
Bimo dibuat bingung dengan sikap Rara yang tiba-tiba terdiam dengan ekspresi wajah sedih. "Apa masih sakit?" tanya Bimo semakin dibuat khawatir. Dari tadi, istrinya itu tak pernah mengeluarkan sepatah katapun. Hanya anggukan dan gelengan kepalanya respon dari Rara atas banyak nya pertanyaannya. Ditambah air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
"Kita ke dokter sekarang!" Bimo beranjak dari ranjang. Tadi saat membantu Rara bersih bersih, Rara mengeluh perih dan sakit. Apalagi saat ia buang air kecil. Bimo memeriksa milik istrinya itu. Dan bagian intinya Rara memang lecet.
Rara terdiam, tapi matanya selalu mengikuti pergerakan sang suami, yang tengah berganti baju.
"Ayo sayang, pakai bajunya." Rara terus saja mematung. Entahlah ia juga bingung dengan dirinya. Tiba tiba saja ia merasa sedih. Apa karena ia sudah tak perawan lagi? makanya ia sedih? ia juga gak tahu.
"Ngomong dong sayang, jangan buat aku semakin bingung seperti ini?" membelai rambutnya Rara. Ia masih mematung duduk di atas ranjang.
"Apa aku salah?" tanya Bimo lagi dengan bingung nya. "Iya, iya aku salah, aku sempat mikir yang enggak enggak tentang kamu. Maaf untuk hal itu." Merangkum wajah sang istri mengecup keningnya lembut.
"Pakai baju ya sayang? kita berobat dulu." Bimo mulai melepas selimut yang membelit tubuhnya Rara.
"Gak usah ke rumah sakit, aku lapar!" mana mungkin Rara mau diperiksa, itu sangat memalukan sekali. Setelah ia membersihkan milik nya dengan air hangat. Rasa sakit sudah sedikit berkurang.
"Astaga... Kenapa kita sampai lupa makan?" Bimo menepuk jidatnya. Memperhatikan jam yang bertengger di dinding kamarnya. Ternyata sudah pukul 21.20 Wib. Berarti ia menghabiskan waktu dua jam untuk membobol keperawanan sang istri.
"Ya sudah aku ke bawah dulu. Kamu tunggu di sini saja." Ujar Bimo lembut, ia kembali mengecup kening sang istri. Mengelus pipinya Rara sekilas. Entah kenapa mau ke dapur saja, meninggalkan Rara di kamar ia jadi gak tahan. Ia ingin Rar terus disisinya setiap detik.
Sebelum Bimo menutup pintu kamarnya menuju ke dapur, ia masih menyempatkan diri menatap sang istri.
Rara hanya bisa tersenyum menanggapi tingkah nya Bimo yang lebay.
Sesampainya di dapur. Bimo dibuat heran. Tak ada tanda tanda keberadaan Bi Sakinah di rumah itu. Pantes sudah larut malam begini. Bi Sakinah gak datang ke kamar mengingat kan mereka untuk makan malam. Ternyata Bi Sakinah minta izin pulang ke rumahnya. Ia meninggalkan catatan kecil di atas meja makan.
"Apa Bi Sakinah mendengar pertempuran tadi, makanya ia mendadak pulang dan tidur di rumahnya?" Sudah dua Minggu ini Bi Sakinah menetap di rumah Bimo. Dan sekarang malah pergi begitu saja. "Besok saja aku hubungi." Bimo masih perlu tenaga wanita itu. Ia tak mungkin membiarkan Rara memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Dan ia juga sedang sibuk. Mana sempat ia mengurus rumah.
Bimo sangat bahagia. Akhirnya ia dan Rara sampai ke tahap yang sangat intim. Sungguh, Bimo dibuat speechless dengan Rara yang ternyata masih perawan. Ia perlu bertanya banyak hal pada Rara, keseharian istrinya itu, setelah ia menjauhinya.
Karena, disaat ia datang ke rumahnya Ezra. Pasti ada saja berita buruk yang didengar kupingnya. Tapi, ia tak pernah menanyakan detail. Apa ia salah dapat informasi?
Astaga..
Bimo menggelengkan kepalanya kuat. Betapa jahatnya ia pada Rara selama ini. Fitnahan demi fitnahan ia layangkan pada sang istri. Tapi, lihatlah Rara masih mau bertahan. Walau sering ingin kabur.
__ADS_1
Saat ia masuk ke dalam kamar. Ia menemukan Rara malah berbaring dengan sedihnya. Lagi lagi Bimo dibuat nelangsa dengan sikapnya Rara yang tiba-tiba murung itu. Biasanya juga ceria dan bawel.
Eemmmmuaahh..
Satu kecupan kembali mendarat di pipi sang istri. Bimo inginnya menciumi Rara terus. Pipi istrinya itu sangat lembut dan halus. Mana wangi lagi. Bimo jadi kecanduan.
"Kita makan ya? terus minum obat."
"Obat apa?" tanya Rara cepat. Kini ia sudah di bantu sang suami bangkit.
"Obat anti nyeri dan sakit. Gak mungkin juga obat kuat." Bimo tertawa tipis Sedangkan Rara cemberut.
"Gak usah minum obat kuat." keluh Rara.
"Siapa yang mau minum obat kuat? suamimu ini sudah kuat." Menunjukkan otot tangannya yang menonjol seperti Popeye.
"Lihat ini, Popeye sipelaut!" ujarnya memegang otot tangannya yang menggelendong.
"Dan inilah olive nya, wanita cantik nan menggoda. Membuat tubuh bergetar hebat dibuatnya."
"Heheheh... Kita makan dulu, agar ada tenaga lagi buat cetak anak..!" ujar Bimo ngebanyol. Mendekatkan sendok ke mulutnya Rara.
Rara kini masih melotot, mau buat anak lagi. Miliknya aja masih sakit.
"Hehehe.... Nanti, gak habis makan. Tunggu sakitnya hilang." Bimo cengir. Ia memang masih ingin melakukannya sekarang. Tapi, kan istrinya masih kesakitan.
Sabar....
Mereka pun makan dengan sangat romantis. Suap suapan dan bercanda. Bimo mengatakan sangat terkejut saat Rara menendangnya. Tendangan maut, tentu saja Rara tertawa. Kalau diingat ingat lucu juga acara belah duren mereka.
"Aku sudah sangat merasa bersalah sekarang ini padamu sayang." ujar Bimo, membelai wajahnya Rara lembut. Setelah makan malam, kini keduanya bersantai di atas ranjang. Duduk bersandar di kepala ranjang dengan Rara dirangkul Bimo.
Rara memutar lehernya menatap sang suami yang terlihat serius.
"Ini mungkin balasan untuk ku, karena dulu meninggalkanmu tanpa penjelasan. Saat aku datang ke rumah. Ada saja aku dengar cerita buruk tentang mu. Mulai dari bolos sekolah, ikut tawuran, ketangkap wali kelas koleksi video Por no di hape, ketahuan ke dukun beranak dan aborsi."
__ADS_1
"What...? aborsi..? ciuman saja gak pernah. Aborsi dari mana?" Rara mulai kesal, siapa coba yang tak kesal, dinilai buruk. Padahal kita gak seburuk itu.
"Iya, ya seperti itu info yang aku dengar tentang kamu waktu itu."
"Tahu info seperti itu, kenapa gak dikonfirmasi. Kenapa gak peduli denganku. Benarkah keponakan ku itu, kelakuannya seperti itu? kenapa paman gak mau cari kebenaran info itu..." Rara menjauh dari rengkuhan Bimo. Ia membelakangi Bimo, merajuk dengan melipat kedua tangan di dada.
"Bertahun tahun paman menilaiku buruk, karena ciuman itu. Karena aku anak ibunya Rani. Jadi kalau aku punya ibu seperti itu, berarti aku juga seperti itu. Paman jahat, jahat...!"
Air mata semakin mengucur deras, membasahi pipinya. Ia memang dari tadi sudah sensitif.
"Sayang... Maaf..!"
Rara menepis tangannya Bimo yang ingin meraihnya lagi ke pelukan pria itu.
"Aku salah, inilah mungkin hikmahnya kita jadi berjodoh, sekarang saat nya kesalahpahaman harus diluruskan. Dari kemarin kan sudah ku bilang. Aku itu sangat mencintaimu. Besarnya rasa cinta itu membuatku lemah. Kamu masih kecil waktu itu. Gak mungkin aku terus nempel denganmu. Kalau aku khilaf dan lakukan seperti yang baru kita lakukan tadi, gimana? padahal kamu masih kecil. Pria dan wanita itu ada batasannya. Makanya di agama kita dilarang pacaran. Ya karena manusia itu rentan godaan. Kita difitrahi oleh nafsu."
"Gak seperti itu cerita nya. Kata Kak Jenifer, paman itu memang benci aku, katanya aku pembawa sial untuk hidup paman. Gara ciuman itu, paman dibully karyawan lainnya. Bahkan ada pihak yang ingin melaporkan kejadian itu ke pihak kepolisian." Jelas Rara kini menatap tajam Bimo.
Bimo tak mau malam ini ada pertengkaran. Tak seharusnya yang lalu diungkit. Ia mendekati Rara, memeluknya dari belakang. "Gak usah kita bahas lagi. Mungkin selama ini aku salah dapat info tentang kamu. Masalah di bully karyawan dan ingin dimasukkan ke penjara juga tak perlu kita bahas. Yang lalu biar lah berlalu." Mengendus endus ceruk lehernya sang istri lembut. Yang membuat Rara merasa geli.
"Harus diluruskan dan dibahas. Agar jelas." Ujar Rara.
"Baiklah, benar sekali gara kamu mencium aku saat itu. Aku jadi jatuh cinta padamu..!" menggelitik Perutnya Rara. Tentu saja Rara dibuat kegelian. Ia tertawa menahan geli.
"Benar gak di bully karyawan lainnya?" tanya Rara menjauhkan tangannya Bimo yang menggelitiknya.
"Bener..!"
"Mau dilaporkan ke polisi?"
"Iya sayang.. !"
Rara terdiam, gelitikan tak menghasilkan rasa geli lagi. Ternyata ciu-mannya waktu itu membuat hidup pamannya hancur. Pantas ia dijauhi suaminya itu dulu.
TBC
__ADS_1