GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Tak mau disalahkan


__ADS_3

Bruuggkkk


Rara yang tak konsentrasi saat hendak berdiri setelah memetik buah stroberi, tak sengaja menabrak seorang pria di hadapannya. Tabrakan indah itu, membuat Rara tak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Sehingga ia hendak terjatuh.


Stroberi yang ada di keranjang berhamburan.


"Eeehh.... Eeh...!" Pria itu berusaha menahan tubuh Rara, merengkuh kuat pinggang nya Rara, agar tak jatuh ke tanah. Yang membuat Rara semakin terkejut, disaat tangan kokoh itu membelit pinggangnya dan tubuh kedua bersentuhan.


"Auuuwww...!" Rara terkejut, ia dengan cepat melingkarkan tangannya kuat di bahu pria yang tadi ditabraknya.


Syur.....


Angin berhembus sepoi-sepoi. Adegan seperti di fllm romance terjadi sudah. Kedua mata beradu pandang dengan ekspresi tercengang.


"Emmmm.... Maaf... Aku tadi gak lihat kamu ada di depanku?" ujar Rara kikuk, mencoba melepas belitan tangan pria yang di tabraknya. Tatapan pria itu sangat dalam, yang membuat Rara sedikit ketakutan. Rara sebenarnya tipe wanita yang penuh kewaspadaan terhadap lawan jenisnya. Apalagi ia tak kenal.


"Oohh iya.. " Pria itu kini tersenyum manis. "Alva." Rara menatap bingung tangan kekar di hadapannya menunggu disambut.


"Alvaro Adijaya!" tegasnya menggoyang tangannya, agar disambut Rara yang masih tercengang melihat pria yang ramah dan macho itu.


"Perkenalkan, saya Alvaro Adijaya!" Pria itu masih tersenyum manis, menunggu uluran tangannya Rara.


"Rara, nama saya Rara!" sangat tak sopan rasanya jikalau tak menjabat tangan yang dari tadi mengatung itu.


Rara yang masih bingung dan tegang itu, kini berusaha bersikap ramah. Bagaimana pun ia yang salah. Karena kurang fit, tidak melihat orang di hadapannya.


"Nama yang cantik, secantik orangnya!" Rara dibuat salting, karena dapat pujian yang tulus dari seseorang.


Suaminya saja tak pernah memujinya. Padahal wanita itu sangat senang dipuji. Ini ada pria asing melayangkan kata manis.


"I, iiya, terima kasih. Maaf ya, tadi aku gak lihat kamu di depanku?" Rara tak mau terlalu lama berbasi basi. Perutnya sedang terasa nyeri. Ia berbalik hendak meninggalkan pria yang, tampan, macho dan terlihat baik itu


"Tunggu..!" pria itu menahan bahunya Rara.


Rara yang terkejut, dengan cepat menepis tangan pria itu.

__ADS_1


Prraakkk..


Camera yang ada di tangan pria itu terjatuh ke tanah. Ia terkejut dengan tepisan cepat tangannya Rara.


Rara yang terperanjat, melihat camera itu terjatuh dan sipemilik sedang memungutnya. Memeriksa cameranya dengan serius.


Rara tahu camera itu sangat mahal. Karena ia juga sering membeli kamera.


Pria itu terlihat serius memeriksa cameranya. Rara semakin panik, ia tahu ada yang tak beres sekarang pada camera itu.


"Ap, apa rusak? cameranya rusak kah? aku, aku, bukan aku yang menjatuhkannya kan? cameranya kamu yang jatuhkan?"


Rara tergagap, ia yang panik dengan cepat membela dirinya. Jangan sampai ia disalahkan. Kalau pria yang ada di hadapannya ini minta ganti, atau melaporkan dirinya ke manager cafe. Bisa panjang urusannya. Bimo pasti akan memarahinya. Camera itu mahal, mana mungkin Bimo mau mengeluarkan uang untuk mengganti itu. Yang buat masalah dirinya. Ia pun tak punya uang saat ini.


"Eemm... Rusak sih, lensanya mungkin " Ekspresi wajah pria itu masih terlihat bersahabat. Mencoba kameranya dengan membidik Rara yang tertegun.


"Apa...? bukan aku yang buat jatuh loh. Jangan minta ganti samaku." Rara yang panik, langsung balik badan. Ia harus melarikan diri.


"Tunggu...! jangan lari, kalau kamu melarikan diri. Aku laporkan sama bosmu. Aku tahu kamu itu kerja di sini kan?"


Suara tegas pria itu memenuhi perkebunan itu. Rara menghentikan langkahnya. Takut akan ancaman pria yang penuh misterius itu.


Ketakutan terbesar Rara hanya satu. Ia sedang tak mau nantinya dimarahi Bimo. Kalau ia buat kesalahan, pasti Bimo kembali menyudutkannnya. Itu yang tak sanggup didengarnya. Hatinya sedang lemah saat ini.


"Iya, tapi ini terjadi karena kamu menabrak aku tadi." Jelas pria itu, menatap lucu. Rara yang terlihat panik. Saat ini wajahnya Rara terlihat lucu.


"Iya maaf, maaf untuk hal itu. Sudah ya, kita anggap gak ada masalah lagi. Maaf... Aku harus pergi, aku mau kerja lagi!" bicara dengan memelas. Bahkan Rara mengatupkan kedua tangannya.


"Ada apa ini?"


Rara merasa semakin tegang saja. Bimo sudah ada di belakangnya. Tamatlah riwayatnya, jikalau pria itu melapor pada Bimo.


"Tak ada apa apa pak!" ujar pria itu santai, tak terlalu tertarik melihat Bimo.


Pria itu malah menatap takjub Rara.

__ADS_1


"Kamu kan sedang bekerja, kenapa kelayapan di sini?" ujarnya dengan ekspresi wajah masam.


Rara tak menanggapi ucapan suaminya itu. Hatinya berdenyut nyeri mendengar ucapan sang suami. Dia merasa seperti di Romusha saja, kerja paksa. Rasanya ia tak tahan lagi, menunggu dua Minggu lagi, untuk pergi dari kehidupan Bimo. Ia akan kerja dengan baik selama sebulan ini. Dan gajinya akan digunakannnya untuk modal lari.


"Heii.... Tunggu dulu. Kita belum selesai."


Pria itu menyenggol bahu Bimo yang terbengong di tempat. Rara telah meninggalkan tempat itu. Sedangkan pria itu mengejar Rara ke arah cafe.


Rasanya tanduk dua sudah keluar dari kepala Bimo. Wajah putihnya sudah memerah penuh emosi. Ia tersinggung dengan sikapnya Rara yang tak menghargainya saat bicara.


Ciihhh..


Bimo berbalik badan, menyusul dua manusia yang sudah berjalan di depannya.


"Hei tunggu dulu, kita belum selesai bicara."


Bimo emosi melihat pria itu terus saja berusaha mengajak bicara Rara. Ia mempercepat langkahnya mengejar keduanya.


Rara yang ketakutan tentu saja berlari. Ia juga bingung dengan pria yang ditabraknya itu. Koq ngejar-ngejar dia terus.


"Hei.... Kamu ada urusan apa dengannya?" Bimo menahan tangan pria yang bernama Alvaro itu. "Dia karyawan saya, jangan ganggu orang saat bekerja." Tegas Bimo, menatap tajam Alvaro.


"Oohh maaf!" Pria itu mengurai tangan Bimo yang menahannya. Dan meninggalkan Bimo di tempat itu.


Ia masih ingin bicara dengan Rara. Tapi, seperti nya saat ini bukan waktu yang tepat. Rara terlihat ketakutan padanya.


Mereka kenapa? siapa pria itu?


Bimo mempercepat langkahnya menuju cafe. Saat sampai di cafe itu, ia kembali berpapasan dengan Rara. Yang terlihat berjalan dengan terburu-buru dari ruang manager.


Rara tak menyapa Bimo. Ia menganggap tak ada pria itu di tempat itu.


"Mau ke mana kamu?" Bimo yang sudah mengejar Rara ke parkiran mengajukan pertanyaan dengan ekspresi wajah menyudutkan.


"Mau pulang, aku sudah minta izin pada Angga." Jawab Rara ketus. Ia menaiki sepedanya. Dan langsung mengayuhnya. Meninggalkan Bimo yang masih mematung di parkiran itu.

__ADS_1


TBC


Like, coment, vote dan hadiahnya say 🙂🙏


__ADS_2