
"Pulang... Mau ke mana kamu? di sini gak ada angkutan. Kita bicara kan dulu semuanya. Kalau kamu memang ingin pergi. Besok, aku akan antar kamu. Ayo..!" menarik tangan Rara kuat.
"Gak, lepas..! lepas gak..?!" menatap tajam Bimo dengan ekspresi wajah penuh kebencian. Ia terus saja berontak agar Bimo melepas lengannya dari cengkeraman tangan Bimo yang kini semakin erat saja terasa.
"Gak akan!" Bimo malah menantang tatapan matanya Rara. Keduanya kini berdebat di bawah guyuran hujan. Beradu pandang dengan penuh kekesalan.
"Gila... Dasar egois. Tadi bukannya mencegah pergi. Sekarang malah menyusulku, aneh!" Rara terus berontak, ia memang tak mau lagi jadi istrinya Bimo. Gak ada asyiknya sama sekali.
"Jangan banyak ngomong..!" Bimo menarik kuat tangannya Rara. Tapi, wanita itu terus bertahan di posisinya.
Ya ampun... ini bocah.
Bimo geram, kalau seperti ini terus. Tangannya Rara bisa lepas persendian.
Kilat terlihat kelap kelip di langit. Sebenarnya suasana di tempat itu sangat mencekam. Rara juga sebenarnya sudah takut. Tapi amarah membuatnya hilang akal.
Duar...
Duar...
Duar...
Prak... Krek...
Auuuwww...
Rara pun akhirnya memeluk Bimo. Tak jauh dari mereka satu batang pohon kelapa telah disambar petir.
__ADS_1
Tentu saja Bimo dibuat kaget dengan kelakuan Rara. Entah kenapa, ia akan nervouse kalau Rara menyentuhnya, apalagi memeluknya seperti ini.
"Iya, aku mau pulang. Ayo pulang, besok saja aku perginya." Masih sempat-sempatnya mengeluarkan kata-kata seperti tak butuh.
Sadar dengan kelakuannya. Rara pun melepaskan pelukannya dari Bimo yang mematung membeku, karena dipeluk Rara. Saat ini Rara beranggapan Bimo marah, karena ia memeluk pria itu.
"Ayo paman, ayo kita pulang. Aku gak mau gosong disambar petir." Ujarnya melambai kan tangan kepada Bimo yang kini masih mematung menatap Rara yang sudah berjalan ke arah mobil.
"Ayo paman..!'
Duar...
Suara petir kuat akhirnya menyadarkan Bimo. Ia pun menyeret kakinya sambil membawa kopernya Rara.
Rara sudah masuk ke dalam mobil. Bimo meletakkan koper Rara di jok barisan kedua. Dan ia pun masuk ke dalam mobil. Duduk dengan tegang di kursi kemudi. Ia menyalakan mesin mobil, dengan pandangan lurus kedepan.
Bbrrr....
Rara menggigil, ia tak tahan lagi. Tangan yang terluka sudah keriput. Tentu saja ia kedinginan. Angin berhembus kencang tadi.
Bimo tak menanggapi ucapan Rara. Ia fokus menyetir. Gimana mau membalap. Hujannya deras sekali. Kaca mobil berkabut parah.
"Dingin... Dingin... Aku mau pipis.... Cepat... Cepat sedikit paman!"
Bimo pun akhirnya menoleh ke arah sang istri. Kelakuan Rara kali ini, sama persis seperti kekakuannya saat ia masih anak-anak. Kalau mau pipis selalu minta ditemani oleh Bimo. Jelas saja Bimo kadang menolak. Bagaimana pun Rara itu berjenis kelamin perempuan dan Bimo laki-laki dewasa. Mau sampai kapan ia menemani Rara pipis. Tentu Bimo tahu batasan. Anak gadis yang sudah mulai pubertas, tak perlu ditemani pipis. Walau hanya ditunggu di depan kam ar ma ndi.
Mobil sudah sampai di depan rumah. Bimo meminta Rara turun. Ia pun turun dengan tubuh yang bergetar karena kedinginan. Ia juga mengeluhkan tangannya yang masih sakit. Begitu juga dengan kakinya, yang sepertinya, terluka di bagian lututnya. Karena ia tadi terjatuh di aspal.
__ADS_1
"Ayo masuk, kenapa malah berdiri di situ?"
Bimo heran, kenapa Rara tak masuk ke dalam rumah. Malah berdiri di teras.
"Aku menunggumu paman. Aku takut masuk ke rumah." Rara memang jadi takut, sejak melihat batang pohon kelapa disambar petir.
Bimo mengerti akan apa yang ditakutkan Rara. Ia pun tak mau berdebat. Ia kasihan juga melihat Rara yang menggigil kedinginan. Ia menapaki anak tangga menuju lantai dua, tepatnya ke kamar Rara dengan menyeret kopernya Rara. Tentu saja Rara mengekori suaminya itu.
Sesampainya di dalam kamar. Bimo masuk ke ka -mar man di. Menyiapkan air hangat untuk Rara mandi. Bagaimana pun jernihnya air hujan. Pasti ada bakteri yang ada di air itu, yang bisa menyebabkan sebagian orang jadi sakit, apabila kena air hujan dan tidak langsung mandi.
"Kamu mandi sekarang!" titah Bimo menatap datar Rara yang menggigil.
"Paman mau ke mana?" Rara tak mau ditinggal sendirian di kamar itu. Angin kencang sekali, hujan juga sangat deras. Kalau rumahnya Bimo roboh karena ditiup angin gimana?
"Ya ke bawah, gak lihat kamu aku juga basah kuyup." Jawabnya dengan nada mulai kesal.
"Kita mandi sama saja paman. Aku takut di sini ditinggal sendiri."
"Apa...?"
"Koq kaget, dulu juga kita sering mandi sama."
Dug
Bimo terdiam
TBC
__ADS_1
Like komentar positif, vote dan hadiah ya say. Sekalian jangan lupa rate ⭐5 nya.😊🙏