
Tak berselang berapa detik, ia merasakan ranjang itu bergoyang. Apa pamannya itu naik ke atas ranjang?
Rara mulai gelisah di balik selimut. Ia takut Bimo salah paham dan kembali marah. Padahal ia tak ada niat apapun bersembunyi dibalik selimut. Ia hanya kedinginan dan tak sanggup menunggu sang paman, yang tak mau keluar dari kam ar man di itu.
Rara bisa melihat cahaya ponsel yang digenggam sang suami dari balik selimut. Seperti nya suaminya itu sedang bermain ponsel.
Wanita itu pun menyibak sedikit selimut yang menutupi tubuhnya, membuat celah agar bisa mengintip apa yang dilakukan sang suami.
Oh.... Iya lagi bekerja?
Rara melihat Bimo sibuk dengan laptop yang ada di atas pangkuan. Dan salah satu tangannya nampak memegang ponsel. Sesekali matanya Bimo ke layar datar di hadapannya dan sesekali ke hp di tangan.
Ya ampun, serius banget sampai gak menyadari kalau aku ada di sini?
Rara membathin, masih memperhatikan lekat sang suami dari celah kecil dibalik selimut. Suaminya itu sangat tampan dilihat dari sisi manapun. Mau dari samping, dari depan dan dari belakang. Entahlah, apa karena ia sudah sejak lama mengagumi Bimo, hingga sifat menyebalkan saat inipun, bisa ditolerirnya. Tadinya ia sudah sangat ingin pergi dari kehidupan Bimo, tak mau lagi jadi istrinya. Tapi, disaat Bimo mencarinya. Keyakinannya goyah lagi.
__ADS_1
Lima belas menit pun berlalu. Bimo masih fokus dengan laptopnya. Sedangkan Rara sudah merasa ngap berada di balik selimut. Mana kakinya yang kena tumpahan air panas dan lecet terjatuh ke aspal jadi terasa sakit sekarang. Mungkin disebabkan karena pergerakannya yang terbatas, sehingga aliran darahnya tidak lancar.
Bimo pun mulai curiga dengan selimut yang teronggok di atas ranjangnya itu. Ia menoleh dengan ekspresi wajah penasaran. Tangannya terulur untuk menarik selimut itu dengan ragu.
Dan
Grapp
Saat selimut itu terlempar. Nampaklah wajah cengir kuda nya Rara yang terlentang dengan mendekap dadanya.
"Paman... Hehehehe..!"
Bimo yang terkejut, beranjak cepat dari atas ranjang. Ia yang tak sanggup melihat tubuh mulusnya Rara, langsung membalik badan, membelakangi sang istri.
"Kamu cepat pakai baju, kita perlu bicara. Aku tunggu di ruang makan!" tegas Bimo, masih membelakangi sang istri. Kalau setiap hari seperti ini, bisa spot jantung dia. Ia perlu bicara dengan Rara, tentang pernikahan mereka ini.
__ADS_1
"Bajunya mana?"
Bimo yang hendak pergi dari tempat itu, menghentikan langkahnya.
"Itu lemari besar ada dua. Kamu bisa pilih mana baju yang ingin kamu pakai."
Pria itu pun menutup pintu kamar itu dengan sedikit keras. Yang membuat Rara terkejut.
"Kenapa si Bimbim jadi menyebalkan gitu. Lihat aku seperti lihat hantu saja." Ujarnya dengan kesal. Mulai membuka lemari yang dimaksud Bimo. "Lemarinya besar-besar. Tapi, isinya kenapa kebanyakan sarung dan baju kokoh." Rara pun akhirnya tersadar, bahwa kedua lemarinya Bimo berisikan pakaian untuk sholat. Dan seprei, sarung bantal, horden dan lain sebagainya.
"Ya sudah deh, pakai baju kokoh aja. Sama sarung." Ujarnya mulai memakai baju kokoh lengan pendek berbahan katun bordir yang dipadu dengan sarung motif kotak-kotak. "Sudah mau jumatan saja aku ini." Ujarnya menggeleng dengan ekspresi wajah masam. Penampilannya sungguh aneh. Mana dadanya terlihat lagi. Karena baju kokohnya Bimo kebanyakan warna putih, BW dan cream.
"Bodoh amat, yang penting aku gak kedinginan." Ujarnya sambil memperhatikan pantulan dirinya di cermin. Ia baru saja menyisir rambut panjang hitam legamnya.
TBC
__ADS_1
Jangan lupa dukung novel ini. Kita ada give away loh di akhir bulan๐๐