
Curhatan pak Kusuma semakin larut malam, semakin panjang. Rara sudah beberapa kali menguap, ia sudah tak tahan lagi menahan kantuknya. Jadilah ia tertidur di sofa berbantalkan paha sang suami.. Sedangkan Bimo masih menampilkan ekspresi tubuh seolah peduli dan tertarik dengan curhatan pak Kusuma. Padahal ia sudah tak tertarik sama sekali dengan kisah cinta yang menurut Bimo, kesalahannya bersumber dari Pak Kusuma. Bimo menilai pak kusuma plin plan.
Ceritanya Pak Kusuma dan Rani adalah pasangan kekasih sewaktu kuliah. Tamat kuliah, pria itu tiba tiba menghilang tanpa jejak, tentu saja Rani dibuat kalang kabut. Karena ia dan sang kekasih sudah salah jalan saat pacaran. Pak Kusuma dari keluarga tak mampu, ia bahkan bisa kuliah karena bantuan dari ayahnya Dewi. Pak Kusuma dan Dewi sepupuan. Pak Kusuma dipaksa menikah dengan Dewi, karena termakan balas budi. Ia sudah menolak perjodohan itu, tapi sang ibu malah ingin bunuh diri, jikalau ia tak menerimanya. Jadilah Rani kena Ghosting oleh Pak Kusuma.
“Pak, gak usah terlalu dipikirkan. Kalau jodoh tak akan kemana. Sebaiknya kita tidur dulu pak.” Ujar Bimo dengan tetap bersikap ramah, walau ia sebenarnya sudah bosan dengar cerita pak kusuma. Sudah dua jam ia mendengar cerita Pak Kusuma. Bahkan ceritanya ada yang diulang sampai tiga kali. Bimo sampai hapal betul apa yang diucapkan Pak Kusuma. Bahkan ia bisa menyambung cerita pak Kusuma, karena Bimo sudah tahu apa yang akan diucapkan pak Kusuma.
Hoaamm..
Hoammm..
Bimo menguap lagi menutup mulut dengan tangannya. Kalau Pak Kusuma peka. Ia pasti sadar, kalau
orang yang diajaknya curhat, sudah tak tertarik lagi mendengarkan curhatannya, Karena memang sudah larut malam. Sudah pukul dua dini hari.
“Ia, aku juga sudah kantuk. Makasih ya Bimo sudah mau mendengarkanku.” Ucap Pak Kusuma, akhirnya merasa juga, kalau orang yang diajaknya cerita, sudah tak tertarik lagi mendengar curhatannya.
“Iya Ayah. Tubuh juga butuh istirahat, untuk mengisi kembali energi yang terkuras setelah seharian beraktivitas, apalagi ayah saat ini sedang galau. Otak dan perasaan terkuras habis. “ Ujar Bimo dengan frontal. Ia tak mau bicara manis manis lagi.
__ADS_1
“Iya, terima kasih Bimo sudah mau jadi teman curhat.” Ujar pak kusuma merasa enggan pada Bimo.
“Iya ayah.” Bimo menggendong Rara ala bridal style menuju kamar mereka di lantai dua. Sedangkan Pak Kusuma, masuk ke kamar yang ada di lantai satu. Ia memilih menginap di rumah itu, karena sudah larut malam untuk pulang.
***
Seminggu pun berlalu, kabar buruk datang dari pihak kepolisian. Benar dugaan pihak berwajib, bahwa Jenifer telah mengeksekusi Romi. Dan mayatnya di buang ke sungai setelah di mutilasi. Jenifer melakukan itu, karena Romi sempat bimbang, dan ingin menyerahkan diri pada pihak berwajib. Jelas jenifer tak mau itu terjadi. Kalau itu sempat terjadi, pasti ia akan terjerat hukum.
Sepandai pandainya pelaku kejahatan menyembunyikan kejahatannya. Ia pasti melakukan satu kesalahan, sehingga kejahatanya terungkap. Kesalahan Jenifer adalah, menyerang Rara, sehingga kejadian itu dilaporkan ke pihak berwajib. Dari kasus pengaduan itulah, kasus penipuan uang perusahaan Bimo dikembangkan.
"KAsihan Romi, termakan hasutan Jenifer." Ujar Rara sedih, menyaksikan proses pemakaman Romi di tempat yang layak. Tubuh yang terpisah dan sudah membusuk dikumpulkan.
"IYa, aku tak menyangka Jenifer sejahat itu." Sahut Bimo kini mereka sedang berjalan menuju mobilnya.
"Iya sayang, ngeri juga ya? hebat dia itu bisa mengeksekusi Romi sendirian." Rara bergidik ngeri, karena membayangkan gimana hebatnya Jenifer memotong tubuh Romi jadi empat bagian.
KIni mereka sedang diperjalanan pulang, Mobil dikenderai sang supir.
__ADS_1
"Psikopat dia itu, heran saja koq bisa kamu suka sama dia dulu sayang." Rara melirik Bimo dengan tatapan remehnya.
"Siapa yang bilang aku suka sama dia?" bertanya dengan ekspresi wajah kesal.
"YA pura pura amnesia, ya kamulah cintaku yang bilang dulu kamu itu suka sama dia." Jelas Rara memonyongkan bibirnya.
"Suka yang seperti apa?" Bimo tak suka dengan caranya RAra menatapnya.
"YA suka pada lawan jenis lah. Jenifer kan wanita." Rara mulai sewot
"KAlau aku suka dari penilaian itu, aku sudah ajak dia kawin!" tegas BImo dengan wajah kesalnya. " Aku dulu suka dengannya, karena ia seorang yang pekerja keras."
"OOWWww... Kirain suka beneran?" Rara membulatkan bibirnya, yang membuat Bimo gemes melihatnya.
"EEMMM... Kalau Ibu Anin?"
"Kalau Anin, baru beneran suka."
__ADS_1
"APA..?" kedua bola mata Rara membulat penuh, terkejut dengan jawaban sang suami yang tanpa pikir itu.