedih. Ia tahu, suaminya itu berpura pura tegar.


Ia baru saja pulih dari trauma, atas perbuatannya yang salah selama ini. Ia belum siap menghadapi situasi ini. Berhubungan dengan pihak berwajib membuatnya tertekan.


"Non, sebaiknya Non tidur. Besok kita ke kantor polisi, urus tuan. Atau minta bantuan saja kepada orang tua Tuan Bimo atau orang tuanya e non." Bi Sakinah masih setia menemani Rara di kamar, hingga kini sudah pukul 11 malam. Wanita itu tak henti-hentinya menangis. Terduduk lemah di lantai bersandar di tempat tidur.


"Gak Bi, ayah gak boleh tahu masalah ini. Aku sudah terlalu sering buat masalah. Dan menghubungi keluarga besar paman bukan solusi yang tepat." Ujarnya dengan sesenggukan, mencoba untuk tidak menangis. Tapi, air mata terus saja mengucur deras. Rasanya sedih banget. Baru juga akur dua hari dengan sang suami. Sekarang mereka sudah dapat masalah besar.


"Oh ya Bi, baju yang ku pakai tadi pagi sudah Bibi cuci?" tanyanya dengan antusias.


"Belum non, masih di keranjang kotor."


Rara langsung bangkit dari duduknya. Seketika ia merasa tubuhnya melayang. BI Sakinah dengan cepat menahan tubuh nya Rara yang oleng.


"Non kenapa?" merangkul Rara dari samping, Bi Sakina terlihat sangat mengkhawatirkan Rara.


"Gak tahu Bi, kepala ku sakit. Aku merasa tak bertenaga." Keluh nya memegangi kepalanya.


"Enon, jangan banyak pikiran. Nanti tekanam darahnya turun. Mana Enon lagi menstruasi."


Rara memaksa berjalan.


"Non mau ke mana sebenarnya?" tanya Bi Sakinah heran.


"Mau ke ruang laundry Bi. Cari baju yang ku pakai tadi pagi." Rara masih merasa tubuhnya ringan tak berdaya.


"Non tunggu di sini. Biar aku ambilkan!" Bi Sakinah, menuntun Rara untuk berbaring di ranjang. "Sebentar, aku ambilkan. Non berbaring saja dulu."

__ADS_1


Rara mengangguk lemah.


Bi Sakinah berlari ke lantai satu, tujuannya ke ruang laundry.


"Non ini bajunya "


Rara mendudukkan tubuhnya yang di bantu Bi Sakinah. Wanita itu pun dengan cepat merogoh kantong celana jeans nya. Apa yang ia cari didapat nya. Yaitu secarik kertas, dimana di kertas itu tertulis nomor ponselnya Alva.


Dengan tangan bergetar Rara mulai menekan nomor di layar ponsel nya ia akan menghubungi nomor ponsel Alva.


Bi Sakinah hanya bisa memperhatikan Rara yang terlihat ketakutan saat melakukan panggilan. Ya Rara mentalnya sudah down.


"Ha Hallo.... Selamat ma- lam...!" ujar Rara tergagap, meraih tangannya Bi Sakinah. Ia perlu penguatan.


"Ya Halo... Ini siapa?" suara datar nan berat menjawab di ujung sana.


"I, i, ni, ini aku Rara." Jawabnya dengan tak percaya diri. Sungguh Rara takut Alva tak bisa diajak kompromi.


"Ku mohon, bebaskan suamiku dari jeretan hukum. Please.... Ini hanya kesalah pahaman. Apa yang kamu tuduhkan kepada suamiku terkait sikapnya adalah tak benar. Kamu tak boleh menilainya dari penglihatanmu saja." Ucap Rara dengan tegas, ia masih menggenggam tangan Bi Sakinah.


"Maksudmu apa?" suara Alva, terdengar kaget di telpon.


"Kamu kan melaporkan suamiku ke polisi. Karena pertengkaran tadi." Jelas Rara mulai naik darah. Koq pria ini sok tidak tahu.


"Tidak, aku tidak melaporkannya?"


"APA....?" Rara semakin dibuat panik dan bingung.


"Kamu jangan bermain main dengan saya. Aku bisa jadi saksi. Kalau suami ku tak salah. Aku bisa melaporkan kamu, atas tuduhan Stalker. Kalau kamu merasa hebat, asal kamu tahu, ayahku juga hebat. Kamu yang salah, kamu mengusik hidupku. Kenapa kamu mengganggu ku terus...! Hua.... Hua.... Hua..!"

__ADS_1


Rara yang emosional malah menangis histeris di sambungan telepon.


"Hei... kamu tenang dulu. Aku tak melaporkan suamimu!'


"Bohong. !" teriak Rara.


"Iya bener." Jawab pria itu dengan nada lemah. Dan jawabannya terdengar jujur.


Tet.


Rara mematikan teleponnya.


"Gimana non?" Bi Sakinah begitu penasaran dengan hasil pembicaraan majikannya itu.


"Dia gak ngaku Bi, kalau ia yang melaporkan perkelahian tadi sore." Jawab Rara lemas. Mata sembabnya kini menitikkan cairan bening lagi.


"Sabar non, bibi yakin tuan pasti bisa selesaikan masalah ini. Jangan dipikirkan, lebih baik Non istirahat ya?" mengelus lembut lengan Rara yang masih menangis itu. Kepala nya terasa semakin sakit saja.


"Gak bisa tidur Bi." Keluhnya, bagaimana mungkin bisa tidur. Otaknya mikir yang macem-macem.


"Bibi pijitin kepalanya ya, sama badan e non juga. Biar rileks."


"Gak usah Bi!" tolak Rara ramah. Ia senang, ternyata ia masih punya pembantu yang begitu loyal dan penuh kasih sayang.


"Gak apa-apa Non." Menuntun Rara untuk berbaring. Setelah Rara berbaring, Bi Sakinah memijat Rara mulai dari kakinya.


Satu jam Bi Sakinah memijat tubuh Rara. Hingga ia pun tertidur, karena pijatan Bi Sakinah membuatnya Rileks.


TBC

__ADS_1


Like coment vote hadiah, dinantikan selalu readers sayang.😊


__ADS_2