
"Apa...?"
"Koq kaget, dulu juga kita sering mandi sama."
Dug
Bimo terdiam, menatap heran Rara yang berdiri dengan tubuh menggigil di ambang pintu ka mar man di.
Ini anak pasti dulu sering mandi bareng dengan teman cowoknya. Lihatlah, ia tak merasa risih menawarkan mandi bareng denganku. Dasar anak ini sudah rusak. Sial... Nasib punya istri gak benar.
Bimo membatin, masih menatap heran dan bingung sang istri.
"Itu dulu dan sekarang sudah beda."
"Beda, apanya yang beda? aku tetap Rara dan paman tetap paman Bimo kan? lagian kita kan sudah menikah, ya gak masalah jikalau mandi bareng. Aku pernah dengar ceramah seorang Ustazah. Katanya mandi bareng dengan pasangan akan menambah kasih sayang. Aku ingin Paman menyayangi aku seperti dulu." Ujar Rara dengan mata berkaca-kaca.
"Ngomong apa kamu? sana masuk, sudah menggigil banyak cerita lagi." Bimo mendorong lembut tubuh sang istri hingga masuk ke dalam. "Aku tunggu di luar." Ujarnya lagi dan menutup pintu kam ar man di itu.
Hufftt...
Bimo menghela napas berat. Ia pusing memikirkan hubungannya dengan Rara. Ia sungguh tak mengerti dengan cara berfikir istrinya itu.
Baru kemarin ia merengek minta dikawinkan dengan Ferdy. Dan sekarang bahas kalau mereka adalah pasangan sah.
"Paman... ambilkan aku handuk. Di sini gak ada handuk!" Sura teriakan Rara, membuat lamunannya buyar.
Hufftt...
Ia kembali menarik napas panjang. Sungguh ia tak akan tahan, Kalau terus-terusan menjalani hari hari seperti ini.
Apa tujuannya menikah dengan Rara?
"Paman...? aku sudah kedinginan ini. Mana handuknya." Rara sudah menggedor pintu kam ar man di itu. Ya Bimo menguncinya dari luar.
__ADS_1
"Cepat paman, aku kedinginan!" teriaknya lagi, mencoba membuka pintu. Tapi, gak bisa.
"Iya, sebentar.!" teriak Bimo mencari handuk.
Ke mana ia taruh handuknya?
Bimo tak tahu di mana handuknya berada. Akhirnya ia mengambil handuk baru dari lemarinya. Saat itu juga, ia mendapati ada berkasnya seperti diobrak Abrik. Ia pun membenarkan susunannya.
"Apa datang pencuri? atau Rara yang membongkar ini?" ujarnya dengan heran.
"PAMAN...!"
"Iya, sebentar." Bimo bergegas menuju kam ar mandi. "Aku buka sedikit pintunya. Kamu ambil handuknya." Tegas Bimo, ia tak mau melihat tubuhnya Rara.
"Iya... !"
Terlihat tangan Bimo menjulur memegang handuk. Ia masih dibalik pintu, tak mau menoleh ke dalam.
"Ambil..!" melambaikan lambaikan handuk.
Aneh, paman normal gak sih? gak suka cewek apa? Rara membatin. "Awas kamu, seperti nya aku tahu kelemahanmu. Akan ku buat kamu spot jantung tiap hari." Rara merasa lucu dengan idenya.
Graapp...
Rara menarik kuat tangannya Bimo. Tapi, ternyata Bimo sudah waspada. Ia menahan tubuhnya agar tak masuk ke dalam kam ar mandi.
"Rara...!"
"Ohh iya paman, salah sasaran." Rara pun akhirnya meraih handuk itu.
Bimo yang tak mau berlama-lama dengan Rara. Turun cepat ke lantai satu, tepat nya ke kamarnya.
Rara sudah melap tubuhnya. Ia membelitkan handuk itu di tubuh putih nan sexy nya.
__ADS_1
Ia keluar dari kamar dengan heran. Ia beranggapan Bimo masih di kamar itu. Tahu ditinggalkan, Rara mensugesti dirinya. Memberanikan dirinya sendiri di kamar itu.
"Jangan takut, jangan takut Rara..!" ujarnya meyakinkan dirinya. Wajar ia takut, ia baru kali ini ke rumah nya Bimo ini.
"Dia sudah pergi. Eemm... Aneh si paman. Dia itu polos, atau oon sih? atau aku gak menarik?"
Rara memperhatikan bayangan tubuhnya yang indah di cermin.
"Ini montok, ini bahenol." Rara menangkup aset gunung kembarnya dan juga bokongnya. "Apa dia gak tergiur? paman normal gak sih?" menggeleng dengan frustasinya.
"Sedikit saja kamu baik padaku paman. Seperti dulu, mau jadi teman cerita dan berbagi. Aku kaan seneng sekali. Gak mesti jadi pasanganmu." Ujarnya dengan raut wajah sedih.
Angin kembali berhembus kencang. Ia pun jadi merasa kedinginan. Ia pun mulai membuka kopernya. Ternyata pakaian yang ada di dalam koper itu basah semua. Ia pun memeriksa tas selempangnya. Di mana di situ ada ponsel dan dompetnya beserta alat-alat make up nya.
Ponselnya sudah basah. Tapi, masih menyala.
"Syukurlah, masih bagus. Kalau rusak, aku mana ada uang beli yang baru." Ujarnya mengusap-usap ponselnya dengan handuk lembut yang dikenakannya.
"Aku pakai baju apa? semua bajuku basah." Ia melangkah ke arah lemarinya Bimo, yang dibongkarnya semalam. Seingat dia ada baju dan celana Bimo di lemari itu.
"Kuncinya di mana? bukannya kuncinya dari semalam ada di sini?" ujarnya bingung, memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan.
"Ya ampun, apa paman mengambil kuncinya?" ujarnya frustasi. Turun ke lantai bawah. Ia akan ke kamarnya Bimo.
"Apa ia takut, barang-barang nya ku ambil? hingga ia langsung menyembunyikan kuncinya. Emang sih, aku lihat di lemarinya itu surat - surat berharga di satu sisi." Ucapnya sendiri, kakinya melangkah ke arah kamar Bimo. Otaknya sibuk menduga-duga apa kuncinya diambil Bimo atau tidak.
Hingga ia lupa mengetuk pintu kamarnya Bimo. Ia nyelenong masuk gitu saja.
"Aawwuuu.... Apa itu... Itu apa?"
Rara panik dan bingung. Ia berputar -putar seperti orang linglung. Tapi, tangan menunjuk -nunjuk ke arah Bimo.
Bimo saat ini sedang keteteran, ia hendak memakai CD nya. Ia yang tadinya sedang berjoget-joget ringan dalam keadaan polos, tanpa sehelai kain di tubuhnya, agar tubuh nya sedikit hangat sehabis mandi. Handuk baru saja dilepas. Kedua tangan siap memasang sarung ular kobra. Dan pawang betina baru masuk sarang ular.
__ADS_1
TBC.
Like coment, vote, hadiah dan rate⭐5 jangan lupa say. 😊😀🤭❤️