
Laporan telah selesai dibuat. Rara jadi merasa tak tenang. Masalah datang secara beruntun.
"Kamu gak kenapa kenapa kan sayang?" memperhatikan Rara yang terlihat pucat dengan tatapan penuh ketakutan. Kini mereka sedang berada di parkiran. Hendak meninggalkan kantor polisi.
"Kamu melihat apa?" Rani akhirnya mengikuti arah tatapan matanya Rara.
Deg
Betapa terkejutnya Rani melihat seorang pria paruh baya, berjalan ke arah mereka. Hingga kedua wanita itu kini terlihat pucat.
"Ayo ma, kita pulang." Rara langsung menarik tangan sang mama agar masuk ke dalam mobil. Rara tak mau bertemu dengan pria yang akan menghampiri mereka. Begitu juga dengan Rani, tak mau melihat pria yang kini semakin mempercepat langkahnya ke arah mereka.
"Ayo cepat pak!" titah Rani pada sang supir. Ibu dan anak itu seperti melihat hantu saja.
"Ra, Rara...!" teriak pria itu mempercepat langkahnya mengejar mobilnya Rani yang sudah meninggalkan area kantor polisi itu.
__ADS_1
Huufft...
Rara menghela dia napas dalam, begitu juga dengan sang ibu. Ekspresi keduanya sama sama tegang. Hingga keduanya pun kini saling pandang, merasa heran dengan diri mereka yang sama sama kelihatan ketakutan.
"Mama mengenal pria tadi?" tanya Rara menatap lekat sang ibu, yang kini terlihat tegang.
"Apa?" tanyanya lagi, ingin memperjelas pertanyaan Rara.
"Mama kelihatan ketakutan, apa Mama mengenal pria yang mengejar kita tadi?" memperhatikan lekat wajah sang ibu, yang terlihat gugup.
"Gak, gak kenal. Emang dia siapa sayang? kenapa kamu kelihatan takut pada pria itu?" tanya Rani dengan penasarannya.
Rara bicara dengan mata yang berkaca-kaca. Sebenarnya ia masih trauma berurusan dengan kepolisian, karena kelakuannya yang dulu benar benar menyisakan luka di hatinya. Dan sekarang lihatlah, ia akan berurusan dengan pihak berwajib. Tentu saja nanti saat dip pengadilan dia akan dimintai kesaksian terkait kasus Alva dan Jenifer.
Rani tercengang mendengar penjelasan panjangnya Rara. Ia menarik sang putri dalam dekapannya. "Maafin Mama ya, sudah buat hidupmu susah. Mama gak bisa jadi ibu yang baik untukmu."
__ADS_1
Rara terdiam mendengar ucapan sang ibu. Apakah ibunya ini telah berubah?
"Iya ma. Rara juga minta maaf, belum bisa buat mama bangga.." Ibu dan anak itu masih berpelukan, menumpahkan rindu yang membuncah. Hingga Rara pun sedikit bingung dibuat dengan mobil yang membawanya tidak mengarah ke rumahnya.
"Ma, kita kenapa lewat sini. Rumahku belok ke kiri Ma." Ujar nya terkejut melepas rengkuhan sang Mama.
"Kita ke rumah Mama ya sayang. Mama masih rindu samamu." Mengusap lembut kepala sang putri yang ditutupi hijab itu.
"Ma, aku belum minta izin dengan paman Bimo." Rara sebenarnya sangat rindu ibunya. Ia juga ingin tahu, di mana ibunya itu sekarang tinggal. Apa masih di rumah yang lama pemberian Ezra, atau sudah di rumah yang lain.
"Ya sudah, kamu hubungi saja suamimu." Ujar sang ibu lembut. Sikap lembut nya Rani membuat Rara sedikit tercengang. Benarkah ibunya sudah berubah?
"Iya ma." Rara pun akhirnya menghubungi nomornya Bimo. Tapi, gak aktif.
"Kenapa? gak diangkat?" tanya Rani penuh perhatian.
__ADS_1
"Gak aktif Ma." Jawabnya lesu. Ia sedang bimbang, kalau ia pergi dengan ibunya dan Bimo salah paham bagaimana?
TBC