GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Pov Bimo Bergetar


__ADS_3

"Astaghfirullah.... "


Rara ternyata gak pakai penyangga gunung kembarnya. Mana ia memakai baju warna putih. Pucuk gunung kembar itu terlihat menantang.


"Paman.. Paman..!"


"Stop.... Keluar...!"


Teriakku


Aku pun terbangun dan langsung terduduk di atas ranjangku dengan napas yang terengah-engah. Rasanya lelah sekali, seperti lari maraton saja.


"Astaghfirullah.... Aku bermimpi. Kenapa mimpinya seperti itu?"


Aku menggelengkan kepalaku kuat, aku tak mau memikirkan mimpi tak senonoh itu. Aku lupa, saat aku mau tidur. Lupa membersihkan ranjang ini dengan sapu lidi. Seperti nya ada jin wanita di kamar ini. Karena kamar ini jarang di tempati.


Iiihhhh...


Geli..


Mimpi itu melintas lagi di pikirannku. Aku jadi penasaran dengan gunung kembar miliknya Rara. Kalau benar ukurannya seperti yang ada di dalam mimpiku, tentu itu empuknya melebihi empuknya boneka Boba. Mana pucuknya terlihat indah dan sangat menggoda.


Astaga....

__ADS_1


Kenapa si junior ini malah ikut bangun. Mana ia ngacungnya mendongak sekali.


"Ini bahaya.... Ini bahaya....!"


Aku bangkit dari atas ranjang. Hilir mudik, mondar-mandir di kamar. Kalau kami menetap lama di kota Berastagi ini, bisa penyakitan aku setiap hari harus melawan syah-wat ini. Mana cuaca di sini sangat mendukung untuk menambah biak.


"Astaghfirullah.... "


Aku mengusap wajahku kasar, lebih baik aku mandi. Ini sudah pukul tujuh. Aku kembali telat bangun. Seperti nya aku gak boleh berlama-lama tinggal di perkebunan ini. Dua hari ini sholat shubuh ku lewat terus. Bisa-bisa masuk neraka, kalau kelamaan tinggal di sini.


Freshh


Aku keluar dari kamar dengan perasaan tak tenang. Mimpi itu telah membuat pagi ku sangat tegang.


Rara pasti masih ngorok. Ngapain sih aku mikirin dia. Jangan harap ia akan bisa berperan jadi istri. Masak air saja pasti gosong.


Huffttt...


Aku menyeret kakiku malas ke arah dapur.


Aku akan menyiapkan sarapan. Menunggu ia buat sarapan. NGIMPI.... Kali..!


Lima belas menit sarapan telah siap. Aku memasak 4 telor mata sapi, dan roti bakar. Aku memang suka makan telor mata sapi. Setiap hari makan itu, gak akan membuatku bosan.

__ADS_1


Beras sudah masuk ke dalam rice cooker, tinggal nunggu matang. Nanti kalau sudah lapar lagi, bolehlah makan berat.


Aku ingin menikmati udara pagi yang sejuk di beranda. Aku mengambil nampan dari rak piring. Meletakkan satu gelas teh di atasnya beserta telor mata sapi dan roti bakar.


"Eemmm.. gak mungkin juga aku sarapan sendiri. Aku tak boleh bersifat seperti ini. Ia sekarang sudah jadi istriku. Ia pasti akan tersinggung jikalau aku tak mengajaknya sarapan." Aku bermonolog, memikirkan sikapku yang masih ada egoisnya. Karena, pernikahan ini tak ku inginkan. Tapi, kalau aku egois. Bisa-bisa semuanya akan kacau.


Aku pun membuatkan teh manis untuknya. Meletakkan segelas teh manis panas itu di atas nampan. Aku akan membawa sarapan ini ke beranda. Kemudian membangunkannya.


Kedua tanganku telah memegang nampan yang di atasnya sudah ada sarapan untuk kami. Aku keluar dari dapur dan akan melangkah ke beranda rumah. Saat aku menuju ruang utama. Terdengar suara kaki menuruni anak tangga. Auto, aku menoleh ke asal suara itu. Siapa lagi yang turun dari tangga itu kalau bukan Rara.


"Astaghfirullah....!"


Tanganku bergetar saat ini. Sehingga menimbulkan suara getaran dari gelas yang di atas nampan. Kedua mataku hendak ke luar dari tempatnya melihat kaki mulusnya Rara dari lantai satu dan gundukan kembar di dadanya bergoyang seperti tak memakai dalaman.


Pagi ini, aku melihat persis seperti dimimpiku. Bedanya hanyalah, kalau dalam mimpi, ia berdiri di sisi tempat tidur. Kalau sekarang ia sedang menuruni anak tangga.


"Pa..man..!"


Ucapnya dengan ekspresi wajah seperti ketakutan.


Saat ini, bukan hanya dia yang ketakutan. Aku pun jadi ketakutan melihatnya.


Tak mau mataku ternodai. Aku pun ngacir cepat. Mengabaikannya yang memanggil - manggil namaku.

__ADS_1


TBC


__ADS_2