GAIRAH ISTRI KECILKU

GAIRAH ISTRI KECILKU
Ganti rugi


__ADS_3

Mobil yang dikenderai Bimo melaju dengan cepat. Rara sampai berpegangan karena ketakutan. Tapi, ia tetap diam. Tak mau protes. Kalau mereka kecelakaan ia sudah pasrah.


Ciitt...


Kini mobil itu sudah berhenti di parkiran sebuah hotel mewah. Bimo terlihat buru-buru keluar dari dalam mobil. Membuka pintu mobil untuk Rara.


"Ayo turun, kita sudah sampai." Ujarnya lembut dengan bahasa tubuh yang terburu-buru.


Rara yang malas bicara dengan sang suami, menurut saja.


Grapp...


Bimo menggenggam erat tangan sang istri. Menariknya cepat, agar mengikuti langkahnya. Tentu saja Rara dibuat bingung. Ia mau dibawa ke mana?


"Lepasin paman?" Rara berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Bimo.


"GAk.. Nanti kamu lari!" kini mereka sudah berada di dalam lift.


"Emang kita mau ke mana? kenapa masuk ke hotel?" Raut wajah kesal semakin tercetak jelas.


"Mau kerja, aku ada pertemuan dengan investor." Ujar Bimo dengan tak tenang, ia sudah terlambat.


RAra diam di tempat. Tak mau masuk ke ruangan tempat Bimo rapat.


"Ayo masuk!' Bimo menarik tangan sang istri.


"GAk, aku gak mau masuk!" Rara bertahan pada posisinya.

__ADS_1


Bimo dibuat setres, karena Rara tak mau masuk ke dalam. Tak mungkin ia meninggalkan Rara di luar. Nanti istrinya itu kabur.


"MAsuk ya sayang... Please....!" Bimo mengatupkan kedua tangannya.


Rara terperangah mendengar ucapan sang suami. Baru kali ini, ia dipanggil sayang.


Hatinya Rara pun melunak. Ia pun akhirnya masuk ke ruangan itu.


Saat masuk ke ruangan itu. Rara melihat Jenifer sudah bergabung dengan dua pria. Yang satu berusia sekitar 50 tahun. Dan satu lagi berusia sekitar 35 tahun.


Rara tahu tempat itu, ini seperti ruang meeting,


"AKu menunggu di luar saja." Bisiknya pada Bimo, saat keduanya menghampiri meja meeting. "Aku ngapain disini coba?" Berusaha keras tangannya dilepaskan oleh BImo.


"Kamu jadi notulenku hari ini" Ujarnya pelan, mencoba rileks dan melempar senyum pada investor yang kini menoleh kepada mereka.


 Saat sedang serius dalam meeting itu. Rara kebelet pipis. Ia pun permisi untuk keluar. Tentu saja Bimo tak bisa menahannya lagi. Karena toilet ada di luar ruangan itu.


"Aneh, paman kenapa ya? hari ini dia mengajakku meeting. Apa dia mau pamer usaha yang sedang dikerjakannya?" Rara bermonolog, memperhatikan penampilannya di cermin.


Ia merapikan hijabnya. Ya sekarang Rara sudah merasa nyaman mengenakan hijab.


"Apa dia takut aku beneran kabur? kalau ia takut aku kabur. Kenapa sikapnya selalu nyebelin selama ini." Rara tak henti-hentinya berbicara sendiri. Bingung dengan sikapnya Bimo.


Ia pun keluar dari toilet itu, dengan wajah bete nya.


Cekrek..

__ADS_1


Silau cahaya kamera mengangetkannya saat melewati koridor menuju ruang meeting.


"Hei.. Kita bertemu lagi!' Ada pria sok ramah di hadapannya, memegang kemera di tangan dengan senyum tak bisa dibaca.


Rara sudah ketar ketir. Ia pun langsung berbalik badan. Melarikan diri, Ia tak punya uang jikalau pria di hadapannya meminta ganti rugi. Dan ia sudah lupa, bahwa tadi Bimo memintanya jadi notulen


"Hei... Tunggu...!"


Pria itu mengejar Rara, menahan pintu lift dengan kakinya, agar bisa masuk ke dalam lift tempat Rara berada saat ini.


HUUUFFFFTTT


Menghela napas kasar.. Lelah juga kejar - kejar an.


"Kamu kenapa kabur terus sih?" menatap lekat Rara yang terlihat ketakutan.


"Kamu sebenarnya mau apa? aku gak mau ganti camera itu." Tak berani menatap pria di hadapannya.


"Yang bilang mau ganti siapa?" menekan panel lift ke lantai 7. Itu adalah lantai paling atas di hotel itu.


"Kenapa kamu menekan ke lantai 7." Rara mencoba untuk menekan panel lift tapi ditutupi pria itu dengan tubuhnya tinggi.


"Ayo keluar!" Menarik tangan Rara dengan cepat. Karena lift sudah terbuka.


TBC


Like, coment, vote dan hadiah

__ADS_1


__ADS_2