GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Gadis penyelamat


__ADS_3

Seorang gadis berhijab memasuki gedung perkantoran dengan memegang map ditangannya, pagi ini ia berencana untuk melamar pekerjaan namun belum sempat gadis itu menginjakkan kakinya dipintu masuk seorang satpan sudah menghalanginya


"Maaf mbak disini tidak ada lowongan pekerjaan


Dengan rasa kecewa Nisya melangkahkan kakinya meninggalkan kantor itu, Sudah beberapa ia mendatangi perusahaan untuk melamar pekerjaan namun sayang tak ada yang berhasil


Nisya duduk di halte bus dengan rasa lelahnya bercampur rasa kecewa karna sampai saat ini ia belum mendapatkan pekerjaan


Tatapannya beralih pada kendaraan yang tengah padat di jalan raya, pikiranya menerawan jauh mengingat mendiang orang tuanya, jika saja kedua orang tuanya masih ada mungkin ia takkan kesulitan seperti ini apalagi permintaan sang paman yang menginginkannya untuk menikah dengan anak temannya


Gadis itu menarik nafas beratnya seperti ia sedang mengalami beban berat dalam kehidupannya tak terasa air matanya pun menetes membasahi pipi mulusnya


Hari beranjak sore namun gadis itu masih betah ditempatnya menatap kedepan dengan tatapan kosong


Perlahan Nisya bangkit dari duduknya membawa langkahnya menuju tempat tinggalnya di kediaman paman dan bibi nya namun belum beberapa meter kakinya melangkah ia melihat seorang pria tersungkur ditanah dengan luka di beberapa bagian tubuhnya


"Tuan, anda baik baik saja?" Tanya Nisya saat melihat pria itu tak bergerak


"Ya Allah Bagaimana ini, bagaimana aku bisa membawanya kerumah sakit " Gumam Nisya dalam kebingungannya


"Tuan apa kamu mendengarku?" Panggil Nisya sekali lagi


"Hmm" leguh pria itu menahan rasa sakit di bagian lengannya


"Tuan kamu mendengarku?"


Pria itu mengangguk lemah, tanpa membuka mataku


"Maaf tuan, saya harus membawa tuan kerumah sakit, aku akan membantu tuan untuk bangun


"Ya Allah ampunilah aku, tapi ini darurat aku harus menyentuhnya" Gumam Nisya pelan namun masih bisa didengar oleh pria itu


Pria itu hanya meliriknya sekilas kemudian ia melepas tatapannya


Setelah berhasil membawa pria itu kini Nisya tengah menunggu pria itu diluar ruangan pemeriksaan


"Dok bagaimana keadaan " Tanya Nisya saat dokter keluar dari ruangan


"Tidak apa apa, tuan hanya luka kecil dan beberapa bagian terlihat memar


"Maaf dok bisakah dokter menjaganya sampai keluarganya sampai, saya tidak bisa menunggu terlalu lama karna hari sudah sore dan hampir magrib saya harus pulang


Dokter itu mengangguk sembari tersenyum


Nisya kini meninggalkan rumah sakit menuju rumah


"Wah nyonya besar baru pulang" Cibir Bibi irma yang kini sudah melipat kedua tangannya didada sambil menatap tajam kearah Nisya

__ADS_1


"Maaf bik Aku terlambat pulang karna harus menolong orang


"Ck, alasan saja kamu habis keluyuran gak jelas kan ayo ngaku!" Bentak sang bibi


Nisya menatap sang bibi dihadapannya yang tengah marah terhadap nya sekeras apapun Nisya mengelak tetap saja ia selalu salah di mata bibinya ia hanya memilih diam dibanding meladeni perkataan bibinya "cari aman" pikir Nisya


Nisya memilih pergi dari hadapan bibinya ketiban meladeni perkatanya


"Hei..!!Aku belum selesai bicara" teriak Bibi ida


Nisya tidak menghiraukan teriakan bibiknya kakinya melangkah menuju kamarnya hari ini begitu sangat melelahkan baginya seharian melamar pekerjaan namun tak satupun perusahaan menerimanya


"Harus kemana lagi aku mencari pekerjaan" Gumam Nisya sambil mengusap wajahnya kasar


Nisya kembali teringat pria yang barusan ia tolong, sudah dua kali ia menolong orang


Nisya mencoba memejamkan matanya, malam ini ia begitu gelisa memikirkan pria itu apakah dia baik baik saja atau tidak, bahkan Nisya tidak keluar makan malam sehabis sholat isya pikirannya kalut saat ini


Tok..tok..


Suara ketukan pintu terdengar dari arah luar segera Nisya bangkit dari tidurnya membuka pintu


"Paman"


"Paman boleh bicara ?


Nisya hanya menganggu tanpa mengucapkan kata


"Nisya, Paman harap kamu tidak menolak pernikahan ini, anggap saja ini balasan buat kami karna sudah merawatmu sedari kecil" kata paman jordan


Nisya mengepalkan kedua tangannya pria yang ada di depannya tak ubah adalah pamannya sendiri yang sudah merawatnya dari kecil namun keberadaanya diantara keluarga pamannya tak begitu menerima kehadiran Nisya


Padahal seluruh harta peninggalan kedua orang tuanya di kelolah oleh paman dan bibinya


"Paman, Jika aku menolak pernikahan ini bagaimana" Nisya menatap paman nya dengan tatapan seolah menantan pamannya


"Jangan membuatku malu ini sudah disepakati antara pihak laki laki dengan pihak kita dan kamu tidak punya hak untuk menolak


Nisya tersenyum kecut, " Apa keuntungan perusahaan yang paman kelolah akan anjlok jika saya menolak pernikahan ini" Nisya menatap sinis kearah pamannya tak sedikitpun ia takut dengan pamannya


"Jaga ucapanmu, paman tidak pernah berkata seperti itu


"Namun nyatanya seperti itu, paman seakan menjadikanku tumbal demi perusahaaan yang paman kelolah, perusahan yang bahkan paman tidak memiliki hak apapun di perusahaan itu.


Plak..


Sebuah tamparan keras dipipi Nisya hingga sudut bibirnya mengeluarkan cairan berwarna merah

__ADS_1


"Kamu harusnya sadar waktu kedua orang tuamu meninggal perusahaan itu diambang kebangkrutan aku yang berusaha untuk memperbaikinya hingga sepeti ini harusnya kau tau itu.


"Paman serakah, perusahaan ayahku hancur karna ulah paman sendiri menggelapkan uang perusahaan demi berpoya poya bersama kuarga paman


"Lancan kamu!


Paman jordan hendak mengangkat tangannya lagi hendak menampar namun tangannya hanya melayan doudara kala melihat tatapan Nisya yang nyalang


"Kenapa, kenapa paman berhenti tampar ayo tampar, sekalian paman bunuh aku saja" Teriak Nisya dengan derai air mata yang sudah membasahi pipinya


Nisya mencoba untuk bersabar selama ini apalagi dengan perlakuan bibi serta sepupunya yang selalu menindasnya, Nisya mencoba untuk bertahan demi mendapatkan kembali perusahaan kedua orang tuanya


**


Rumah sakit


"Bang siapa yang melakukan ini" Tanya fathan saat menyuapi abangnya


"Abang sendiri tidak tau dek, tiba tiba mereka datang mengeroyok abang, mereka berjumlah 6 orang jadi abang tak bisa melawan


Fathan meletakkan piring yang ada ditangannya setelah selesai menyuapi abangnya, tampa mengucapkan sepatah katapun Fathan keluar daribruangan kakaknya setelah membantu kakaknya berbaring kembali


Fathan terlihat menelpon seseorang entah apa yang ia bahas karna hanya sebentar kemudian ia kembali kekamar kakaknya


Tak lama kemudian Rifky datang dengan masih memakai pakaian seragam sekolahnya


"Assalamualaikum bang"


"Walaikumsalam dek


"Bagaimana keadaan abang Dayyan" Tanya Rifky dengan rasa khwatir yang sedari tadi ia tahan karna ia mengikuti pelajaran tambahan disekolahnya makanya ia terlambat menjenguk kakaknya


"Udah baikan dek barusan abang minum obat trus dia tertidur "ujar Fathan


Rifky hanya mengangguk kemudian duduk disamping tempat tidur abangnya


"Kamu jaga abang Dayyan, Abang ada keperluan sebentar


"Baik bang.


Fathanpun meninggalkan ruang inap abangnya kemudian melangkah dengan tergesah gesa menuju perusahaan abangnya, dimana asisten dan orang kepercayaan abangnya sedang menunggunya


"Bagaimana apa Abang sudah menemukan orangnya?" Tanya Fathan saat sudah berada diruangan Asisten pribadi kakaknya


"Sudah,kami sudah mendapatkan Cctv ditempat kejadian sepertinya pesain bisnis tuan Dayyan yang kalah mendapatkan proyek yang akan di kerjakan tuan Dayan" Kata Asisten sen menjelaskan


Fathan kembali mengepalkan kedua tangannya tak bisa ia biarkan lolos begitu saja orang yang sudah mengganggu ketenangan keluarganya

__ADS_1


"Asisten sen boleh bantu saya untuk melaporkan ini kepihak berwajib rekaman Cctv itu bisa kita jadikan bukti tapi jangan kasih tau Abang mengenai hal ini "


"Baik"


__ADS_2