
"Apa yang emas? kotoranmu warna emas?"
Suara tegas penuh amarah itu memenuhi udara. Siapapun yang mendengarnya, akan ter gaskeun...
Rara membalik tubuhnya dengan penuh rasa takut. Suaminya itu kembali marah. Padahal tadi pagi sikapnya sudah sedikit lembut.
Kening Alva mengerut, heran dengan ucapan tak sopannya Bimo. Ngapain bahas kotoran. Emang sih, bisa saja warna kotoran manusia warna emas, seperti kuning. Bisa juga biru atau hitam, misal orang tersebut makan obat.
"Anda bicara dengan kami?" masih bicara sopan, walau sudah terpancing dengan nada bicaranya Bimo.
Alva yang merasa bingung dengan kedatangan Bimo tepat di belakang Rara, perlu mempertegas apa pria yang menyinggung kotoran itu berbicara dengan mereka.
"Ayo pulang..!" menatap Rara yang menunduk. Bimo langsung menggenggam kuat tangan Rara yang tercengang.
Alva memperhatikan pasangan di hadapannya. Belum puas ia bicara dengan Rara.
"Lepaskan tangan kekasihku. Kami belum selesai bicara." menarik tangan Rara dari genggaman Bimo.
Glekk
Rara langsung mendongak menatap Alva dengan frustasinya. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah sang suami. Yang terlihat menahan amarahnya. Wajah tampan putih itu kini memerah seperti kepiting rebus. Dengan rahang yang mengeras.
Mam pus....
Tamatlah riwayatku
"Dia kekasihmu?" menunjuk Alva dan menunjuk Rara, dengan ekspresi wajah menahan amarah itu.
"Ti Dak... Tidak..!" Rara tergagap, kedua tangannya memberikan kode penolakan.
"Sudah dengar jawaban darinya?" menatap tajam Alva yang terpojok itu.
"Ra.... Kamu kenapa berubah. Aku sudah lama mencarimu? kenapa kamu tak mengakui kalau kita pernah menjalin hubungan."
Alva merasa ada yang tak beres dengan wanita dihadapannya. Jadi ia perlu membuat sandiwara. Mengorek apa yang terjadi. Sungguh ia penasaran dengan Rara, saat pandangan pertama.
"Ayo, tak perlu kamu jelaskan di sini. Kamu jelaskan di rumah saja " Bimo langsung mengambil alih bicara, disaat Rara terlihat ingin menjelaskan sesuatu.
"Kamu siapa? kenapa mendoktrin Rara? ku perhatikan kamu seperti Hitler saja memperlakukannya." Menantang tatapan tajamnya Bimo.
__ADS_1
"Ayo pulang!" Menarik kembali Rara, agar pergi dari tempat itu.
"Hei, saya bekum selesai bicara."
Alva menahan bahu Bimo yang kini sudah melangkah kan kakinya.
Buugg...
Satu tinju mendarat di pipi Alva. Bimo tak bisa menahan amarahnya lagi. Pria yang tak dikenalnya menyudutkannya dan sok campur. Mengatakan ia Hitler lah.
Alva memegangi pipinya yang terasa sakit, karena dapat bogem dari Bimo. Matanya seperti elang, tajam siap menerkam.
"Breng....sek..!"
Puukkk..
Tentu saja Alva tak terima dapat tonjokan. Ia membalas memukul kepala Bimo dari samping. Bahkan Bimo merasakan kupingnya berdengung saat kena tonjok.
Suasana di tempat itu semakin tegang. Para pengunjung kini menatap ke arah mereka.
Bimo yang dari tadi berusaha menahan emosinya, kini tak terkendalikan lagi.
"Ayo kita pulang, please...." Bicara dengan membenamkan wajahnya di dada bidangnya Bimo dengan tubuh bergetar. Rara sedang menahan dirinya agar tak menangis histeris. Kenapa perjalanan hidupnya serumit ini.
"Apa.. apa...?" menantang Bimo yang menatapnya tajam. "Gak bersyukur kamu dicintai seperti itu. Ia sampai gak tega lihat kamu babak belur saya buat." Ujar Alva, malah kembali memancing Bimo.
Pria ini, dia pikir dia hebat bisa membuatku babak belur?
Bimo membatin, berusaha mengurai pelukan dari dari tubuh kekarnya yang kini sedang kebakaran jenggot itu.
"Paman... Ayo kita pulang!"
"Apa...? dia pamanmu? astaga.... Terima kasih God. Tadinya aku mikir dia itu suamimu. Ternyata hanya paman. Pantas ia memperlakukanmu kasar. Membuatmu kerja keras jadi waiters."
Rara tambah bingung dengan sikap Alva yang sok campur.
"Kamu terima saja tawaranku. Kamu akan ku buat jadi sukses. Daripada jadi pelayannya. Ku tunggu kabar darimu dalam dua minggu ini."
Alva meninggalkan tempat itu, dengan perasaan kesal. Ia memegangi pipinya yang kini sudah memerah, karena ditonjok Bimo.
__ADS_1
Syukurlah...
Rara menarik napas dalam-dalam. Ia sedikit legah, karena tak terjadi perkelahian sengit. Sempat terjadi perkelahian bisa panjang urusannya. Karena Bimo tipe pria yang tak akan berhenti menyerang sebelum musuh takluk. Ia sama seperti ayahnya Ezra. Sama sama jago dalam ilmu bela diri.
***
"Ayo masuk." membuka pintu mobil.
Rara bingung dengan sikapnya Bimo. Bicaranya sudah mulai lembut.
Huuufftt..
Rara melirik sang suami yang menghela napas berat.
"Kita akan bahas ini di rumah, ku harap kamu tak memberi jawaban yang mengada ada." Kali ini Bimo melirik Rara yang duduk di jok sebelahnya.
"Iya." Jawaban singkat, dengan ekspresi wajah takut.
"Sempat jawabanmu tak masuk akal. Jangan menyesal, aku akan memberimu pelajaran."
"Pelajaran? pelajaran apa?" tanya Rara dengan bodohnya.
"Pelajaran agar kamu tak memanggilku paman lagi!" tegas Bimo dengan berusaha menahan dirinya agar tak tersenyum.
Ia teringat kejadian saat Rara tadi memeluknya erat di rooftop hotel, saat berkelahi dengan pria yang seminggu ini membuntuti istrinya itu.
Rara semakin bingung dengan arah pembicaraan sang suami. Kalau soal panggilan kan itu hanya kebiasaan. Tak perlu dipelajari. Mulai dari sekarang juga bisa di coba memanggil Bimo, bukan dengan sapaan Paman.
"Eemm... Emang pa, paman gak kerja lagi?" tanya Rara penuh kehati-hatian.
"Kerja, kerja in kamu agar jangan panggil paman lagi." Turun dari mobil, berjalan cepat membuka pintu mobil untuk Rara. Mereka sudah sampai di parkiran rumah mereka.
Aneh, ia bilang apa tadi? kerja in aku? kerja in agar aku gak manggil paman? emang ia mau dipanggil apa? PAPAP..?
Rara bingung melihat sikapnya Bimo yang berubah drastis dari semalam. Ekspresi wajahnya juga seperti orang yang sedang jatuh cinta. Senyam senyum sepanjang jalan tadi.
TBC
Kita ada give away loh diakhiri bulan say. Yuk beri vote dan hadiah berupa bunga, hati, kopi, kuris pijat fanl
__ADS_1