
Rara merasa bahagia sekali. Akhirnya doa nya seminggu terakhir ini dikabulkan Allah. Terkait di mana keberadaan sang ibu.
"Ya Allah... Terima kasih ya Allah." Ujarnya sangat antusias. Turun dari ranjang dengan semangat. Ia bahkan sudah lupa keseselannya pada Bimo, dengan adanya berita yang sangat membahagiakan ini.
Rara mengambil koper dari atas lemari dengan naik di atas kursi. Ia akan berkemas malam ini, dan esok pagi ia akan pulang kampung. Ia juga sudah sangat rindu neneknya. Ibunya Ezra.
Sebenarnya Ibunya Ezra sangat sayang pada Rara dan Rani. Lumpuhnya ibunya Ezra saja, disebabkan oleh perceraian antara Ezra dan Rani. Ibunya Ezra syok mendapati kenyataan kalau Rani berubah jadi wanita tak bermoral.
Ceklek
Mendengar suara pintu dibuka, membuat Rara menoleh ke arah pintu kamar. Ia menatap malas sang suami. Seharian ini dia dicueki. Ia juga bisa bersikap cuek.
Bimo terkejut melihat sang istri sedang berkemas.
Apa ia mau pergi, gara gara aku mendiamkannya seharian ini? Bimo membatin, memperhatikan lekat sang istri yang terus memasukkan pakaiannya ke koper.
Bimo sebenarnya merasa tak ada masalah yang serius dengan Rara. Jadi, ia tak perlulah setiap detik membujuk sang istri. Ya maunya sama sama mengalah. Kalau sudah dibujuk sekali dua kali, maunya langsung baikan, gak usah sok jual mahal lagi. Dan memperpanjang masalah. Toh dia merasa tak melakukan kesalahan.
Bimo mendiamkannya seharian, bukan disengaja. Memang ia lagi sibuk, ia juga saat di luar. Menyempatkan waktu untuk menelpon sang istri. Tapi, Rara tak mengangkatnya. Tiga kali mencoba di telpon dan gak mau diangkat. Sudah tanda kalau orang yang ditelpon, belum mau bicara. Ya, akhirnya Bimo mendiamkan sang istri dulu. Menunggu kesal di hatinya menguap.
Eehh.. sekarang malah ingin pergi dari rumah.
"Kenapa memasukkan baju ke koper?" tanya Bimo serius.
Rara menoleh ke Bimo yang kini berdiri dengan tanpa rasa bersalah itu.
"Orang berkemas mau ngapain? ya mau pergilah." Jawabnya ketus. "Lagian siapa juga yang tahan tinggal dengan pria dingin. Sudah salah, bukannya minta maaf." Ujar Rara sewot.
"Salah? aku melakukan kesalahan apa?" tanya Bimo bingung.
"Kan gak merasa." Rara menatap malas sang suami.
"Ya ampun sayang, jangan seperti ini. Kita lagi ada masalah. Dan kamu mau menambah masalah baru, hanya karena aku bilang suka Anin. Ya gak mungkin juga aku benci Anin. Emang dia buat salah samaku hinga aku benci dia?" Jelas Bimo menahan tangan Rara yang mau memasukkan baju ke kopernya.
"Paman masih cinta Ibu Anin kan?"
"Gak..! aku saja gak pernah ingat dia. Kamu kan yang mulai bahas dia semalam." Jelas Bimo menatap kesal Rara.
"Bohong ..! awas....!" menjauhkan tangan sang suami dari koper yang dipegang Bimo.
__ADS_1
"Gak bohong. Suer..!" mengacungkan jari manis dan telunjuk. "Di sini hanya ada namamu!" menunjuk dadanya sendiri.
Rara baper mendengar ucapan sang suami. Tapi, ego masih bermain. Kesal di hati yang alasannya sebenarnya tak kuat, belum sembuh.
"Terus kenapa tadi malam, ikutan marah samaku?" Masih menunjukkan ekspresi wajah kesalnya.
"Ya habisnya kamu gak sopan. Tiba tiba buka semua baju dan membelalak di depanku. Aku merasa jadi tak diinginkan. Ya sudah, mending ditutup lagi itu apem." Ujar Bimo dengan menahan senyum. Kalau mengingat kelakuan Rara semalam sangatlah lucu.
"Muna...!" Umpat Rara, melanjutkan berkemasnya.
"Mau ke mana kamu?" Bimo tak mau buang waktu berdebat tak jelas. Saat ini yang ia penasarankan kenapa istrinya itu berkemas.
"Mau pergi dari rumah ini. Agar paman tenang tak ada yang ganggu."
"Jangan mikir yang aneh aneh deh. Kamu gak boleh pergi." Menarik kuat koper dari tangan Rara.
"Kembalikan kopernya." Mengejar sang suami yang ingin menyimpan koper di lemari paling tinggi. Babakan jikalau Rara menggunakan kursi untuk mengambilnya tak bisa.
"Gak...!" koper sudah ada di atas lemari.
"Iihh... Paman nyebelin!"
"Aku bukan pamanmu, aku suamimu. Seorang istri harus patuh pada suaminya." Jelas Bimo, mendahului Rara dan naik ke atas ranjang.
"Gak boleh, seorang istri harus minta izin pada sang suami, jika harus pergi dari rumah."Menarik selimut sampai dada dan menutup mata.
"Tu kan, paman itu gak cinta samaku. Buktinya paman gak membujukku. Malah tidur tanpa mengajakku." Ujar kesal menghentakkan kaki nya di sisi ranjang sebelah Bimo.
Bimo membuka kedua matanya lebar. Ia bingung dengan sang istri. Tadi malam ia sudah capek minta maaf. Bukannya di maafkan, malah bertengkar yang ada. Makanya Bimo memilih mendiamkan seharian ini. Eehh... Dibiarkan makin menjadi jadi.
"Ya ampun.. istriku yang manja. Maafkan suami mu ini..! sini kita tidur..!" Bimo menarik cepat tangan Rara. Sehingga wanita itu kini ambruk di atas tubuh sang suami. Bimo memeluknya erat, seerat eratnya. Ia gemes dengan sikapnya Rara yang sulit dimengerti apa maunya.
"Dasar kamu buat bingung..!" Ujar Bimo gemesh. Kini Rara sudah berbaring di sebelah sang suami. Mereka beradu pandang dengan sama sama mengulum senyum. Merasa lucu dengan tingkah kekanak-kanakan mereka.
"Aku berkemas, bukan mau pergi dari hidupmu sayang." Mentoel dadanya Bimo yang mengungkung tubuhnya.
"Terus..?" menatap Rara dengan tatapan mendamba.
"Mau ke kampung. Ibu Rani ada di kampung kita."
__ADS_1
"Koq bisa? ibu mertua kan sukanya tinggal di kota yang metropolitan."
"Mana kutahu, makanya aku mau ke kampung besok." Jawab Rara.
"Jangan besok, Minggu depan saja. Besok aku masih sibuk, seminggu ini aku masih sibuk." Jelas Bimo masih menatap lekat sang istri.
"Siapa juga yang ajak kamu sayang. Aku ingin pergi sendiri."
"Gak boleh!" Jawab Bimo cepat. Tangan nya terlihat mulai bekerja membuka kancing piyama sang istri.
Rara tersenyum, ia tahu apaa yang akan terjadi selanjutnya. Ia juga sedang ingin.
"Koq gitu, aku ingin jumpa ibu. Kalau kamu gak jasa temani, gak apa apa sayang. Aku nanti di sana sama momsky Zahra." Jelas Rara, malah ikut ikutan membuka baju sang suami.
Cara Rara yang berhasrat membuka baju sang suami, membuat Bimo semakin bergairah. Ia langsung membenamkan wajahnya di gundukan gunung kembar yang hangat dan montok itu.
"Boleh ya sayang, kalau pekerjaanmu selesai. Kamu menyusul." Membelai kepala sang suami yang bermain di dadanya.
"Emang mau berapa hari di sana ?" tanya Bimo heran.
"Ya gak tahu juga." Jawab Rara cepat.
Akkhh..
Ia mende sah, saat Sang suami memainkan pucuk gunung kembar itu.
Suara manja itu membuat Bimo samakin bergairah.
"Gak usah bermalam, sorenya langsung pulang. Nanti aku minta tolong sama bos, agar menjemputmu dengan jet pribadinya."
"Aku kangen nenek. Mau ke rumah nenek juga." Jawab Rara cepat, mendorong kuat kepala sang suami. Ia tak mau bercinta lagi. Keinginan nya tak dipenuhi. Sebel dia, hasratnya menguap sudah.
"Koq jadi kasar." Protes Bimo.
"Gak mau lagi, gak mood. Kalau paman gak izinkan aku ke kampung. Aku gak mau disentuh." Membuang muka.
Huyfftt...
Bimo menghela napas panjang.
__ADS_1
"Ia, boleh, boleh... Tapi, jangan kabur ya?" bujuk Bimo, menangkup wajah cantiknya Rara. Dan mendaratkan ciuman berhasrat di bibir merahnya sang istri.
TBC