
Prang...
Peng
Pak
Heboh bercum-bu di sofa, membuat Rara menendang meja. Akhirnya gelas berisi juice jeruk di atas meja terjatuh.
Gimana ia tak heboh, Bimo sudah nennen di gunung kembarnya sang istri, seperti Bayi yang kehausan. Benar-benar sangat bernaf-su dan menikmati, yang membuat Rara menekan kuat kepala Bimo ke gundukan kenyalnya yang hangat itu.
Suara ribut dari gelas yang jatuh membuat keduanya membuka mata. Rara menoleh ke asal suara, begitu juga dengan Bimo.
"Eemmm.. Aku..!" Rara malu dengan dirinya yang heboh saat mereka bercum-bu. Ia terlalu menikmati dan bingung dengan rasa nikmat yang menjalar di sekujur tubuhnya. Apalagi disaat suaminya itu menghisap pucuk gunung kembarnya yang berwarna coklat pink dengan ukuran yang masih terbilang kecil. Bimo harus menyedot kuat, agar pucuk itu membesar.
"Iya sayang, gak apa-apa." Bicara lembut dengan tatapan mendamba. Sedangkan tangan masih setia mere mas gundukan montoknya Rara yang padat, putih dan halus itu.
Tahu gini enaknya nennen, mungkin sudah Cepat-cepat ia menikahi gadis ini dulu.
"Kita ke dalam kamar ya?!" bicara dengan wajah merah merona menahan hasrat Bira hi yang bergelora. Sungguh istrinya ini sangat menggairahkan. membopong mesra tubuh mungilnya Rara.
Wanita itu sangat malu, ia menyembunyikan wajahnya yang merah seperti kepiting rebus itu di dada bidangnya sang suami. Penampilan Rar juga masih acak Adul. Baju dan Bra setengah terbuka. Rambut panjangnya yang wangi mulai tak teratur
Rara yang sudah merasakan tubuhnya panas dingin, hanya bisa pasrah saat Bimo mendaratkan tubuhnya lembut di atas ranjang. Ia tersipu malu, disaat Bimo mendekatinya, tubuh atletis sang suami kini di atasnya. Ia tak menyangka akan melakukan hal seintim ini dengan Bimo. Mana Bimo memperlakukannya sangat lembut dan penuh cinta.
Bimo melepas baju dan Bra yang dikenakan Rara. Tadinya Bra itu naik ke atas. Karena pengaitnya belum lepas.
Rara yang malu refleks menutup dua gundukan kenyal montok itu.
"Hei istriku, jangan ditutup!" Bimo heran dengan sikapnya Rara yang terlihat malu-malu. Bukan kah istrinya itu sudah biasa dengan pergaulan bebas. Tadi sih Rara pernah membela diri, tak pernah melakukan seperti yang Bimo tuduhkan. Tapi, Bimo belum percaya, kalau Rara tak terjerumus. Karena, Rara sangat mahir saat menjebak Zahra bersama Ezra di hotel wakt itu.
Dengan lembut, Bimo menjauhkan tangan lembut sang istri. Rara yang sudah terbaring di ranjang pasrah saja, disaat Bimo mengeksplor payu da Ra miliknya. Disaat satu tangan mere mas gundukan hangat itu. Gundukan satu lagi sudah habis diraup oleh bibir basah dan lidahnya sang suami.
"Ooouugghh.... aakkhh... Eemmm...aauuhh...Pa.. Suamiku ..!" Rara tak tahan lagi, ia merasakan cairan keluar dari bagian intinya. Saat itu juga tubuhnya bergetar hebat bahkan bokongnya terangkat.
"Sayang... Istriku..!" Bimo tahu istrinya itu pasti Or gasme. Ternyata bermain di bagian dada bisa membuat istrinya itu pelepasan. Gimana Rara tak pelepasan. Bimo sangat mahir memainkan gunung kembar itu. Tak pernah gunung kembar itu terabaikan. Jika sagu dihisap, gunung satu lagi di re- mas, di pilin bahkan dicubit kecil.
"Aakkhh... oouugghh..!" Rara tak pernah merasakan nikmat seperti ini. Rasanya ia terbang. Nikmatnya seribu kali lipat daripada mengkonsumsi sabu. Ya Rara pernah menyalah gunakan narkotika.
"Ooouugghh...!" ia meracau lagi dengan menitikkan air mata. Ia bahagia, sekaligus merasa sedih. Ia takut, Bimo berubah dan meninggalkannya. Entah kenapa ia jadi berpikiran kesitu.
"Pegang punya ku ya sayang?!"
Suara seraknya Bimo membuat Rara melek. Saat itu juga ia melihat sang suami sudah polos berjongkok tepat di kakinya.
Astaga...
Kedua matanya Rara membulat penuh melihat miliknya Bimo yang sangat menantang. Rara tak sepolos itu, Ia pernah menonton film Por no. Ia tahu bentuk miliknya pria. Dan milik sang suami sangat menggiurkan. Mengacung sempurna ke atas.
"Eemm.. Apa?" jawabnya bingung.
Bimo tersenyum manis. Menarik kedua tangan sang istri lembut. Sehingga kini Rara terduduk menghadap sang suami dengan tubuh polosnya. Rara akhirnya tersadar. Kalau ia juga kini hanya memakai CD saat ini. Ia gak tahu kapan persisnya Bimo melorotkan celana jeans yang dikenakan nya tadi.
"Astaga...!" ia merasa geli melihat tubuh mereka berdua. Ia kembali berbaring dan menutup tubuh polosnya dengan selimut. Ia tak jadi berkaraoke.
__ADS_1
Kenapa ya pria suka sekali memamerkan Otong nya?
Bimo menggeleng kan kepalanya gemes. Tingkah Rara membuatnya semakin tertantang.
Dengan pelan ia menarik selimut itu. Nampaklah Rara yang memeluk tubuhnya di atas ranjang.
Bimo dengan senyum menyeringai itu meluruskan tubuh indah itu. Di siang bolong begini. Kulit putih mulusnya Rara terlihat sangat menantang.
Ia kembali mendaratkan kecupan nya di kening sang istri. Lama dan penuh penghayatan. Kemudian turun ke mata kiri dan kanan. Turun ke hidung, pipi kanan dan kiri, dan terakhir bermuara di bibir.
Bibir keduanya pun saling memangut. Hingga ciu man itu semakin panas. Karena tangannya Bimo tak mau diam. Semua tubuh sang istri dijamahnya.
Ingin dapat sentuhan lebih. Bimo memiringkan tubuhnya begitu juga dengan Rara. Mereka saling berpangut dalam posisi miring saling berhadapan. Tangannya Bimo asyik mere mas gundukan. Sedangkan tangannya Rara kini menangkap rahang sang suami. Agar ciu man itu semakin dalam.
"Pegang sayang.. Istriku.. pegang yang dibawah!" titah Bimo dengan suara beratnya. Ia sebenarnya sudah tak tahan lagi dengan permainan tak berujung ini. Rara sedang haid. Tapi mereka malah ber cumbu melebihi batas ambang.
"Please... Sayang... pegang..!" ujarnya lagi dengan frustasinya.
Masih saling berpangutan, Rara mulai menurunkan tangannya perlahan. Dari dada yang dihiasi bulu-bulu halus yang tersusun rapi, ia merabah ke perut turun lagi ke bawah dan..
Glek ..
Batang singkong keras sudah dalam genggamannya.
Rara baru kali ini memegang otot sekeras itu. Otot tak beretika itu, jika di gantung tas berisi laptop, mungkin tak akan loyo.
"Eeuuuww.. Oohhh..." Kali ini Bimo yang mend-esah. Ia membungkukkan sedikit tubuhnya agar tangan Rara lebih bisa menjangkaunya. Karena mereka masih terus berci uman.
Saat itu, Rara menatap wajahnya Bimo yang terlihat begitu menikmati, kedua matanya merem.
"Oouuww...!" de sah pria itu lagi. Ciuman keduanya pun terputus. Karena, Bimo memeluk erat sang istri. Sentuhan Rara membuatnya tak tahan lagi ingin lebih.
"Sayang... Kamu haid biasanya berapa hari?" tanyanya dengan suara berat dengan mata sayu. Kini posisi sudah berbalik. Rara yang ada di atas tubuh Bimo.
"Delapan sampai sembilan hari sa-yang." Jawabnya ragu, lidahnya terasa keluh memanggil Bimo dengan sayang.
"Astaga.... Mati aku, bisa panas dingin aku menunggu selama itu!" Bimo menepuk kuat jidatnya.
Rara yang tadinya Hor ny jadi meras lucu dengan ekspresinya Bimo.
"Bantuin suamimu ini ya sayang!" memelas dengan wajah mendamba.
"Bantu apa?" tanya Rara bingung. Ia masih di atas tubuh nya Bimo. Tangannya Bimo Masih memainkan gunung kembarnya yang menggelantung manja itu.
"Mainkan dia." menatap ke arah jendela. Karena kakinya Bimo saat ini arah ke jendela.
"Siapa?" Rara bingung.
Hadeuuhh..
Bimo semakin frustasi. Ia meraih tangan nya Rara dan kembali mendaratkannya di miliknya yang siap tempur.
"Oihh iya sayang."
__ADS_1
Bimo langsung mengubah posisinya jadi duduk. Mata sayunya meminta Rara mulai mengu lum otot tak bertulang itu.
Dengan tubuh yang panas dingin Rara mulai memain milik sang suami. Mereka masih terduduk saling berhadapan. Bimo yang tak tahan dengan sentuhan sang istri, meraup gundukan istrinya itu. Ia memainkan gundukan kembar itu. Sedangkan Rara memainkan pisangnya.
"Ooooww... Rara yang sudah mengu Lum milik sang suami, dibuat meracau. Bimo membelai kepala sang istri yang bersujud memberi kepuasan untuk nya. Tadinya Rara ragu, tapi, setelah merasakan milik sang suami masuk ke mulutnya. Ternyata sangat enak saat di e mut. Otot itu keras, tapi kenyal dan lembut bagian ujungnya.
"Ooiuueeww... Rara,.. Istriku..!" Bimo meracau dengan suara lirihnya. Terdengar ada rasa bahagia dari ucapannya.
"Terus... terus sayang!" Bimo tak tahu lagi, gimana menuntaskan yang mendesak keluar itu. Rara memang membuatnya enak. Tapi, istrinya itu tak kunjung membuatnya keluar. Seperti nya Rara kurang mahir
"Tanganku dan mulutku sudah kram, pegal..!" keluh Rara.
Ucapan sang istri membuatnya membuka mata. Bimo memang sangat sehat. Tak ada gejala ejak ulasi dini padanya. Tentu saja jadi lama.
"Oh my God!" Bimo menepuk jidatnya. Istrinya sudah mengeluh tak bisa mengeluarkan susu kental manis miliknya Bimo.
"Iya sayang, kita coba lagi ya?" Bimo kembali membaringkan Rara. Ia mulai mencu mbu lagi sang istri. Hingga ke punggung bahkan ke kaki istinya. Hanya gundukan bersegel CD itu yang dijauhi. Karena itu daerah terlarang. Bimo tahu hukum agama. Istri yang sedang Haid tak boleh diterobos.
Bimo mulai menggesek gesekkan miliknya di paha sang istri. Keduanya sudah mulai terbuka akan keinginan. Dan kini miliknya yang besar panjang melebihi ukuran terongnya pria indonesia itu kini bermain di gunung kembarnya Rara. Mengapit tongkat sakti di antara gunung kembar yang hangat dan kenyal padat itu. Tapi, tak juga membuat lahar panas keluar dari gunung berapi.
Bimo kembali menindih tubuh Rara. Bibirnya memainkan gundukan kembar, dan miliknya yang tegang menggesek di antara paha.
"Kenapa harus datang bulan sayang?"
Keluh Bimo, terus saja menggesek miliknya di pinggir pinggir lembah berkubang tinta merah
Tok
Tok
Tok
"Tuan... Makan siang yang di taman sudah siap!"
Deg
Ketukan pintu kamar membuat Bimo Semakin frustasi.
"Tuan, sudah lama makanan nya di taman. Nanti dingin tuan?"
"Bimo baru ingat, kalau tadi ia meminta Bi Sakinah menyiapkan makan siang di taman belakang.
"Tuan..!"
"Iya Biikk..!"
teriak Bimo.
"Hahhahaha..."
Rara tertawa, ekspresi Bimo sungguh lucu.
TBC.
__ADS_1