
Kedua wanita itu pun tertangkap. Kini mereka berada sudah jauh dari area pasar malam.
"Dek, maaf kalau kamu tak menyukai acara lamarannya. Tadinya aku mikirnya kamu suka." Jelas Pak Kusuma, memelas pada Rani yang tak sudih menatap pria itu.
Pak Kusuma juga bisa bisanya dengar ide konyolnya Bimo. Pria kaku yang tak punya banyak pengalaman dalam hal asrama.
Pak Kusuma asyik minta maaf pada Rani.
Sedangkan Bimo, sibuk menjelaskan dirinya yang tak ada kabar beberapa hari ini pada Rara.
"Aku gak mau buat kamu marah. Kamu kan gak mau dihubungi. Ditambah aku banyak kerjaan sayang. Belum lagi dipanggil pihak berwajib soal kasus Jenifer. Aku bahkan dua hari ikut dalam menyaksikan rekonstruksi pembunuhan yang dilakukan Jenifer." Jelas Bimo, merangkum tangan Rara erat.
Rara terdiam, ia juga sadar kalau ia salah. Tak seharusnya ia melarang Bimo menelponnya, bahkan matikan ponsel nya berhari hari, sehingga Bimo berkomunikasi dengan nya pakai ponselnya Pak Kusuma. Itupun saat ngomong ditelpon, Rara marah marah terus.
"Jangan marah lagi ya? aku itu kangen banget samamu sayang!" langsung menarik Rara dalam pelukannya. Bimo memeluknya sangat erat. Membombardir ciuman di kepala dan wajahnya Rara.
"Iihh .. Apaan sih?" Rara mendorong kuat wajah sang suami, yang mau nyosor cium bibirnya. Kan Malu jika dilihatin orang.
"Habis kangen sayang... Ayo kita ke hotel. Aku sudah gak tahan lagi, apalagi kalau sudah peluk kamu seperti ini. Dia meronta ronta sayang." Ujar Bimo dengan wajah frustasinya. Otaknya sudah nge res. Efek gak main beberapa hari terakhir ini.
"Ya ampun, lihat kondisi dan keadaan paman. Lihat itu, gara gara ide gila mu itu. Mama dan ayah kembali bertengkar. Padahal mama sudah mau membuka hatinya sama ayah." Jelas Rara, menunjuk ke arah Ayah dan ibunya yang terlihat bersih tegang.
"Salah ya?" ujar Bimo lemas. Ia pikir idenya sudah yang paling mantap dan Kren.
"Salah lah, mama kan sudah bertaubat. Malah dibuat acara lamaran seperti anak punk." Ujar Rara, berontak agar lepas dari pelukan sang suami.
__ADS_1
"Jadi gimana dong? pak Kusuma gak mau kehilangan ibu mertua lagi. Dan sekarang di rumah Pak Kusuma yang ada di sini. Ia juga sudah menyiapkan untuk proses pernikahan. Karena pak Kusuma yakin lamaran nya akan di terima." Jelas Bimo, masih menahan sang istri agar mau mendengarnya.
"Iihh... Gila, ide siapa itu?" ujar Rara kesal.
"Kalau mau nikah mendadak ide pak Kusuma. Tapi, ide lamaran tadi ideku. Tapi, rencananya bukan mau buat di pasar malam. Di puncak simarsayang nya. ( Simarsayang merupakan salah satu tor atau bukit di kota Padangsidimpuan. Simarsayang juga menjadi tempat rekreasi wisata yang menawar kan view indah).
"Iiihh di Ayah, maksa benar." Ujarnya kini terlihat serius memperhatikan sang ayah yang sedang berusaha membujuk mama nya.
"Apa kamu gak mau lihat orang tuamu bersatu?" ujar Bimo sendu, mereka masih memperhatikan lekat pak Kusuma dan Rani.
Rara terdiam, nampak sedang berfikir.
"Kamu gak mau punya keluarga utuh?" tanya Bimo lagi, berusaha menghasut Rara.
"Ya mau..!"
"Malam ini? jangan malam ini? bisa marah mama, beri dia waktu berfikir." Rara menjeda ucapannya, karena melihat sang ibu berjalan ke arah mereka.
"Rara... Ayo kita pulang sayang .!" Rani sudah menghampiri mereka.
"Ia ma." Jawabnya lembut.
Rara menggandeng sang ibu menuju mobil ayahnya.
"Sayang.. Kita naik taxi saja." Rani tak mau melanjutkan langkahnya menuju mobil pak Kusuma.
__ADS_1
"Mama, jangan terlalu membenci ayah seperti itu. Aku ingin mama dsn ayah bersatu." Ujar Rara lembut, menatap sendu wajah sang ibu yang terlihat ketakutan.
"Gak sayang, mama mau hidup tenang. Gak mau diteror lagi." Ujarnya dengan berurai air mata.
"Siapa yang neror kamu dek?" Pak Kusuma yang mendengar percakapan ini dan ank itu, dibuat begitu penasaran.
Rani terdiam, ia merasa teror yang dialaminya, adalah hukum karma buatnya. Atas dirinya yang dulu sering meneror Zahra.
"Dewi..? kamu diteror Dewi?" Pak Kusuma pasti bisa menebaknya.
"Dewi kan?" desaknya lagi
"I..ya .!" Rani memeluk sang putri dan menangis terisak dalam dekapan putrinya itu.
"Astaga... Apa maunya wanita itu?" ujar Pak Kusuma kesal.
"Dia tak akan bisa menjangkau kamu lagi. Aku dan dia sudah lama bercerai. Aku masih mau membantunya, karena memang kami ini tetap masih ada hubungan saudara. Karena Dewi sepupuku." Jelas Pak Kusuma dengan seriusnya.
"Ma, yang tenang ya? kita pulang dulu, jangan bahas di tepi jalan seperti ini." Tawar Rara, memberi kode dengan matanya, agar Bimo cepat menyiapkan mobil.
Kini Mereka sedang di perjalanan menuju rumah Pak Kusuma.
"Ra, kita mau ke mana nak?" tanya Rani, merasa jalan yang mereka lewati bukanlah jalan menuju pondok.
"Kita ke rumah ayah Ma. Kita perlu selesaikan semuanya. Aku ingin Mama dan ayah akur, bersatu lagi. Soal ada teror, aku yang akan tangani nya langsung. Dia itu tak akan berani macem macem ma. Gak kapok dia dilaporkan atas tuduhan pengancam, mengganggu kehidupan orang lain?" jelas Rara serius.
__ADS_1
Bimo yang melirik lirik Rara dari spion, dibuat senyam senyum. Ia sudah sangat rindu istrinya itu. Dia sudah tak sabar melahap bibir sang istri yang komat Kamit bicara menenangkan sang ibu.
TBC